WASHINGTON — Sikap Presiden Donald Trump yang menyepelakan bahaya kecerdasan buatan (AI) mendulang penolakan masif dari kalangan dunia usaha. Dalam sebuah pertemuan tertutup di Washington pekan ini, sebanyak 93 persen eksekutif perusahaan terkemuka Amerika Serikat menyimpulkan Trump keliru saat sebut ancaman katastrofik AI hanya sekadar hoaks.
Penolakan tersebut terungkap lewat jajak pendapat anonim yang digelar Yale School of Management. Forum tersebut dihadiri puluhan petinggi industri luar Silicon Valley, mulai dari produsen perkakas Snap-on, Motorola Solutions, hingga perusahaan manufaktur kaca Corning.
Profesor manajemen Yale sekaligus penyelenggara acara, Jeffrey Sonnenfeld, mengaku terkejut dengan tingginya angka penolakan tersebut.
"Sentimen para eksekutif sangat jelas: ancaman ini nyata," tegas Sonnenfeld.
Meski bersuara bulat dalam polling, mayoritas bos perusahaan memilih bungkam di hadapan publik. Laporan The Wall Street Journal mengungkapkan, para pengusaha enggan bersuara terbuka karena khawatir berseberangan secara politik dengan pemerintahan Trump. Jajak pendapat rahasia menjadi satu-satunya ruang aman bagi mereka untuk meluapkan kekhawatiran.
Dilema Menjelang Pertemuan dengan China
Sikap keras Trump selama ini didasari alasan ekonomi. Ia menolak aturan ketat di tingkat federal karena dinilai bakal membendung inovasi AS dan memberi angin segar bagi China untuk memimpin persaingan.
Pandangan itu berseberangan dengan pelaku industri. Sebanyak 88 persen peserta forum menilai Trump justru harus membawa isu batasan keamanan AI saat bertemu Presiden China Xi Jinping pekan depan. Namun, mereka tidak optimistis. Sekitar 75 persen responden ragu Trump mau mendorong kesepakatan batasan keamanan tersebut.
Di luar forum, sinyal bahaya sebenarnya sudah ditiupkan oleh para raksasa teknologi seperti Anthropic dan OpenAI. Pekan lalu, mereka menyerukan agar pengembangan AI tingkat lanjut mulai diperlambat guna menguji sistem keamanannya.
Salah satu eksekutif yang berani bersuara terbuka, CEO perusahaan tenaga kerja Kelly, Chris Layden, mengingatkan agar pemerintah tidak hanya fokus pada persaingan teknologi.
"Potensi risiko AI dan persaingan dengan China sama-sama harus ditangani. Namun, dampak teknologi ini terhadap nasib lapangan kerja dan tenaga kerja AS jauh lebih mendesak untuk disiapkan," kata Layden.
Pihak Gedung Putih sendiri hingga kini belum memberikan tanggapan resmi atas hasil jajak pendapat maupun desakan para pelaku usaha tersebut.


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda