BERLIN — Raksasa industri Jerman Siemens memperingatkan perusahaan-perusahaan agar tidak gegabah menghapus pekerjaan tingkat pemula yang kini makin banyak diambil alih kecerdasan buatan (AI).

Peringatan itu disampaikan Judith Wiese, chief people and sustainability officer Siemens, di tengah perhelatan KTT investasi "Invest in Germany Summit" di Berlin yang dibuka Kanselir Friedrich Merz dengan AI sebagai salah satu fokus utama.

Pekerja Muda Bisa Kehilangan Keterampilan Dasar

Menurut Wiese, jika tugas-tugas rutin diserahkan sepenuhnya kepada AI, pekerja muda tidak akan memperoleh pengalaman langsung yang kelak justru mereka butuhkan dalam karier — termasuk kemampuan menilai hasil kerja yang dihasilkan AI.

Ia mencontohkan para pengembang perangkat lunak: mereka harus tetap bisa menulis kode sendiri agar mampu menilai kode buatan AI secara kritis. Siemens sendiri mempekerjakan sekitar 30.000 insinyur perangkat lunak.

"Pertanyaan kuncinya selalu: apa yang harus saya kerjakan, periksa, dan lihat sendiri agar tidak disesatkan oleh AI?" — Judith Wiese

Produktivitas Bisa Dipakai Dua Arah

Wiese menilai kenaikan produktivitas akibat AI bisa dipakai dua cara: mengerjakan pekerjaan yang sama dengan jumlah orang lebih sedikit, atau menghasilkan lebih banyak dengan jumlah karyawan yang sama.

Ia juga menekankan sisi positif AI: teknologi ini membantu karyawan memperoleh keterampilan lebih cepat, bahkan pekerja senior bisa belajar dari kolega muda yang tumbuh besar bersama AI.

Meski begitu, Wiese menyebut masih terlalu dini untuk menilai dampak AI terhadap lapangan kerja secara keseluruhan. Siemens menegaskan akan terus merekrut dan berinvestasi pada talenta muda.

Sumber: DW News