Libya tengah bergulat dengan krisis pemadaman listrik berkepanjangan dan kelangkaan bahan bakar minyak yang parah, hingga melumpuhkan aktivitas sehari-hari warganya. Ironisnya, krisis ini terjadi di negara yang justru memiliki cadangan minyak bumi terbesar di Benua Afrika, di tengah situasi politik yang masih dilanda kebuntuan, konflik bersenjata, dan korupsi yang merajalela.

Akar Masalah: Korupsi dan Tata Kelola yang Lemah

Mengutip Arab News, Jumat (28/8/2026), krisis ini disebut sebagai yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir dan mencengkeram warga Libya justru di puncak cuaca panas musim panas. Para ahli dan pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai akar masalah krisis energi ini terletak pada korupsi, tata kelola pemerintahan yang lemah, serta minimnya pemeliharaan pembangkit listrik selama bertahun-tahun.

Padahal, Libya sejatinya memiliki sekitar 48 miliar barel cadangan minyak terbukti, dengan kapasitas produksi sekitar 1,5 juta barel per hari dan target peningkatan hingga 2 juta barel per hari. Namun ironisnya, negara ini hanya mampu memenuhi sepertiga dari total kebutuhan bahan bakar domestiknya sendiri, sehingga tahun lalu terpaksa mengimpor bahan bakar senilai 7,8 miliar dolar AS atau setara Rp138,06 triliun.

Warga Berjuang di Tengah Suhu Mendekati 50 Derajat Celsius

Suhu udara yang mendekati 50 derajat Celsius di sejumlah wilayah membuat warga kesulitan mendinginkan rumah maupun menjalankan usaha mereka. Pemilik toko kelontong di Tripoli, Slimane Fitouri, menceritakan dua lemari esnya rusak dan produk susu dagangannya membusuk akibat pemadaman listrik yang terus berulang. Ia mengaku tidak yakin berapa lama lagi bisa bertahan, mengingat besarnya biaya tambahan yang harus ditanggung setelah terpaksa mengoperasikan generator — yang harganya sendiri sudah melambung akibat lonjakan permintaan, ditambah kebutuhan bahan bakarnya yang tidak sedikit.

Keluhan serupa disampaikan pekerja Kementerian Kesehatan, Abderrahmane Souissi. Menurutnya, harga generator sudah tidak masuk akal di tengah kelangkaan bahan bakar untuk mengoperasikannya — sebuah kondisi yang menurutnya sangat membingungkan bagi warga negara yang sebenarnya kaya sumber daya. Ia bercerita terpaksa membeli generator atas desakan istrinya, karena keempat anak mereka tak bisa tidur akibat panas dan kelembapan tinggi, sementara seluruh stok makanan beku keluarganya sudah membusuk.

Antrean Panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar

Di berbagai wilayah barat dan tengah Libya, antrean panjang kendaraan menjadi pemandangan sehari-hari di stasiun-stasiun pengisian bahan bakar. Seorang pengendara, Abdeslam Zarti, menggambarkan penderitaan warga yang harus menunggu hingga enam jam atau lebih, dengan barisan mobil yang kadang mengular hingga sejauh empat kilometer dari stasiun pengisian.

Dugaan Penyelundupan dan Salah Urus Anggaran

Peneliti hubungan internasional, Bechir Jouini, menilai krisis ini semakin rumit akibat praktik penyelundupan minyak ke luar negeri serta kegagalan implementasi program pemeliharaan pembangkit listrik. Ia secara terbuka menuding salah urus dan korupsi anggaran di sektor energi sebagai penyebab utama, dan menyebut Libya sebenarnya memiliki sumber daya maupun dana yang cukup, namun terus menderita akibat tata kelola yang buruk serta korupsi yang merajalela — meski alokasi anggaran untuk perusahaan listrik negara tergolong besar.

Utusan PBB untuk Libya, Hanna Tetteh, turut mengaitkan krisis energi ini dengan kegagalan kelembagaan yang lebih luas. Menurutnya, pemadaman listrik yang meluas telah menunjukkan konsekuensi nyata dari fragmentasi institusi, pengalihan sumber daya publik dalam skala besar, serta minimnya investasi di sektor ini. Ia menyoroti ironi bahwa krisis semacam ini justru terjadi di negara yang tidak kekurangan sumber daya energi dan memiliki deposit minyak bumi terbesar di benua Afrika.

Serangan Drone Perparah Krisis Bahan Bakar

Situasi keamanan energi Libya kian memburuk setelah awal bulan ini sebuah reservoir utama berisi sekitar 4,5 juta liter bensin menjadi sasaran serangan pesawat tak berawak di Zawiya, kota yang terletak sekitar 45 kilometer di sebelah barat Tripoli. Wilayah ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai basis konflik bersenjata antarkelompok, sekaligus titik pusat penyelundupan bahan bakar, obat-obatan, dan migran.

Catatan: Sejumlah pernyataan dalam berita ini, termasuk tudingan korupsi dan salah urus anggaran, merupakan pandangan dari para narasumber dan pejabat yang dikutip, dan belum tentu mencerminkan temuan resmi lembaga hukum di Libya.