Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis menghasilkan sejumlah kesepakatan kerja sama ekonomi dan industri yang disebut bernilai hingga US$3,5 miliar atau sekitar Rp61,25 triliun. Kerja sama tersebut mencakup sektor
Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis menghasilkan sejumlah kesepakatan kerja sama ekonomi dan industri yang disebut bernilai hingga US$3,5 miliar atau sekitar Rp61,25 triliun. Kerja sama tersebut mencakup sektor pertahanan, energi, teknologi migas, transisi energi, pendidikan, hingga pengembangan mineral kritis.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, M. Qodari, menyebut kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemitraan strategis Indonesia dan Prancis. Menurut dia, hubungan kedua negara tidak hanya diarahkan pada perdagangan, tetapi juga pada penguatan industri, transfer teknologi, dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Kunjungan ini juga disebut sebagai tindak lanjut dari kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia pada 2025. Pemerintah menilai hubungan kedua negara memiliki ruang kerja sama yang luas, terutama di sektor yang membutuhkan teknologi tinggi.
Fokus pada Transfer Teknologi
Salah satu isu yang menonjol dalam kerja sama Indonesia-Prancis adalah transfer teknologi. Di sektor pertahanan, Indonesia selama ini telah menggunakan sejumlah alat utama sistem persenjataan atau alutsista asal Prancis.
Melalui kerja sama baru, pemerintah ingin mendorong agar hubungan tersebut tidak hanya berhenti pada pembelian produk. Indonesia menargetkan adanya peningkatan kapasitas industri dalam negeri, termasuk kemampuan produksi, perawatan, dan pelatihan tenaga teknis.
Transfer teknologi menjadi penting karena dapat membantu Indonesia mengurangi ketergantungan pada produk jadi dari luar negeri. Namun, manfaatnya tetap bergantung pada detail pelaksanaan, kesiapan industri lokal, dan kemampuan menyerap teknologi yang diberikan mitra asing.
Kesepakatan Bisnis dan Energi
Di sektor perdagangan, Kamar Dagang dan Industri Indonesia bersama MEDEF International meluncurkan France-Indonesia High-Level Business Council atau FI-HLBC. Forum ini ditujukan untuk memperkuat hubungan bisnis dan mendorong kenaikan perdagangan bilateral.
Pemerintah menargetkan nilai perdagangan Indonesia dan Prancis dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada 2035. Saat ini, perdagangan kedua negara disebut berada di kisaran US$2,6 miliar.
Di sektor energi, Pertamina menjalin kerja sama dengan SLB atau Schlumberger untuk pengembangan teknologi migas, pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI, enhanced oil recovery atau EOR, serta program penurunan emisi karbon.
EOR adalah metode untuk meningkatkan produksi minyak dari lapangan yang sudah beroperasi. Sementara AI dalam sektor migas dapat digunakan untuk membaca data produksi, memantau kinerja lapangan, dan membantu efisiensi operasional.
Pertamina juga disebut menjalin kolaborasi dengan TotalEnergies. Cakupan kerja samanya meliputi sektor hulu migas, energi terbarukan, LNG, biofuel, proyek kilang hijau, dan bisnis rendah karbon.
Pabrik Radar dan Industri Pertahanan
Di bidang pertahanan, salah satu kesepakatan penting adalah kerja sama antara Danantara melalui PT Len Industri dan Thales. Kerja sama tersebut berkaitan dengan rencana pembangunan fasilitas produksi radar di Indonesia.
Validasi Letter of Intent atau LoI dengan Thales disebut menjadi langkah awal untuk memperkuat industri pertahanan nasional. Fasilitas tersebut nantinya diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi, tetapi juga mendukung pemeliharaan dan pelatihan tenaga teknis.
Bagi Indonesia, pengembangan radar memiliki arti strategis karena berkaitan dengan pengawasan wilayah udara dan pertahanan nasional. Namun, seperti kerja sama pertahanan lainnya, realisasinya masih membutuhkan tindak lanjut teknis, pembiayaan, serta kepastian skema kerja sama.
Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia?
Jika terealisasi, kesepakatan investasi Indonesia-Prancis dapat memberi dampak pada beberapa sektor. Di sektor industri, kerja sama teknologi dapat membuka peluang peningkatan kemampuan produksi dalam negeri.
Di sektor energi, kolaborasi dengan perusahaan global dapat membantu efisiensi produksi migas dan mempercepat pengembangan bisnis rendah karbon. Sementara di sektor pertahanan, kerja sama produksi radar dapat memperkuat ekosistem industri strategis nasional.
Dampak lain yang diharapkan adalah peningkatan peluang kerja, pelatihan tenaga ahli, dan penguatan rantai pasok lokal. Namun, manfaat tersebut tidak otomatis muncul hanya dari penandatanganan kerja sama. Pemerintah dan pelaku industri masih perlu memastikan proyek berjalan sesuai jadwal dan melibatkan kapasitas nasional secara nyata.
Catatan yang Perlu Diperhatikan
Nilai US$3,5 miliar atau sekitar Rp61,25 triliun perlu dibaca sebagai nilai kesepakatan dan komitmen investasi yang masih memerlukan proses lanjutan. Dalam praktiknya, realisasi investasi dapat dipengaruhi oleh regulasi, pembiayaan, kesiapan proyek, kondisi ekonomi global, dan keputusan bisnis masing-masing perusahaan.
Karena itu, keberhasilan kunjungan ini tidak hanya diukur dari besarnya nilai kesepakatan, tetapi juga dari seberapa jauh proyek tersebut benar-benar berjalan dan memberi manfaat bagi industri dalam negeri.
Kerja sama Indonesia-Prancis membuka peluang bagi penguatan sektor strategis nasional. Namun, agar manfaatnya terasa lebih luas, tindak lanjut setelah kunjungan menjadi faktor yang paling menentukan.