Rupiah Melemah ke Rp18.083, Pasar Tunggu Sikap The Fed dan Kejelasan Gubernur BI

QAPLO - Rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Selasa (28/7). Mengutip data yang disampaikan analis pasar uang Ibrahim Assuaibi, mata uang Garuda ditutup di level Rp18.083 per dolar AS, melemah 74 poin atau 0,41 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp18.009.
Pelemahan ini bukan kejutan besar. Pasar sedang menahan napas menjelang keputusan suku bunga The Fed yang akan diumumkan Rabu (29/7). Menurut Ibrahim, ekspektasi pasar cenderung mengarah pada satu skenario: suku bunga acuan AS kemungkinan besar tidak akan diubah.
"Federal Reserve diperkirakan secara luas akan mempertahankan suku bunga pada hari Rabu (29/7)," ujarnya kepada ANTARA di Jakarta.
Perkiraan itu bukan tanpa dasar. Data dari CME FedWatch menunjukkan probabilitas sekitar 62 persen bagi skenario suku bunga tetap. Angka itu memang belum bisa disebut solid, mengingat situasi geopolitik di Timur Tengah masih berpotensi mengubah kalkulasi The Fed kapan saja. Harga minyak dunia, misalnya, sempat melonjak sekitar 20 persen hanya dalam dua pekan, dipicu saling serang antara Amerika Serikat dan Iran terkait kendali atas Selat Hormuz, jalur pelayaran yang selama ini jadi urat nadi pengiriman minyak global.
Bayang-Bayang Sikap Hawkish Kevin Warsh
Selain data probabilitas, ada satu faktor lain yang membuat pasar was-was: gaya komunikasi Ketua The Fed Kevin Warsh. Sejak keputusan suku bunga terakhir pada Juni, Warsh dikenal cukup hawkish dalam pernyataannya. Ia berulang kali menegaskan komitmen Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menjaga stabilitas harga sebagai prioritas.
Warsh juga baru saja meluncurkan tinjauan menyeluruh terhadap cara kerja bank sentral AS, dengan membentuk lima gugus tugas yang menangani berbagai aspek operasional The Fed, termasuk cara Fed berkomunikasi ke publik dan kerangka kerja pencapaian target inflasi. Bagi pelaku pasar, ini artinya arah kebijakan moneter AS bulan ini masih jauh dari kata pasti, meski konsensus sementara condong ke opsi menahan suku bunga.
Sentimen Dalam Negeri: Kekosongan Kursi Gubernur BI
Di sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga tak lepas dari gejolak internal Bank Indonesia. Pengunduran diri mendadak Perry Warjiyo dari kursi Gubernur BI sempat direspons negatif oleh pasar. Wajar saja—pergantian kepemimpinan yang tiba-tiba di bank sentral datang di saat yang kurang menguntungkan: rupiah sedang terdepresiasi, dana asing terus mengalir keluar, dan ada bayang-bayang tren kenaikan suku bunga global.
Namun, kabar penunjukan Destry Damayanti sebagai pengganti sementara memberi sedikit angin segar. Ibrahim menilai langkah ini menumbuhkan optimisme bahwa bank sentral tetap punya komitmen menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, dan merawat stabilitas sistem keuangan meski dalam masa transisi.
"Penunjukan Destry Damayanti memberi optimisme pasar akan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan laju inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan yang berkelanjutan," kata Ibrahim.
Fokus pasar selanjutnya akan bergeser ke satu pertanyaan besar: siapa yang akan ditunjuk sebagai Gubernur BI definitif, dan seberapa mulus proses itu berjalan. Kredibilitas serta independensi bank sentral dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan moneter dipertaruhkan di sini—dan itu langsung bersinggungan dengan kepercayaan pasar terhadap rupiah ke depan.
S&P Global Ratings: Belum Ada Dampak Langsung ke Peringkat Sovereign
Pergantian kepemimpinan BI juga sampai ke meja lembaga pemeringkat internasional. Menurut Ibrahim, yang mengutip laporan Bloomberg, Sovereign Analyst S&P Global Ratings Rain Yin menyampaikan bahwa pengunduran diri Perry Warjiyo dinilai tidak berdampak langsung terhadap peringkat sovereign Indonesia.
Meski begitu, Rain Yin mengingatkan bahwa peristiwa ini tetap bisa berkontribusi pada meningkatnya risiko persepsi pasar terhadap prospek kebijakan negara ke depan.
Dengan kata lain, belum ada ancaman langsung ke rating utang Indonesia. Tapi ketidakpastian soal arah kepemimpinan bank sentral tetap jadi variabel yang diawasi lembaga pemeringkat global.
Kurs JISDOR Ikut Melemah
Tekanan serupa juga terlihat pada Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), acuan kurs tengah yang dirilis Bank Indonesia setiap hari kerja. Pada perdagangan hari ini, JISDOR tercatat di level Rp18.088 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya di Rp17.995.
Dengan dua sentimen besar yang masih bergulir bersamaan—keputusan The Fed dan proses suksesi Gubernur BI—arah rupiah dalam beberapa hari ke depan kemungkinan masih akan ditentukan oleh perkembangan di kedua front tersebut.
Sumber: ANTARA
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda