Breaking
Memuat breaking news...

Rusia Bela Uji Rudal China, Sebut Latihan Militer Bersama Bersifat Defensif

Qaplo
Qaplo
Selasa, 7 Juli 2026 - 11.28 AM WIB
Rusia Bela Uji Rudal China, Sebut Latihan Militer Bersama Bersifat Defensif
ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MOSCOW - Rusia menegaskan bahwa uji coba rudal strategis terbaru China dan latihan angkatan laut gabungan Rusia-China tidak ditujukan kepada negara tertentu. Pernyataan tersebut disampaikan Kremlin setelah meningkatnya sorotan terhadap aktivitas militer kedua negara di kawasan Asia-Pasifik.

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan China memiliki hak sebagai negara berdaulat untuk mengembangkan kemampuan pertahanannya, termasuk melakukan pengujian rudal dan modernisasi militer.

Pernyataan itu muncul setelah China meluncurkan rudal balistik dari kapal selam yang bergerak dari Laut China Selatan menuju Samudra Pasifik. Pemerintah China sebelumnya menyebut peluncuran tersebut sebagai bagian dari latihan militer rutin yang telah direncanakan.

"Kami meyakini bahwa itu adalah hak kedaulatan China untuk menguji rudalnya dan mengembangkan kemampuan militernya. China tidak mengancam negara mana pun di kawasan maupun di dunia," kata Peskov dalam konferensi pers di Moskow, Senin.

Hubungan Rusia-China Kian Erat

Kremlin kembali menegaskan bahwa China merupakan salah satu mitra strategis utama Rusia. Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama kedua negara berkembang di berbagai sektor, termasuk perdagangan, energi, teknologi, dan pertahanan.

Menurut Peskov, koordinasi militer antara Moskow dan Beijing dinilai dapat membantu menciptakan lingkungan keamanan yang lebih dapat diprediksi di kawasan. Pernyataan tersebut merupakan posisi resmi Rusia terkait hubungan pertahanannya dengan China.

Di sisi lain, sejumlah negara Barat terus memantau perkembangan kemampuan militer China dan semakin eratnya hubungan pertahanan Beijing-Moskow. Perhatian tersebut muncul seiring meningkatnya modernisasi militer dan dinamika keamanan di kawasan Asia-Pasifik.

Latihan Joint Sea-2026 Digelar di Laut Kuning

Selain membahas uji rudal China, Peskov juga menyinggung latihan angkatan laut gabungan Maritime Interaction-2026 atau Joint Sea-2026 yang berlangsung pada 6–13 Juli.

Latihan tersebut digelar di Laut Kuning dan wilayah udara sekitar Qingdao, salah satu kota pelabuhan utama di pesisir timur China. Kawasan ini memiliki arti strategis karena menjadi jalur perdagangan dan pelayaran penting di Asia Timur.

Menurut Kremlin, latihan tersebut bersifat defensif dan tidak dirancang untuk menghadapi negara tertentu.

"Latihan gabungan kami juga tidak ditujukan kepada siapa pun atau terhadap negara mana pun di kawasan," ujar Peskov.

Latihan Joint Sea merupakan agenda rutin yang telah beberapa kali dilakukan kedua negara dan biasanya melibatkan kapal perang, pesawat patroli, serta simulasi operasi maritim.

Mengapa Uji Rudal Ini Menjadi Sorotan?

Rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam merupakan salah satu komponen penting dalam sistem pertahanan strategis modern. Kemampuan peluncuran dari bawah laut membuat sistem ini lebih sulit dideteksi dibanding peluncuran dari daratan.

Karena memiliki jangkauan jauh dan nilai strategis tinggi, setiap pengujian rudal semacam ini biasanya mendapat perhatian dari negara-negara lain, terutama ketika dilakukan oleh kekuatan militer besar.

Aktivitas militer Rusia dan China juga berlangsung ketika hubungan antara sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat, China, dan Rusia, masih diwarnai persaingan di bidang keamanan dan pengaruh kawasan.

Kremlin Singgung Komunikasi Putin dan Trump

Dalam konferensi pers yang sama, Peskov turut menyinggung percakapan telepon antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berlangsung pekan lalu.

Menurutnya, komunikasi tersebut memberikan kesempatan bagi Moskow untuk menyampaikan pandangannya terkait konflik Ukraina secara langsung kepada Washington.

Peskov mengatakan terdapat pemahaman bahwa komunikasi antara kedua pemimpin akan berlanjut dalam waktu dekat, meski belum ada rincian resmi mengenai agenda pembicaraan berikutnya.

Dampak bagi Kawasan

Hingga kini belum ada indikasi bahwa uji rudal China maupun latihan Joint Sea-2026 memicu perubahan langsung terhadap situasi keamanan internasional.

Meski demikian, aktivitas militer yang melibatkan negara-negara besar tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi keamanan dan keseimbangan strategis di kawasan Asia-Pasifik.

Karena itu, transparansi militer dan komunikasi diplomatik dinilai penting untuk mengurangi risiko salah perhitungan yang dapat meningkatkan ketegangan di tengah persaingan geopolitik yang masih berlangsung.

Sejumlah pemerintah dan pengamat keamanan diperkirakan akan terus mencermati hubungan Rusia, China, dan Amerika Serikat karena ketiga negara memiliki pengaruh besar terhadap dinamika keamanan global.

sumber: anadolu

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait