JAKARTA — Rupiah membuka perdagangan Kamis (3/9/2026) dengan menguat 0,25% ke posisi Rp17.705 per dolar AS, membalikkan pelemahan sehari sebelumnya yang sempat menyentuh Rp17.765. Penguatan ini terjadi seiring koreksi indeks dolar AS (DXY), yang menurut data Refinitiv melemah 0,08% ke level 99,502 pada pukul 09.00 WIB.
Ruang gerak rupiah pagi ini memang terbuka, tapi jangan buru-buru optimistis. Tekanan dari luar masih besar, dan sumbernya bukan cuma satu faktor.
Dolar Sempat Perkasa, Dipicu Konflik AS–Iran
Sebelum terkoreksi pagi ini, dolar AS sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Pemicunya adalah memanasnya kembali konflik antara AS dan Iran, yang mendorong harga minyak naik dan memunculkan kekhawatiran baru soal inflasi global.
Kenaikan harga minyak biasanya justru menguntungkan dolar. Alasannya, ekonomi AS dianggap lebih tahan terhadap guncangan harga energi dibanding banyak negara maju lain, sehingga investor cenderung memarkir dana di dolar sebagai aset aman.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Melonjak
Faktor lain yang menekan rupiah adalah perbedaan arah kebijakan moneter antarnegara maju. Bank Sentral Eropa diperkirakan mendekati akhir siklus kenaikan suku bunga, sementara The Federal Reserve masih membuka peluang pengetatan lanjutan.
Berdasarkan data CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September mencapai 68% — melonjak tajam dari sekitar 40% pada pekan sebelumnya. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun pun sempat naik ke 4,8182%, level tertinggi sejak November 2023, yang membuat instrumen keuangan AS makin diminati investor global.
Meski begitu, ada juga faktor yang bisa menahan laju penguatan dolar: aksi jual obligasi AS yang dipicu kekhawatiran soal inflasi dan kondisi fiskal negara itu sendiri. Beban utang yang membengkak dan tekanan harga yang bertahan tinggi mulai memunculkan keraguan atas daya tarik aset AS dalam jangka panjang.
Gubernur BI Baru: Dunia Masih di Fase "Higher for Longer"
Di tengah dinamika ini, Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031 Destry Damayanti — yang baru saja diambil sumpah jabatannya di Mahkamah Agung, Rabu (2/9/2026) — menyampaikan bahwa perekonomian global masih berada dalam fase suku bunga, inflasi, dan imbal hasil obligasi yang bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
"Kita memang menghadapi situasi higher for longer," kata Destry, seraya menambahkan bahwa asesmen terbaru BI sejalan dengan pengamatan tersebut.
Menurutnya, kondisi global semacam ini berpotensi menekan negara berkembang, termasuk Indonesia, dan akan menjadi salah satu pertimbangan utama BI dalam merumuskan kebijakan domestik ke depan. Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, ia menegaskan stabilitas nilai tukar, inflasi, dan sistem keuangan tetap menjadi fokus utama BI sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi.


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda