Badan Industri Mineral (BIM) mengidentifikasi potensi besar Logam Tanah Jarang (LTJ) — kelompok logam yang jadi bahan baku penting teknologi masa depan seperti kendaraan listrik dan turbin angin — yang tersimpan pada sisa pembakaran lebih dari 250 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di seluruh Indonesia.

Potensi ini mencakup kandungan monasit, senotim, ion-adsorbed clay (IAC) atau tanah liat penyerap ion, hingga fly ash dan bottom ash (FABA) — istilah untuk abu terbang dan abu dasar, sisa pembakaran batu bara di PLTU yang selama ini lebih dikenal sebagai limbah, ketimbang sumber daya berharga.

Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM, Yogi Wibisono Budhi, menjelaskan bahwa sumber sekunder dari operasional PLTU menjadi salah satu fokus pemetaan sumber daya mineral strategis nasional. Dalam acara 36 Tahun Dirgahayu Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di JIExpo, Kamis (10/9/2026), ia menyebut Indonesia memiliki cadangan monasit, senotim, dan IAC di kawasan Mamuju, ditambah red mud (lumpur merah sisa pengolahan bauksit) serta FABA di lebih dari 250 PLTU yang tersebar di seluruh negeri — semuanya mengandung logam tanah jarang yang menurutnya masih menjadi tantangan tersendiri untuk bisa dimanfaatkan secara optimal.

Tiga Sumber Perolehan LTJ

Yogi menjelaskan, LTJ sebenarnya bisa diperoleh dari tiga jenis sumber: primer (tambang langsung), sekunder (limbah industri seperti PLTU), hingga tersier. Pemanfaatan sisa hasil tambang dan industri ini dinilai penting mengingat kebutuhan mineral — termasuk LTJ — untuk teknologi masa depan terus meningkat pesat.

Mengutip data International Energy Agency (IEA), Yogi menyebut kebutuhan mineral untuk kendaraan listrik meningkat enam kali lipat, sementara untuk pembangkit listrik tenaga angin darat meningkat sembilan kali lipat dibanding sistem pembangkit berbasis gas. Ia menegaskan pergeseran menuju sumber daya mineral yang bisa diubah menjadi logam tanah jarang akan menjadi kekuatan yang sangat penting untuk dipertimbangkan ke depan.

Kenapa LTJ Sulit Diolah?

Logam Tanah Jarang terdiri dari 17 unsur logam yang berada dalam satu golongan di tabel periodik unsur kimia — kemiripan sifat kimia antarunsur inilah yang membuat proses memisahkan masing-masing unsur menjadi bentuk tunggal (single element) memiliki tantangan teknis yang tinggi.

Beberapa unsur seperti neodymium (Nd), praseodymium (Pr), dysprosium (Dy), terbium (Tb), dan yttrium (Y) dibutuhkan sebagai bahan baku magnet permanen pada motor kendaraan listrik dan turbin angin. Sementara itu, scandium dibutuhkan sebagai bahan campuran (paduan) aluminium untuk meningkatkan kekuatan materialnya.

Persaingan Global Bergeser ke Rantai Pasok

Indonesia melirik peningkatan potensi LTJ dalam negeri seiring meningkatnya minat global terhadap "harta karun" ini. Yogi menjelaskan persaingan global kini telah bergeser: bukan lagi sekadar soal siapa yang punya cadangan LTJ paling banyak, melainkan bagaimana rantai pasok (supply chain) — dari penambangan, ekstraksi, pemurnian, hingga produk jadi — bisa dibangun secara utuh di dalam negeri.

Ia juga menyoroti risiko ekonomi jika Indonesia hanya mengekspor bahan mentah, lalu mengimpor kembali dalam bentuk produk jadi. Praktik semacam ini, menurutnya, berpotensi menimbulkan kerugian hingga ribuan triliun rupiah bagi negara, akibat hilangnya nilai tambah yang seharusnya bisa dinikmati di dalam negeri.

Kolaborasi Lintas Lembaga sebagai Solusi

Untuk mengatasi tantangan ini, BIM akan mengorkestrasi kerja sama antara kementerian, lembaga, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perguruan tinggi, dan industri pertambangan, guna mempercepat riset ekstraksi dan pemurnian LTJ di dalam negeri.

Yogi menegaskan peran BIM di sini adalah memotong kesenjangan (gap) antara hasil riset di perguruan tinggi dan lembaga riset seperti BRIN, dengan kebutuhan riil industri — dengan kata lain, menjembatani agar temuan riset di laboratorium benar-benar bisa diaplikasikan dalam skala industri.

Potensi LTJ dari limbah PLTU ini menawarkan peluang ganda bagi Indonesia: mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor untuk teknologi masa depan, sekaligus memanfaatkan sesuatu yang selama ini dianggap sekadar limbah industri. Namun realisasinya masih bergantung pada seberapa cepat riset ekstraksi dan pemurnian bisa dikembangkan, mengingat tantangan teknis memisahkan 17 unsur logam tanah jarang ini bukan perkara sederhana.