Breaking
Memuat breaking news...

PMI Manufaktur Indonesia Masih Kontraksi, Rupiah Tertekan Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Qaplo
Qaplo
Rabu, 1 Juli 2026 - 1.02 PM WIB
PMI Manufaktur Indonesia Masih Kontraksi, Rupiah Tertekan Dekati Rp18.000 per Dolar AS
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN – Kondisi sektor manufaktur Indonesia yang masih berada dalam fase kontraksi pada Juni 2026 menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi pasar keuangan domestik. Pelemahan aktivitas industri dinilai memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, meski pasar saham masih mampu bertahan di zona positif pada perdagangan awal pekan.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan data S&P Global Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia yang berada di level 46,9 menunjukkan aktivitas manufaktur nasional masih mengalami perlambatan. Dalam indikator PMI, angka di bawah 50 menandakan sektor manufaktur berada dalam kondisi kontraksi, sedangkan angka di atas 50 mencerminkan ekspansi.

Menurut Gunawan, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa sektor industri masih menghadapi tantangan sehingga berpotensi memengaruhi kepercayaan pelaku pasar.

"Data manufaktur yang kembali berada di bawah level 50 menjadi sinyal bahwa sektor industri sedang menghadapi tekanan. Kondisi ini tentu menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan, baik untuk IHSG maupun nilai tukar rupiah," ujarnya, Rabu (1/7/2026).

Rupiah Mengalami Tekanan, IHSG Masih Bertahan

Di tengah sentimen negatif tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu bergerak di zona hijau pada perdagangan pagi setelah sempat dibuka melemah di kisaran 5.640.

Gunawan menilai penguatan IHSG belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental domestik. Menurutnya, pergerakan positif tersebut lebih banyak didorong oleh penguatan mayoritas bursa saham di kawasan Asia.

Sebaliknya, tekanan lebih jelas terlihat pada nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda pada perdagangan pagi melemah hingga berada di kisaran Rp17.675 per dolar Amerika Serikat, sehingga semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Ia mengingatkan bahwa penguatan IHSG masih berpotensi berubah apabila sentimen eksternal maupun domestik kembali memburuk selama perdagangan berlangsung.

"Penguatan IHSG saat ini masih cukup rentan terkoreksi selama sesi perdagangan berlangsung. Sementara itu, rupiah menunjukkan tekanan yang lebih nyata karena dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik," katanya.

Pasar Menunggu Data Inflasi dan Neraca Perdagangan

Selain perkembangan sektor manufaktur, pelaku pasar juga menantikan sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), termasuk data inflasi Juni 2026 dan neraca perdagangan Indonesia.

Gunawan memperkirakan inflasi bulanan, tahunan, maupun inflasi inti akan meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Meski demikian, ia menilai data inflasi kemungkinan tidak akan menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar dalam jangka pendek.

Perhatian investor, lanjutnya, lebih tertuju pada kinerja ekspor dan impor yang tercermin dalam neraca perdagangan. Apabila surplus perdagangan menyusut atau lebih rendah dari perkiraan pasar, tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih dapat berlanjut.

Selain itu, investor juga masih mencermati berbagai indikator ekonomi domestik menjelang pengumuman outlook credit rating Indonesia. Prospek peringkat kredit tersebut menjadi salah satu acuan bagi investor global dalam menilai tingkat risiko investasi di Indonesia.

Harga Emas Dunia Ikut Melemah

Dari pasar komoditas, harga emas dunia juga mengalami koreksi. Pada perdagangan terbaru, emas diperdagangkan di kisaran 3.982 dolar AS per ons troy, atau sekitar Rp2,3 juta per gram.

Menurut Gunawan, pelemahan harga emas dipengaruhi ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) masih berpeluang mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.

"Ekspektasi kenaikan atau bertahannya suku bunga The Fed pada level tinggi membuat dolar AS tetap kuat. Kondisi ini tidak hanya menekan harga emas, tetapi juga memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang termasuk rupiah," pungkasnya.

Secara keseluruhan, pelaku pasar masih akan mencermati sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis dalam waktu dekat. Perkembangan data tersebut diperkirakan menjadi penentu arah pergerakan rupiah, pasar saham, serta sentimen investor terhadap prospek ekonomi Indonesia pada paruh kedua 2026.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait