Rupiah Melemah ke Rp17.813 per Dolar AS, Terseret Konflik Timur Tengah dan Sentimen MSCIRupiah Melemah ke Rp17.813 per Dolar AS, Terseret Konflik Timur Tengah dan Sentimen MSCI

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Senin pagi (22/6/2026). Mata uang Garuda merosot 9 poin atau sekitar 0,05 persen ke posisi Rp17.813 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.804 per dolar AS.
Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah kali ini utamanya dipicu oleh faktor eksternal, yakni lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga komoditas energi tersebut terjadi di tengah memanasnya kembali geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Lebanon.
Ancaman Trump dan Batalnya Perundingan di Swiss
Eskalasi ketegangan bermula dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menyerang Lebanon jika kelompok Hizbullah tidak menghentikan serangan terhadap Israel. Ancaman tersebut berdampak langsung pada agenda diplomasi global. Perundingan tertutup antara delegasi AS dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar di kawasan resor Burgenstock, Swiss, terancam bubar.
Berdasarkan laporan kantor berita Sputnik, delegasi Iran memilih walkout atau meninggalkan meja perundingan pada Minggu (21/6/2026). Langkah ini diambil sebagai bentuk protes keras atas sikap Trump yang juga mengancam akan menyerang Teheran jika gagal meredam kelompok pro-Iran di Lebanon. Merespons situasi tersebut, Ketua Tim Negosiasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan AS agar menjaga bicaranya dan menegaskan bahwa militer Iran dalam posisi siap siaga menghadapi segala ancaman.
Kondisi ini diperkirakan terus menekan nilai tukar sepanjang hari. Rully memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan hari Senin ini akan berada di kisaran Rp17.780 hingga Rp17.830 per dolar AS.
Pasar Mencermati Evaluasi Risiko dari MSCI
Selain faktor geopolitik global, pergerakan aset dalam negeri juga dibayangi oleh sentimen dari lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI). Investor saat ini tengah bersikap hati-hati menantikan pengumuman Annual Market Classification Review yang dijadwalkan rilis pada Selasa (23/6/2026) malam waktu AS.
Pihak MSCI akan mengevaluasi kondisi ekonomi Indonesia secara mendalam, mencakup aspek transparansi informasi, tata kelola, hingga risiko politik dan ekonomi. Pasar khawatir status pasar saham Indonesia akan diturunkan (downgrade) dari kelompok Emerging Markets (pasar berkembang) menjadi Frontier Markets (pasar perintis yang dinilai kurang matang dan aksesibilitasnya terbatas).
Rully melihat ada potensi penurunan status tersebut, khususnya terkait kebijakan tata niaga ekspor komoditas strategis yang rencananya akan dipusatkan melalui satu pintu lembaga pemerintah.
"Tata kelolanya dinilai sangat berisiko karena perangkat peraturan dan perundang-undangan pendukungnya belum diperbarui. Saat ini, koridor yang digunakan masih mengacu pada Undang-Undang Penanaman Modal yang lama," ujar Rully.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia dilaporkan tengah menyiapkan sejumlah paket insentif fiskal dan ekonomi untuk mendongkrak daya beli masyarakat serta meredam sentimen negatif dari pasar eksternal. Efektivitas stimulus domestik ini akan menjadi faktor kunci penahan koreksi rupiah lebih lanjut di tengah ketidakpastian global yang tinggi.

Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda