Kemenperin Kembangkan Teknologi Olah Limbah Cair untuk IKM Sasirangan di Kalimantan Selatan

Kementerian Perindustrian tengah memperluas penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan daya saing industri kecil dan menengah (IKM), sekaligus membuat proses produksi lebih efisien dan ramah lingkungan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa transformasi industri seharusnya mampu mendorong produktivitas dan daya saing, sekaligus mendukung proses produksi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Kementerian Perindustrian, menurutnya, terus mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna yang dapat meningkatkan efisiensi produksi sambil memperkuat kelestarian lingkungan — pernyataan ini disampaikan dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

Instalasi Pengolahan Limbah 3.500 Liter di Tapin

Salah satu wujud nyata inisiatif ini adalah pembangunan instalasi pengolahan air limbah berkapasitas 3.500 liter di Sentra IKM Sasirangan Timbaan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Sasirangan sendiri adalah kain khas Kalimantan Selatan yang proses pewarnaannya menghasilkan limbah cair — dan selama ini, limbah tersebut kerap dibuang langsung ke sumur resapan tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu.

Hasil uji laboratorium menunjukkan fasilitas ini mampu menurunkan kadar hidrogen sulfida (H2S) hingga 98,75 persen, minyak dan lemak sebesar 97,33 persen, fenol sebesar 91,66 persen, kebutuhan oksigen biokimia atau BOD sebesar 81,77 persen, kebutuhan oksigen kimia atau COD sebesar 80,44 persen, serta padatan tersuspensi total (TSC) sebesar 40,74 persen.

Sederhananya, angka-angka ini menunjukkan seberapa besar zat pencemar berhasil dihilangkan dari air limbah sebelum dilepas ke lingkungan — dan hampir seluruh parameter tersebut sudah memenuhi baku mutu yang diatur dalam Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 36 Tahun 2008 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 12 Tahun 2025.

Bagian dari Program Percepatan Pemanfaatan Teknologi

Fasilitas ini dikembangkan di bawah Program Percepatan Pemanfaatan Teknologi melalui skema Dana Kemitraan Peningkatan Teknologi Industri (DAPATI), yang bertujuan mempercepat adopsi teknologi sekaligus memperbaiki tata kelola lingkungan di kalangan IKM.

Program ini didukung oleh Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI), yang menyediakan layanan teknologi industri sesuai kebutuhan pelaku usaha di berbagai daerah. Kepala BSKJI, Emmy Suryandari, menekankan bahwa program DAPATI tidak hanya menghasilkan inovasi yang bisa langsung diterapkan, tetapi juga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia agar pelaku industri mampu mengoperasikan teknologi tersebut secara mandiri dan berkelanjutan.

Kepala Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Banjarbaru, Oktaviyanto Jimat Wibowo, menjelaskan bahwa proyek ini bermula dari temuan pembuangan langsung limbah cair pewarnaan kain Sasirangan ke sumur resapan tanpa pengolahan — praktik yang berpotensi mencemari lingkungan sekitar.

Proses Delapan Bulan, Manfaatkan Bahan Lokal

Proyek ini berlangsung selama delapan bulan, dari Maret hingga Oktober 2025, mencakup tahap identifikasi masalah, observasi lapangan, perancangan instalasi pengolahan, pembangunan, bimbingan teknis, hingga pemantauan dan evaluasi.

Instalasi ini berukuran 450 sentimeter panjang, 200 sentimeter lebar, dan 120 sentimeter tinggi, terdiri dari tujuh bak pengolahan. Satu bak menggunakan metode elektrokoagulasi berbantuan inverter untuk mengendapkan logam pada tahap awal, lima bak filtrasi memanfaatkan bahan-bahan seperti serabut ijuk, arang, pecahan genting, sabut kelapa, dan limbah tanaman purun, serta satu bak kontrol sebelum air hasil olahan dialirkan ke sumur resapan.

Pemilihan bahan-bahan filtrasi tersebut bukan tanpa alasan — semuanya tersedia secara lokal dan terbukti mampu menyerap berbagai zat pencemar.

Meski hasilnya sudah cukup menjanjikan, temuan proyek ini juga mencatat satu area yang masih perlu perbaikan: kadar minyak dan lemak dalam air limbah memerlukan waktu tinggal (retention time) yang lebih lama di dalam instalasi pengolahan agar hasilnya bisa lebih optimal.

Inisiatif ini menjadi contoh bagaimana teknologi sederhana berbasis bahan lokal bisa membantu IKM menjalankan usaha secara lebih ramah lingkungan, tanpa harus bergantung pada teknologi mahal yang sulit dijangkau pelaku usaha kecil.