Rain Afrika Selatan Pindahkan Sistem Billing hingga AI dari AWS dan Google ke Huawei Cloud

Operator seluler Afrika Selatan, Rain, memindahkan hampir semua sistem bisnis intinya ke Huawei Cloud. Bukan hanya soal jaringan, tapi billing, data analytics, penyimpanan, koneksi antar aplikasi, sampai arsitektur AI.
Langkah itu diungkap Leon Nortje, Principal and Senior Architect Rain SA, dalam acara Huawei SA Connect 2026 di Johannesburg pekan lalu.
"Kami memutuskan berinvestasi pada partner kami, Huawei, untuk membantu memindahkan sistem-sistem itu ke public cloud," kata Nortje.
Programnya sudah dimulai sejak April 2024. Target awalnya adalah sistem yang menopang penggunaan jaringan, tagihan pelanggan, dan layanan lain untuk dibawa ke lingkungan public cloud.
Rain tidak sekadar mengangkat workload lama ke platform baru. Arsitekturnya didesain ulang.
Fokus pertama adalah sistem billing dan charging. Pada 2025 Rain mengganti platform billing dengan sistem berbasis standar TM Forum, kerangka umum yang dipakai industri telekomunikasi. Lalu pindah ke Online Charging System (OCS) berbasis cloud milik Huawei, yang menghitung pemakaian dan tagihan saat layanan dipakai pelanggan.
"Dengan cloud OCS, kami sekarang bisa scale perusahaan dalam banyak cara," ujar Nortje.
Dengan model ini Rain bisa menambah pelanggan tanpa harus membangun ulang lingkungan billing. Sistem yang sama bahkan bisa dipakai untuk operasi di negara lain, meski ekspansi internasional bukan prioritas saat ini.
Setelah billing beres, Rain meng-upgrade jaringan seluler untuk memanfaatkan kapasitas tambahan tersebut.
Perluasan migrasi terjadi September 2025. Rain mulai mengurangi ketergantungan pada Amazon Web Services (AWS) untuk analitik data.
Sebagian besar data warehousing dipindah ke GaussDB(DWS) milik Huawei Cloud, data warehouse yang dirancang untuk volume besar. File dan dataset besar dipindah ke Object Storage Service Huawei.
Proses itu membuat tim menemukan kesalahan klasifikasi data lama.
"Kami menemukan banyak data tidak terstruktur kami sebenarnya terstruktur," kata Nortje. Beberapa informasi terstruktur sebelumnya disimpan di object storage lalu diperlakukan sebagai tidak terstruktur. Setelah dipisah, hasilnya signifikan.
"Dengan optimasi menjaga data terstruktur tetap terstruktur, kami bisa memangkas query 3 jam menjadi 2 menit."
Sebelumnya Rain memakai Amazon Athena untuk query di AWS. Athena bisa mengembalikan hasil dalam 20-30 detik, tapi bisa mengalokasikan sementara sekitar 170 server untuk menyelesaikan tugas. Setelah migrasi, workload yang sama berjalan di lima server. Ada penghematan biaya, tapi Nortje menyebut kontrol operasional yang lebih besar menjadi alasan utama.
Tahap berikutnya terjadi Mei 2026. Rain mengganti Google Apigee dengan Huawei Cloud API Gateway (APIG). Keduanya mengelola trafik dan koneksi antar aplikasi dan layanan internal.
Lingkungan Apigee Rain berisi 128 proxy dan banyak koneksi lintas bisnis. Rain butuh dukungan HTTP/2 untuk transfer trafik web yang lebih efisien dan WebSocket agar chatbot bisa menjaga koneksi dua arah terus-menerus dengan pengguna.
"Kami uji coba gateway APIG Huawei, yang menangani WebSockets dan HTTP/2. Semuanya bekerja baik, dan kami beralih," kata Nortje.
Ide migrasi bermula ketika Nortje menghadap CEO Rain Conrad Leigh dan mengusulkan menghapus Apigee. Leigh setuju, dengan tantangan: selesaikan tanpa tim migrasi besar.
Nortje lalu memakai Claude Code untuk mempelajari SDK Huawei, memeriksa proxy Apigee yang ada, dan memetakan koneksi yang harus dipindah.
"Saya bilang ke AI: 'Ini SDK-nya. Pelajari apa yang dilakukannya. Ini Apigee. Tarik semua yang bisa kamu ambil dari Apigee, semua proxy, semuanya, dan sambungkan proxy itu ke back end'," ujarnya.
Claude Code membantu mengidentifikasi perubahan yang dibutuhkan dan menyiapkan rencana migrasi selama akhir pekan. Pengujian dimulai Senin pagi, separuh migrasi selesai Rabu. Sisanya rampung dalam dua sampai tiga minggu berikutnya. Developer lain umumnya hanya perlu mengarahkan ulang aplikasi ke lokasi proxy baru.
Tahap terbaru adalah AI. Rain menguji arsitektur models-as-a-service di atas Huawei Cloud. Pendekatannya memungkinkan operator mengganti satu model AI dengan model lain tanpa mendesain ulang aplikasi atau infrastruktur di sekitarnya.
Model yang diuji termasuk model asal Tiongkok seperti DeepSeek, Qwen milik Alibaba, dan GLM dari Zhipu AI untuk workload berbeda.
"Kami bisa mengganti model yang kami butuhkan tanpa mengubah terlalu banyak infrastruktur," kata Nortje.
Untuk menjaga agar AI tidak liar, Rain membangun control harness di sekitar lingkungan AI. Harness membatasi tugas yang bisa dilakukan model dan mendefinisikan bagaimana output dievaluasi.
"Salah satu hal besar tentang AI, kalau Anda membiarkannya lepas, Anda akan terbakar. Yang kami putuskan adalah membangun harness di sekitar AI kami."
Sistem AI lain menguji harness tersebut dan membandingkan hasil dari model berbeda. Jadi tim bisa tahu apakah perubahan output berasal dari model atau dari aplikasi di sekelilingnya. Menurut Nortje, model yang tersedia lewat platform Huawei biayanya sekitar sepersepuluh dari layanan sejenis dari Anthropic dan OpenAI untuk workload Rain.
CEO Huawei Afrika Selatan Will Meng mengatakan adopsi AI skala besar tidak bisa dibangun tanpa infrastruktur digital yang solid. Deputi General Manager Huawei Kui Zheng menambahkan, "Masa depan AI tidak akan dibangun oleh satu perusahaan, bahkan Huawei. Kami tidak bisa melakukannya. Itu akan dibangun oleh ekosistem terbuka dari mitra, pengembang, dan pelanggan yang menciptakan nilai bersama."
Huawei menyebut kurang dari 35% perusahaan di Afrika Selatan yang sudah mengidentifikasi di mana AI bisa membuka nilai dari data mereka. Program Rain memberi contoh jalur dari eksperimen ke operasional: bereskan dulu fondasi data, aplikasi, dan billing, baru ekspansi ke model AI.
Saat ini Huawei Cloud beroperasi dari tiga availability zone di Afrika Selatan dan melayani lebih dari 300 pelanggan.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda