Gaya Hidup Mewah, Uang Investor Raib: Kisah Dua "Pakar Finansial" yang Menghilang di Singapura

Lebih dari 50 investor di Singapura kini berjuang memperjuangkan nasib dana mereka, setelah dua pria yang mengaku sebagai pakar finansial dilaporkan menghilang usai sekitar tiga tahun merayu publik untuk menanamkan modal dalam berbagai kesepakatan bisnis yang kini dipertanyakan keabsahannya. Total dana yang diinvestasikan diperkirakan mencapai 5 juta dolar Singapura, atau sekitar Rp70 miliar.

Dikutip dari Mothership, Selasa (1/9/2026), kedua pria tersebut — Lim Jian Bin (36) dan Jason Fong Wai Hong (46) — dikenal kerap tampil dengan mobil Lamborghini dan jam tangan mahal saat menemui calon investor. Lewat media sosial dan seminar-seminar kekayaan, keduanya menjanjikan imbal hasil tetap hingga 15 persen per tahun kepada para calon investor. Namun, keduanya resmi dinyatakan bangkrut pada April dan Juli 2026.

Fong sendiri diketahui terbang ke Kuala Lumpur pada 21 Juni dan belum kembali ke Singapura sejak saat itu. Pihak kepolisian mengonfirmasi penyelidikan atas kasus ini tengah berlangsung, menyusul laporan resmi yang diajukan sejumlah korban terhadap keduanya.

Profil Kedua Sosok

Di dunia maya, Lim — yang juga dikenal dengan nama Takeshi Lim — mencitrakan dirinya sebagai mantan pengemudi taksi daring (PHV) yang berhasil bertransformasi menjadi pengusaha sukses. Sementara itu, Fong tercatat sebagai direktur sekaligus pemegang saham di enam perusahaan yang bergerak di bidang jasa konsultasi, ritel, dan pusat kebugaran.

Lim menyebut Fong sebagai mentornya. Keduanya tercatat sebagai mitra bisnis yang bersama-sama menjalankan waralaba perawatan wajah asal Korea sejak April 2023. Dalam unggahan Facebook yang kini sudah dihapus, Lim sempat membagikan foto keduanya berdiri di depan deretan mobil Lamborghini saat menghadiri acara kumpul mobil supercar di Kuala Lumpur.

Skema Mesin Penjual Otomatis Nozomii Vending

Salah satu skema yang dijalankan Lim adalah ajakan investasi pada bisnis mesin penjual otomatis bernama Nozomii Vending, yang disebut mengoperasikan lebih dari 500 unit mesin dengan janji imbal hasil 5 hingga 10 persen per tahun. Sejak 2023, lebih dari 40 investor dilaporkan menyetorkan dana hingga total 4 juta dolar Singapura atau sekitar Rp56 miliar ke bisnis ini.

Salah satu penasihat keuangan yang menginvestasikan 484.300 dolar Singapura (sekitar Rp6,78 miliar) — di mana lebih dari separuhnya berasal dari pinjaman bank — mengungkapkan bahwa imbal hasil pada awalnya memang dibayarkan tepat waktu, sebelum melambat dan akhirnya berhenti sama sekali. Penasihat keuangan yang sama, dengan sisa dana 196.000 dolar Singapura (sekitar Rp2,74 miliar) masih tertanam di bisnis tersebut, mengaku sama sekali tak bisa menghubungi Lim sejak Juli.

Setelah dinyatakan bangkrut, Lim dilaporkan mengirim pesan kepada sejumlah investornya, mengklaim dirinya sempat menghadapi pelecehan dan sabotase sebelum akhirnya bisnisnya gagal. Dalam pesan tersebut ia menyampaikan rasa malu dan bersalah kepada para investornya.

Skema Investasi Properti Komersial

Selain bisnis mesin otomatis, Lim dan Fong juga dilaporkan menjalankan skema investasi properti komersial secara terpisah. Lim menawarkan bunga 5 persen per tahun untuk investasi properti industri selama tiga tahun.

Sementara itu, Fong dilaporkan menawarkan investasi pada sebuah properti seluas 134 meter persegi di Telok Blangah Heights, dengan tujuh orang investor menyetorkan total 390.000 dolar Singapura (sekitar Rp5,46 miliar). Properti tersebut kini dilaporkan hanya ditempati sebuah layanan laundry tanpa operator.

Salah satu korban mengaku mengenal Fong dan tawaran investasi properti ini dari sebuah seminar kekayaan finansial pada 2022. Fong dilaporkan menjanjikan dividen tahunan sebesar 15 persen atas investasi senilai 50.000 dolar Singapura (sekitar Rp700 juta), yang menurut korban tersebut sempat dibayarkan tepat waktu selama dua tahun pertama sejak 2023. Laporan polisi turut menyebutkan sejumlah korban lain yang masing-masing menginvestasikan 100.000 dolar Singapura (sekitar Rp1,4 miliar) pada properti yang sama.

Ketika para investor mulai mendesak Fong soal dividen yang tak lagi dibayarkan pada 2025, ia dilaporkan memilih menghilang dan keluar dari grup percakapan WhatsApp bersama para investor pada September tahun yang sama. Mantan istri Fong, yang kini mengambil alih salah satu perusahaannya, sempat mengirim pesan kepada para investor untuk meyakinkan bahwa dana mereka di properti tersebut akan dikembalikan, sembari meminta tambahan waktu.

Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan kepolisian, sehingga status hukum kedua pria tersebut belum final. Yang sudah pasti secara fakta: keduanya telah resmi dinyatakan bangkrut, dan sejumlah korban telah mengajukan laporan resmi ke polisi. Bagi masyarakat, kasus ini menjadi pengingat penting untuk tidak mudah tergiur oleh citra kemewahan dan janji imbal hasil tinggi yang konsisten — terutama ketika ditawarkan lewat media sosial dan seminar kekayaan finansial tanpa verifikasi yang memadai.