Qaplo - Presiden Prabowo Subianto membawa agenda ekonomi dalam rangkaian kunjungan ke Eropa pada akhir Mei 2026. Lawatan ke Prancis, Austria, dan Hungaria diarahkan untuk memperkuat kerja sama investasi, industri, pertahanan, serta posisi
Qaplo - Presiden Prabowo Subianto membawa agenda ekonomi dalam rangkaian kunjungan ke Eropa pada akhir Mei 2026. Lawatan ke Prancis, Austria, dan Hungaria diarahkan untuk memperkuat kerja sama investasi, industri, pertahanan, serta posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Di Prancis, agenda Prabowo tidak hanya berlangsung di jalur diplomasi antarpemerintah. Presiden juga menghadiri forum bisnis France-Indonesia High Level Business Council atau FI-HLBC bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron, setelah keduanya bertemu di Istana Élysée, Paris, Kamis, 28 Mei 2026.
FI-HLBC merupakan forum bisnis tingkat tinggi yang diinisiasi oleh Kadin Indonesia dan MEDEF International. Forum seperti ini biasanya menjadi ruang bagi pemerintah, asosiasi usaha, dan perusahaan besar untuk mempercepat kerja sama perdagangan, investasi, serta proyek ekonomi jangka panjang.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut forum tersebut mempertemukan sekitar 30 pimpinan industri dan perusahaan besar dari Indonesia dan Prancis. Total kapitalisasi pasar gabungan perusahaan yang hadir disebut mencapai sekitar USD 1,3 triliun.
Kapitalisasi pasar memberi gambaran tentang besarnya skala perusahaan yang terlibat. Namun, angka tersebut belum otomatis berarti investasi baru akan langsung masuk ke Indonesia. Bagi publik, ukuran yang lebih penting adalah apakah forum itu mampu menghasilkan proyek nyata, lapangan kerja, alih teknologi, dan penguatan industri dalam negeri.
Sejumlah pengusaha Indonesia ikut dalam rombongan Presiden. Nama-nama seperti Anindya Bakrie, James Riady, Garibaldi “Boy” Thohir, Tony Wenas, dan Rosan Roeslani disebut mendampingi lawatan tersebut. Kehadiran pelaku usaha menunjukkan agenda bisnis menjadi bagian penting dalam kunjungan ini, meski hasil akhirnya tetap bergantung pada realisasi kesepakatan.
Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, menyebut kunjungan Prabowo ke Eropa bertujuan mengubah keunggulan Indonesia menjadi investasi nyata. Keunggulan itu, menurut dia, terutama berkaitan dengan nikel dan posisi geopolitik Indonesia.
“Indonesia tidak sekadar berkunjung. Pak Prabowo sedang mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik kita menjadi investasi nyata dan benteng keamanan sebelum jendela peluang global ini tertutup,” kata Sugiat dalam keterangan tertulis, Jumat, 29 Mei 2026.
Menurut Sugiat, Prancis memiliki posisi penting karena menjadi salah satu kekuatan utama di Eropa Barat, termasuk dalam bidang teknologi, industri strategis, dan pertahanan. Kerja sama dengan Prancis dinilai dapat memperluas ruang Indonesia dalam membangun kemitraan jangka panjang di sektor-sektor tersebut.
Setelah Prancis, Prabowo dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke Austria dan Hungaria. Dua negara itu dipandang memiliki peran berbeda dalam strategi ekonomi Indonesia di Eropa.
Austria disebut sebagai salah satu pintu masuk ke industri manufaktur presisi di Eropa Tengah. Sektor industrinya mencakup mesin, otomotif, pengolahan logam, bahan kimia, serta makanan dan minuman. Bagi Indonesia, kerja sama dengan negara seperti Austria dapat membuka peluang penguatan industri bernilai tambah.
Hungaria memiliki posisi yang berbeda. Negara itu disebut sebagai salah satu pusat pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik atau gigafactory di Uni Eropa. Dalam konteks ini, kerja sama dengan Hungaria dianggap relevan dengan ambisi Indonesia masuk lebih jauh ke rantai pasok baterai global.
“Masuk ke Hungaria berarti mengunci posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai masa depan Eropa dari pintu yang paling terbuka,” ujar Sugiat.
Nikel menjadi kata kunci dalam strategi tersebut. Komoditas ini digunakan dalam sejumlah jenis baterai kendaraan listrik. Karena itu, negara dengan cadangan nikel besar memiliki posisi tawar dalam perubahan industri otomotif dunia.
Sugiat mengklaim Indonesia memiliki posisi besar dalam cadangan nikel dunia, bahkan menyebut angkanya sekitar 65 persen. Klaim tersebut ia gunakan untuk menjelaskan alasan Indonesia perlu bergerak cepat menjalin kerja sama dengan negara-negara industri dan pasar kendaraan listrik.
Meski demikian, kepemilikan sumber daya alam tidak otomatis menjamin keuntungan ekonomi besar bagi masyarakat. Manfaat baru dapat terasa jika investasi yang masuk mendorong hilirisasi, membangun industri di dalam negeri, menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan kemampuan sumber daya manusia.
Tantangannya adalah memastikan kerja sama tersebut tidak berhenti pada pertemuan tingkat tinggi. Indonesia perlu mendorong agar investasi yang dibahas benar-benar menghasilkan proyek, bukan hanya nota kesepahaman atau komitmen umum.
Bagi masyarakat, dampak yang paling diharapkan adalah terbukanya lapangan kerja baru dan bertambahnya investasi di sektor produktif. Jika kerja sama industri berjalan, kebutuhan terhadap tenaga kerja teknis, insinyur, operator pabrik, serta industri pendukung juga dapat meningkat.
Pemerintah juga perlu memastikan setiap komitmen investasi memiliki arah yang jelas. Publik perlu mengetahui proyek apa yang akan direalisasikan, kapan dimulai, berapa nilai investasinya, serta manfaat langsungnya bagi ekonomi nasional maupun daerah.
Lawatan Prabowo ke Prancis, Austria, dan Hungaria menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, khususnya di sektor nikel, baterai, dan industri strategis. Keberhasilannya akan terlihat setelah komitmen bisnis berubah menjadi investasi konkret yang memberi manfaat bagi industri nasional dan masyarakat.