Breaking
Memuat breaking news...

Rupiah Melemah usai Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur, Pengamat Soroti Pentingnya Independensi Bank Sentral

Redaksi
Redaksi
Minggu, 2 Agustus 2026 - 5.09 PM WIB
Rupiah Melemah usai Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur, Pengamat Soroti Pentingnya Independensi Bank Sentral
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pada akhir Juli lalu masih membayangi pergerakan pasar keuangan dalam negeri. Nilai tukar rupiah tercatat melemah, sementara pelaku pasar mulai menakar arah kebijakan moneter di bawah kepemimpinan baru bank sentral.

Perry resmi menyampaikan surat pengunduran diri pada Sabtu (25/7), namun kabar ini baru diumumkan pemerintah dua hari kemudian. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi Presiden Prabowo Subianto telah menerima surat tersebut, sekaligus menyampaikan apresiasi atas pengabdian Perry yang memimpin BI selama hampir tujuh tahun. Alasan pengunduran diri disebut bersifat pribadi, tanpa rincian lebih lanjut baik dari pemerintah maupun BI sendiri.

Sesuai mekanisme yang diatur Undang-Undang Bank Indonesia, posisi gubernur untuk sementara dijalankan Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sambil menunggu proses penetapan gubernur definitif oleh Presiden bersama DPR. Yang perlu dicatat, Perry mundur sebelum periode kedua masa jabatannya berakhir pada 2028, sehingga kepergiannya tergolong di luar kelaziman rotasi kepemimpinan bank sentral yang biasanya berjalan sesuai jadwal.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai pelemahan nilai tukar rupiah setelah pengunduran diri Perry mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar. Menurut catatannya, rupiah bergerak melemah dari kisaran Rp17.900 menjadi sekitar Rp18.100 per dolar Amerika Serikat, pergerakan yang menurutnya terjadi di tengah minimnya sentimen ekonomi global yang signifikan—sehingga lebih mencerminkan ketidakpastian dari sisi domestik.

Gunawan menyebut pengunduran diri Gubernur BI memperburuk sentimen pasar, apalagi bersamaan dengan memanasnya kembali konflik di Timur Tengah. Pelaku pasar, menurutnya, kini harus beradaptasi dengan arah kebijakan calon pemimpin baru yang akan mengisi kursi Gubernur BI. Ia menambahkan, rekam jejak sosok pengganti Perry memang akan jadi perhatian investor, namun yang lebih krusial adalah memastikan independensi BI sebagai otoritas moneter tetap terjaga, baik dari sisi kebijakan maupun penempatan sumber daya manusia di dalamnya.

Perlu digarisbawahi, pergerakan spesifik rupiah bisa sedikit berbeda tergantung waktu pengambilan data dan sumbernya, mengingat nilai tukar bergerak setiap saat sepanjang hari perdagangan. Angka yang disebutkan di atas merupakan pengamatan Gunawan sendiri, bukan patokan resmi tunggal dari Bank Indonesia.

Menariknya, sejumlah ekonom lain memberikan sudut pandang yang sedikit berbeda soal akar pelemahan rupiah ini. Pengamat Ekonomi Universitas Andalas, Syarifudin Karimi, misalnya, menilai belum ada bukti publik yang cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa pengunduran diri Perry semata dipicu oleh tekanan terhadap rupiah, mengingat pemerintah maupun BI hanya menyebut "alasan pribadi" tanpa rincian lebih jauh.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, punya penekanan berbeda soal penyebab pelemahan rupiah itu sendiri. Ia menyoroti tensi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran, ditambah rasio utang pemerintah yang berada di kisaran 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto, sebagai faktor yang turut menekan nilai tukar rupiah belakangan ini. Dengan kata lain, pelemahan rupiah kemungkinan besar merupakan hasil kombinasi banyak faktor, bukan semata akibat pergantian pucuk pimpinan BI.

Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas, Rangga Cipta, turut menekankan bahwa persoalan sesungguhnya bukan sekadar pengunduran diri Perry, melainkan bagaimana independensi bank sentral tetap terjaga ke depannya—mengingat masa jabatan tetap seorang gubernur pada dasarnya dirancang untuk melindunginya dari tekanan politik jangka pendek.

Gunawan juga menyoroti persepsi sebagian pelaku pasar yang menilai kebijakan moneter belakangan ini lebih banyak mengakomodasi kebutuhan fiskal pemerintah, terutama lewat langkah menjaga likuiditas di pasar surat utang negara yang dinilai turut menopang pembiayaan pemerintah.

Menurutnya, defisit anggaran bukan berarti selalu berdampak negatif. Namun pemerintah tetap perlu menyusun skala prioritas belanja yang tepat agar manfaatnya lebih besar dirasakan masyarakat—dengan menjaga daya beli publik dinilai memiliki urgensi lebih tinggi dibanding memulai proyek strategis baru yang belum tentu memberi efek pengganda optimal maupun kepastian keberlanjutan.

Ia mengibaratkan hubungan kebijakan moneter dan fiskal seperti pedal gas dan rem pada kendaraan: kebijakan fiskal mendorong laju pertumbuhan ekonomi, sementara kebijakan moneter menjaga agar laju tersebut tetap terkendali.

Keduanya, menurut Gunawan, tidak harus selalu bergerak searah, tapi harus saling melengkapi demi menjaga stabilitas ekonomi nasional. Jika stabilitas terlalu bergantung pada kebijakan moneter tanpa diimbangi penguatan sisi fiskal, investor bisa menilai daya tahan ekonomi Indonesia jadi lebih terbatas.

Proses penetapan Gubernur BI definitif masih berjalan sesuai mekanisme Undang-Undang Bank Indonesia, melibatkan Presiden dan DPR. Sampai proses ini rampung, pasar kemungkinan akan terus mencermati dua hal sekaligus: siapa sosok yang akhirnya dipilih memimpin BI, dan seberapa kuat jaminan bahwa proses suksesi ini benar-benar bebas dari tekanan politik jangka pendek.

Belum ada informasi resmi soal kapan proses penunjukan gubernur definitif akan selesai. Yang jelas, sejumlah pengamat sepakat bahwa independensi BI—terlepas dari siapa pun yang akhirnya memimpin—akan tetap jadi indikator utama yang dipantau investor global dalam menilai kredibilitas kebijakan moneter dan stabilitas ekonomi Indonesia ke depan.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait