New York — Delegasi Amerika Serikat dilaporkan meninggalkan ruang sidang begitu Presiden Iran Masoud Pezeshkian mulai berpidato di Majelis Umum PBB, Rabu (23/9/2026). Yang mereka lewatkan adalah pesan ganda: Iran siap berunding, tetapi tidak akan menyerah.

Mengutip Reuters, Kamis (24/9/2026), Pezeshkian berbicara di depan 193 anggota PBB. Ia menyebut pernyataan Presiden AS Donald Trump sehari sebelumnya sebagai tanda "mentalitas penindas" dan menolak ancaman Trump untuk memusnahkan Iran bila kesepakatan gagal tercapai.

"Rakyat Iran tidak akan tunduk pada tekanan. Mereka yang merupakan teroris dan melatih teroris justru menyebut kami teroris," katanya.

Berkali-kali ia mengulang bahwa Iran bersedia menyelesaikan ketegangan lewat negosiasi, namun Teheran tidak akan menerima bahasa kekerasan.

Pezeshkian juga menuduh AS membunuh warga sipil selama perang. Ia menunjukkan foto-foto, termasuk gambar siswi sekolah. Pejabat Iran menyebut serangan rudal AS-Israel di sebuah sekolah dasar di Minab pada 28 Februari menewaskan sedikitnya 175 anak dan guru. Pentagon belum merilis hasil investigasinya ke publik. Penyelidikan internal awal militer AS, menurut laporan, menemukan pasukan AS kemungkinan besar bertanggung jawab atas peristiwa yang disebut sebagai korban sipil paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir.

Soal program nuklir, ia mengeklaim Iran tidak berniat memiliki bom nuklir, tetapi juga tidak akan melepaskan hak atas program nuklir damai dan pengetahuan nuklirnya.

Hormuz jadi pusat ketegangan

Konflik kini memasuki bulan ketujuh. Reuters melaporkan konflik itu mengguncang pasar dan mendorong kawasan Teluk ke ambang perang yang lebih luas. Washington disebut kini menempuh serangan ekonomi setelah aksi militer gagal memaksa Iran menyerah. Di dalam negeri, para pemimpin Iran dilaporkan cemas bahwa lonjakan harga dan tekanan pada pendapatan rumah tangga bisa memicu kembali kerusuhan.

Sorotan kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur yang dilewati seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Sumber internal mengatakan Teheran telah menyampaikan syaratnya kepada AS lewat perantara untuk membuka kembali selat tersebut.

"Tidak bisa dibiarkan bahwa semua orang mendapat manfaat dari Selat Hormuz sementara kami ditolak aksesnya," ujar Pezeshkian. Ia menambahkan bahwa pengerahan armada permusuhan secara permanen dan perluasan perang tidak akan membawa perdamaian.