Breaking
Memuat breaking news...

Rincian Wilayah Terdampak Karhutla Riau: Bengkalis dan Pelalawan Paling Luas Terbakar

Qaplo
Qaplo
Jumat, 17 Juli 2026 - 8.51 AM WIB
Rincian Wilayah Terdampak Karhutla Riau: Bengkalis dan Pelalawan Paling Luas Terbakar
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PEKANBARU - Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau sepanjang semester pertama 2026 tercatat mencapai 15.477,9 hektare, berdasarkan data Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Angka ini merupakan akumulasi kejadian karhutla di seluruh kabupaten dan kota di Riau selama periode 1 Januari hingga 30 Juni 2026.

Kepala Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa data tersebut disusun dari hasil perhitungan dan analisis citra satelit yang dikerjakan secara kolaboratif oleh Kemenhut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Kementerian Lingkungan Hidup (KemenLH). "Berdasarkan karakteristik tanahnya, kebakaran masih didominasi oleh wilayah lahan gambut dengan rincian luas mencapai 14.227,3 hektare dan tanah mineral seluas 1.250,7 hektare," katanya dalam keterangan yang diterima di Pekanbaru, Jumat.

Dominasi lahan gambut dalam data ini bukan kebetulan. Gambut adalah tanah yang terbentuk dari tumpukan bahan organik setengah membusuk selama ribuan tahun, sehingga sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan karena api bisa merambat di bawah permukaan tanah, bukan hanya di atasnya. Karakteristik inilah yang membuat kebakaran di lahan gambut jauh lebih sulit dikendalikan dibanding kebakaran di tanah mineral biasa, dan sering menjadi sumber utama kabut asap yang menyebar ke wilayah lain.

Dari sisi sebaran wilayah, Kabupaten Bengkalis berada di angka tertinggi dengan luasan terbakar 8.239,5 hektare, atau lebih dari separuh total karhutla Riau semester ini. Kabupaten Pelalawan menyusul di posisi kedua dengan 4.582,0 hektare. Kedua kabupaten ini bersama-sama menyumbang sekitar 83 persen dari total luas karhutla di seluruh provinsi.

Wilayah lain juga terdampak cukup signifikan, meski jauh di bawah dua kabupaten teratas. Kabupaten Indragiri Hilir berada di angka 956,6 hektare, Kota Dumai 607,1 hektare, Kabupaten Rokan Hilir 289,6 hektare, dan Kabupaten Siak 281,1 hektare. Empat wilayah lain menyentuh luasan di bawah 200 hektare: Kepulauan Meranti (199,3 hektare), Kuantan Singingi (103,1 hektare), Kampar (90,1 hektare), dan Indragiri Hulu (80,7 hektare). Luasan terkecil ada di Kabupaten Rokan Hulu dengan 40,5 hektare dan Kota Pekanbaru dengan 8,4 hektare.

Ferdian menegaskan bahwa data ini semestinya tidak hanya dibaca sebagai angka statistik. "Kembali lagi tentunya ini bukan hanya masalah angka, namun perlu menjadi perhatian dan pembelajaran penting agar semua bahu membahu untuk terus mencegah karhutla dan merespons sedini mungkin apabila terjadi karhutla di wilayahnya," ujarnya.

Konsentrasi karhutla di lahan gambut Bengkalis dan Pelalawan patut jadi perhatian khusus karena berisiko menimbulkan kabut asap lintas wilayah, yang berdampak langsung pada kualitas udara di Riau maupun provinsi tetangga. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan menjadi pihak yang paling merasakan dampak kesehatan bila kabut asap kembali muncul di musim kemarau.

Data yang dipilah berdasarkan jenis tanah dan wilayah administratif ini juga berpotensi membantu memetakan prioritas penanganan. Dengan mengetahui bahwa Bengkalis dan Pelalawan menyumbang porsi terbesar dari total karhutla Riau, upaya pencegahan dan respons cepat idealnya bisa diarahkan lebih fokus ke dua wilayah tersebut, alih-alih disebar merata ke seluruh provinsi.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait