Ribuan warga menggelar aksi protes di sejumlah kota di Indonesia pada Selasa (20/10), melampiaskan kemarahan atas kebakaran hutan dan kabut asap beracun yang telah membuat banyak orang sakit selama berminggu-minggu. Krisis ini telah meluas hingga ke kawasan Asia Tenggara.

Demonstrasi yang diprakarsai kalangan mahasiswa digelar untuk menyampaikan ketidakpuasan terhadap pemerintah Presiden Prabowo Subianto, yang tepat menandai dua tahun pemerintahannya pada hari itu.

Protes di Lima Kota

Massa turun ke jalan di ibu kota Jakarta, serta Bandung dan Yogyakarta di Pulau Jawa, Pekanbaru di Sumatra, dan Makassar di Sulawesi Selatan. Mereka menuding pemerintah tidak becus dan korup, terutama karena gagal memadamkan kebakaran yang telah melanda kawasan luas di Pulau Kalimantan dan Sumatra sejak Juli.

"Kalau kami terbakar, kalian ikut terbakar!" demikian bunyi spanduk yang dibawa seorang demonstran di Jakarta. "Saya berhak bernapas. Padamkan api sekarang juga," tulis spanduk lainnya.

Warga Kalimantan Menderita

Warga di Palangkaraya, Kalimantan, menyampaikan keputusasaan mereka. "Kabut asap ini parah sekali. Jualan sepi. Harga-harga naik terus, tapi tidak ada pemasukan," kata Melsi, pedagang minuman keliling berusia 40 tahun, sambil menangis.

"Apa yang bisa kami lakukan? Kami ini rakyat kecil, tidak bisa berbuat apa-apa selain berharap pemerintah menanganinya," ujarnya.

Sifra, ibu rumah tangga berusia 29 tahun, mengatakan suami dan dua anaknya batuk-batuk selama sebulan. "Di dalam rumah pun asapnya masuk. Jujur, sejak kabut asap ini, badan rasanya sakit semua, seperti habis dipukuli. Daya tahan tubuh turun. Gampang batuk dan pilek."

Tuntutan Status Darurat

Sifra mendesak pemerintah meningkatkan upayanya, senada dengan tuntutan puluhan demonstran di Palangkaraya pada Senin yang menuntut penetapan status darurat nasional.

Polisi menahan enam aktivis yang membentangkan spanduk protes Greenpeace dari sebuah monumen di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Selasa pagi, kata Jeanny Sirait, juru kampanye organisasi itu. Salah satu spanduk bertuliskan: "Kabut Asap & Rezim Prabowo = Bencana Nasional."

Upaya Pemadaman

Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Berton Panjaitan, mengatakan lebih dari 60 ribu personel pemadam, termasuk relawan, dikerahkan dalam upaya pemadaman di seluruh Indonesia. Sebanyak 49 pesawat disiagakan untuk pengeboman air dan rekayasa hujan, meski banyak yang sempat tidak bisa terbang akibat kabut asap.

Pemantau kebakaran hutan Nusantara Atlas mencatat kebakaran di Indonesia telah menghanguskan lebih dari 1,9 juta hektare lahan dalam sembilan bulan pertama 2026. Asapnya telah membuat polusi udara melonjak hingga ke Kuala Lumpur dan Singapura.

Indonesia memang mengalami kebakaran setiap musim kemarau, namun kebakaran tahun ini tergolong sangat parah, sebagian akibat fenomena cuaca El Nino yang sangat kuat.

Sumber: CNA