Breaking
Memuat breaking news...

Sindikat Penipuan Online Global Mulai Geser Markas ke Sri Lanka, Ini Pemicunya

Qaplo
Qaplo
Selasa, 9 Juni 2026 - 6.40 PM WIB
Sindikat Penipuan Online Global Mulai Geser Markas ke Sri Lanka, Ini Pemicunya
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Qaplo.com - Upaya pemberantasan sindikat penipuan online (online scam) di Asia Tenggara, khususnya Kamboja, rupanya tidak serta-merta menghentikan industri kejahatan siber ini. Para pelaku kini mulai mengalihkan basis operasi mereka ke wilayah baru. Sri Lanka kini mencuat sebagai salah satu markas baru yang diincar oleh jaringan penipuan internasional di Asia.

Langkah relokasi ini terendus setelah aparat keamanan Sri Lanka gencar melakukan operasi penindakan. Sepanjang tahun ini, unit khusus kejahatan siber kepolisian setempat dilaporkan telah mengamankan lebih dari 1.000 orang terduga pelaku. Sebagian besar penangkapan menyasar kawasan wisata di pesisir barat dan ibu kota Colombo.

Faktor Penarik Jaringan Scam di Sri Lanka

Ada beberapa alasan kuat mengapa Sri Lanka kini menjadi destinasi menarik bagi para operator penipuan siber. Negara pulau di Asia Selatan ini menawarkan kebijakan bebas visa bagi sejumlah negara, kemudahan sewa properti seperti apartemen dan gedung perkantoran, serta infrastruktur telekomunikasi yang memadai.

Selain itu, Sri Lanka memiliki sistem transfer uang informal tradisional yang dikenal sebagai Undiyal. Sistem ini mempermudah perputaran dana hasil kejahatan, termasuk transaksi aset kripto, tanpa terdeteksi oleh otoritas keuangan resmi.

Keberadaan komunitas warga asing, khususnya dari China yang menetap di sana karena proyek infrastruktur jangka panjang, juga memudahkan para pelaku untuk berbaur dengan masyarakat setempat tanpa memicu kecurigaan.

Pergeseran Modus Operandi: Lebih Fleksibel dan Tersebar

Berbeda dengan pola di Kamboja atau Myanmar yang mengandalkan kompleks raksasa tertutup, sindikat di Sri Lanka menggunakan pendekatan yang lebih cair. Mereka kini menyewa kamar hotel, apartemen bertingkat, atau ruang kantor biasa yang bisa ditinggalkan sewaktu-waktu jika terendus aparat.

Sebagai contoh, pada April lalu, polisi Sri Lanka menggerebek sebuah properti di pesisir barat dan menemukan lebih dari 150 warga negara asing yang diduga mengoperasikan pusat penipuan siber. Beberapa hari setelahnya, penggerebekan di sebuah apartemen dekat Colombo kembali menjaring 120 warga asing lainnya.

Pola operasi yang tersebar ini membuat pelacakan menjadi jauh lebih menantang bagi penegak hukum setempat karena aktivitas mereka tidak lagi terpusat di satu kawasan besar.

Celah Hukum dan Ancaman Korupsi

Para pengamat memperingatkan bahwa Sri Lanka hanya memiliki waktu terbatas untuk memotong rantai penyebaran ini sebelum terlanjur mengakar kuat. Direktur Center for Investigative Reporting Sri Lanka, Dilrukshi Handunnetti, menyoroti masih lemahnya penegakan hukum terhadap penyalahgunaan visa turis oleh perusahaan-perusahaan terselubung ini.

Selain regulasi yang belum siap menghadapi kejahatan siber modern, ada kekhawatiran mengenai potensi keterlibatan oknum pejabat setempat. Julia Dickson, peneliti dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), menekankan bahwa keberhasilan Sri Lanka dalam menghalau sindikat ini sangat bergantung pada komitmen para pembuat kebijakan.

"Pertanyaannya adalah apakah para pejabat benar-benar ingin bertindak atau justru tergoda mencari keuntungan besar dari industri ilegal ini, seperti yang sempat terjadi di negara lain," ujar Dickson.

Respons Global dan Penyebaran Lintas Batas

Fenomena di Sri Lanka sebenarnya merupakan bagian dari tren global yang lebih luas. Ketika satu wilayah memperketat pengawasan, sindikat penipuan siber akan bermigrasi ke wilayah dengan infrastruktur digital baik namun penegakan hukumnya longgar. Selain Sri Lanka, wilayah seperti Uni Emirat Arab, Timor Leste, Fiji, hingga beberapa negara di Afrika kini mulai menghadapi ancaman serupa.

Pemerintah China, melalui kedutaan besarnya di Colombo, menyatakan terus memantau situasi ini secara ketat mengingat banyak warganya yang menjadi korban maupun terlibat sebagai pelaku. Pihak Interpol juga tengah menyelidiki apakah ada unsur perdagangan manusia dalam gelombang migrasi sindikat kejahatan siber ke Sri Lanka ini.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait