Selat Hormuz Dibuka Kembali, Pasokan Minyak Melimpah Picu Kekhawatiran Industri Kilang AsiaSelat Hormuz Dibuka Kembali, Pasokan Minyak Melimpah Picu Kekhawatiran Industri Kilang Asia

JAKARTA — Jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz resmi dibuka kembali menyusul tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Imbasnya, gelombang besar pasokan minyak mentah yang sempat tertahan akibat konflik bersenjata sejak akhir Februari lalu kini bersiap membanjiri pasar Asia.
Berdasarkan data Signal Group yang dihimpun per Kamis (18/6), volume minyak mentah yang siap dikirim mencapai 62 juta barel. Pasokan raksasa tersebut saat ini diangkut oleh 31 kapal tanker raksasa (*supertanker*) yang sebelumnya tertahan di kawasan Teluk Persia.
Dilema Kilang Asia di Tengah Melimpahnya Pasokan
Secara hitungan logistik, pengiriman minyak mentah dari kawasan Teluk Persia ini membutuhkan waktu sekitar satu pekan untuk mencapai India. Sementara itu, untuk menjangkau kawasan Asia Timur seperti China dan Jepang, waktu tempuh pelayaran diperkirakan memakan waktu sekitar tiga minggu.
Meski jalur perdagangan telah pulih, kembalinya puluhan juta barel minyak ini justru memicu dilema bagi para pelaku industri hilir migas. Sejumlah pengelola kilang di Asia menyebut bahwa pasokan domestik mereka sebenarnya masih sangat mencukupi hingga bulan depan.
Kondisi pasar saat ini berbalik drastis dibandingkan pada fase awal perang teror akhir Februari lalu. Saat konflik pecah, kepanikan pasar sempat melambungkan harga minyak dunia akibat kecemasan akan kelangkaan pasokan global. Ketika itu, kilang-kilang di Asia terpaksa mengamankan kontrak pembelian dari wilayah jauh seperti AS, bahkan Jepang sampai harus menguras cadangan daruratnya.
Strategi Produsen dan Prediksi Penurunan Harga
Selama jalur utama tersendat, sejumlah produsen raksasa di Teluk Persia seperti Abu Dhabi National Oil Co. (ADNOC) dan Kuwait Petroleum Corp. sebenarnya tetap bergerak aktif. Mereka mengupayakan berbagai celah logistik untuk mengeluarkan sebagian stok aman mereka melalui titik-titik alternatif di Selat Hormuz.
Kini, dengan tumpahan pasokan baru yang masif, para pengelola kilang mulai memutar otak. Mereka dihadapkan pada pilihan sulit: memasukkan pasokan berlebih ini ke dalam tangki-tangki penyimpanan strategis, atau terpaksa memacu kembali kapasitas pengolahan minyak di luar rencana awal.
"Kami berasumsi ekspor dari Teluk Persia akan kembali normal ke level sebelum perang pada akhir Juli," ungkap tim analis dari Goldman Sachs Group Inc dalam catatan resminya.
Menyikapi normalisasi ini, para pelaku pasar global dilaporkan mulai bergerak cepat untuk melepas stok minyak mereka yang tersisa. Langkah obral ini diambil demi menghindari kerugian yang lebih besar sebelum Selat Hormuz beroperasi total, yang diperkirakan bakal menekan harga minyak mentah ke level terendah baru.

Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda