Ribuan buruh Micron Technology di Taiwan mengancam akan melakukan aksi mogok kerja jika perusahaan tidak merombak sistem pembagian bonus mereka. Ancaman ini datang dari kekuatan serikat pekerja yang cukup besar: setidaknya 10 ribu dari total 15 ribu pegawai Micron di Taoyuan dan Taichung tercatat sebagai anggota serikat pekerja.

Menurut pihak serikat, hasil survei internal pada Agustus menunjukkan lebih dari 80 persen anggota mendukung rencana aksi mogok kerja ini — angka yang menunjukkan tingkat dukungan cukup solid di kalangan pekerja.

Otoritas Taipei menyatakan aksi mogok kerja karyawan Micron berpotensi mengganggu ekosistem industri Taiwan secara luas, mengingat wilayah ini merupakan basis manufaktur terbesar milik Micron. Dikutip dari Reuters, Rabu (2/9/2026), otoritas menyebut dampak potensial aksi mogok ini bisa dirasakan pada tiga level sekaligus: penghidupan para pekerja itu sendiri, operasional Micron, hingga rantai pasok semikonduktor Taiwan dan perekonomian yang lebih luas.

Otoritas memastikan tengah memantau sengketa ini, dan menawarkan opsi mediasi antara pekerja dan perusahaan apabila diperlukan untuk meredakan ketegangan.

Sementara itu, pihak Micron menyatakan terus berkomunikasi dengan karyawannya, sembari menegaskan komitmen menghormati proses hukum yang berlaku dalam menangani sengketa ini.

Ketegangan ini muncul di tengah kondisi bisnis Micron yang justru sedang berada di puncak keuntungan. Perusahaan ini termasuk salah satu yang paling diuntungkan dari perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI), yang memicu lonjakan permintaan chip memori untuk perangkat keras AI dan membuat pasokan global semakin ketat.

Tren positif ini tercermin dari capaian pendapatan Micron yang disebut mencatatkan rekor sebesar US$41,46 miliar, termasuk pendapatan kuartal ketiga sebesar US$28,24 miliar atau sekitar Rp501,8 triliun, untuk periode yang berakhir pada 28 Mei.

Situasi serupa sebenarnya pernah terjadi di Samsung Electronics. Sekitar 48 ribu anggota serikat pekerja Samsung sempat berencana melakukan aksi mogok selama 18 hari, namun rencana tersebut akhirnya batal setelah negosiasi antara serikat dan manajemen berhasil mencapai titik temu.

Hasil negosiasi itu melahirkan skema bonus khusus sebesar 10,5 persen dari laba operasional divisi chip, dengan besaran bonus yang bergantung pada pencapaian target profitabilitas perusahaan.

Kasus Micron di Taiwan menjadi contoh terbaru dari ketegangan yang muncul di industri semikonduktor global: di satu sisi perusahaan meraup untung besar dari lonjakan permintaan AI, di sisi lain para pekerja menuntut pembagian keuntungan yang mereka nilai lebih adil. Preseden Samsung menunjukkan bahwa negosiasi masih mungkin meredakan ketegangan semacam ini — namun apakah pola serupa akan terjadi pada kasus Micron masih perlu terus dipantau.