JAKARTA – Serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada 10 Oktober 2026 membuat sejumlah negara di Asia mengambil langkah waspada terkait perjalanan ke Arab Saudi, termasuk ibadah umrah.

Pemerintah Malaysia mengimbau warganya menunda sementara perjalanan ke Arab Saudi, termasuk untuk menunaikan ibadah umrah. Imbauan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan pada 12 Oktober 2026.

Meskipun belum ada insiden di Makkah, serangan rudal di Riyadh dinilai menimbulkan kekhawatiran keamanan. Pemerintah Malaysia juga menyarankan penundaan perjalanan yang tidak mendesak ke Makkah dan Madinah untuk sementara waktu.

Sementara itu, Dewan Agama Islam Singapura (Majlis Ugama Islam Singapura/MUIS) pada 14 Oktober 2026 meminta umat Muslim Singapura mempertimbangkan penundaan perjalanan umrah selagi risiko keamanan masih tinggi.

Imbauan MUIS menyusul pembaruan imbauan perjalanan Kementerian Luar Negeri Singapura sehari sebelumnya. MUIS kini berkoordinasi dengan agen perjalanan umrah dan mendorong mereka membantu jamaah menunda atau menjadwal ulang perjalanan.

Agen perjalanan juga didesak menawarkan pengaturan yang fleksibel, mengingat jamaah yang sudah memiliki pemesanan dapat terdampak secara finansial.

Indonesia Minta Jemaah Waspada

Berbeda dengan Malaysia dan Singapura, Indonesia tidak mengeluarkan imbauan penundaan. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengimbau jemaah umrah Indonesia, baik yang berada di Arab Saudi maupun yang akan berangkat, untuk meningkatkan kewaspadaan.

Kemenhaj meminta jemaah menghindari lokasi yang berpotensi rawan dan membatasi aktivitas yang tidak mendesak, terutama di kawasan yang terdampak perkembangan situasi keamanan.

Bagi jemaah yang belum berangkat, Kemenhaj mengimbau agar terus memantau perkembangan situasi dan informasi resmi terkait perjalanan.

Sumber: 5 Negara yang Imbau Warganya Menunda Umrah ke Saudi demi Keamanan — Kompas.com