Ratusan Ribu Jemaah Padati Monas dalam Zikir dan Doa Kebangsaan, Pembuka Rangkaian HUT ke-81 RI

Kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, dipadati lebih dari 100 ribu jemaah pada Sabtu (1/8) malam. Mereka berkumpul mengikuti Zikir dan Doa Kebangsaan yang menjadi penanda dimulainya rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Acara yang digagas Kementerian Agama ini berlangsung sejak pukul 17.00 hingga 21.30 WIB, meski peserta sudah mulai memasuki kawasan Monas sejak pukul 15.00 WIB lewat pintu masuk khusus di sisi utara dan selatan. Mengusung tema "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur"—selaras dengan logo resmi HUT ke-81 RI—sebagian besar jemaah datang mengenakan busana serba putih sesuai imbauan panitia penyelenggara.
Dalam sambutannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa zikir dan doa merupakan ikhtiar spiritual bangsa dalam mengisi kemerdekaan. Ia berpandangan, Indonesia tidak semata dibangun lewat kerja keras, melainkan juga ditopang kekuatan doa, keluhuran akhlak, serta kokohnya kerukunan antarsesama warga.
"Dengan zikir kita menumbuhkan hati, dengan doa kita mengetuk langit, dan dengan kerja serta pengabdian kita membangun bumi," ujar Nasaruddin, yang juga menjabat Imam Besar Masjid Istiqlal, dalam keterangannya.
Ia menyebut sekitar 100 ribu peserta yang hadir malam itu datang dari berbagai daerah dan latar belakang agama, semuanya memanjatkan doa bersama untuk Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, Nasaruddin turut menyinggung Indeks Kesalehan Umat Beragama pada 2025 yang tercatat meningkat menjadi 84,20—meski ia tidak merinci lebih jauh metodologi di balik angka tersebut.
Sebelum acara utama dimulai, rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Khotmil Qur'an yang dipimpin Dr. KH. Rijal Ahmad Rangkuti, dilanjutkan doa penutup oleh Ust. H. Muzakkir Abd Rahman, MA.
Acara inti dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sebelum dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur'an Surat Ar-Rahman ayat 1 hingga 14. Bacaan ini dibawakan Muhammad Zian Fahrezi, peraih juara pertama Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) International Al-Ameed ke-3 di Karbala, Irak, pada 2026—sebuah prestasi internasional yang turut menambah bobot simbolis acara malam itu.
Puncak acara diisi doa kebangsaan lintas agama yang dipimpin enam tokoh agama secara bergantian, mewakili Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Susunan doa lintas agama ini menjadi simbol persaudaraan sekaligus harmoni antarumat beragama di Indonesia, dengan harapan bersama agar bangsa senantiasa diberi kedamaian, persatuan, dan kemajuan.
Suasana kian khidmat ketika Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf memimpin Selawat Kebangsaan yang turut diikuti puluhan ribu jemaah yang memadati kawasan Monas.
Zikir dan Doa Kebangsaan ini turut dihadiri sejumlah menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih, di antaranya Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid serta Wakil Menteri Agama Romo Raden Muhammad Syafi'i, selain sejumlah tokoh lintas agama lainnya. Kehadiran mereka menegaskan semangat kebersamaan lintas kementerian dan lintas keyakinan dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Presiden Prabowo Subianto sendiri sebelumnya dijadwalkan turut hadir dalam acara ini, namun batal karena harus menjalankan agenda kenegaraan lain. Ketidakhadirannya tidak mengurangi antusiasme jemaah yang tetap memadati kawasan Monas hingga acara usai.
Zikir dan Doa Kebangsaan ini menjadi pembuka dari serangkaian kegiatan yang akan berlangsung sepanjang Agustus, menjelang puncak peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus mendatang. Menjelang dan selama acara berlangsung, Polda Metro Jaya turut menyiapkan rekayasa lalu lintas di sekitar kawasan Monas, sementara panitia penyelenggara juga menyiapkan layanan kesehatan bagi jemaah yang membutuhkan.
Kegiatan lintas agama semacam ini bukan sekadar seremoni tahunan. Di tengah keberagaman suku, agama, dan latar belakang yang menjadi ciri khas Indonesia, momen berkumpulnya berbagai tokoh agama dalam satu panggung doa bersama kerap dipandang sebagai simbol nyata bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi warga negara untuk bersatu merayakan kemerdekaan yang sama.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda