Breaking
Memuat breaking news...

Permintaan Emas Global Tembus 2.522 Ton di Semester I 2026, Asia dan Bank Sentral Jadi Penopang

Redaksi
Redaksi
Senin, 3 Agustus 2026 - 9.00 AM WIB
Permintaan Emas Global Tembus 2.522 Ton di Semester I 2026, Asia dan Bank Sentral Jadi Penopang
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Permintaan emas global masih tahan banting di paruh pertama 2026. Padahal harganya sempat koreksi dan dana keluar dari ETF emas meningkat. Motornya jelas: Asia.

Laporan World Gold Council (WGC) yang dikutip Kitco News Senin (3/8/2026) mencatat total permintaan emas termasuk transaksi over-the-counter (OTC) mencapai 1.269 ton pada kuartal II-2026. Secara kumulatif semester pertama tembus 2.522 ton, naik 2% dibanding periode sama tahun lalu. Dari sisi nilai, bahkan cetak rekor baru US$380 miliar atau sekitar Rp6,8 kuadriliun dengan asumsi kurs Rp18.014 per dolar.

Angka itu menarik karena tekanan di pasar sempat besar.

Awal tahun harga emas terbang tinggi, lalu tertekan. Pemicunya ketegangan geopolitik AS-Iran yang memicu krisis energi, kekhawatiran inflasi naik lagi, dan ekspektasi The Fed bakal menaikkan suku bunga. Imbal hasil obligasi AS naik, dolar menguat, daya tarik emas yang tidak memberi bunga jadi tertekan.

Rata-rata harga emas kuartal II berada di US$4.056,59 per ons atau sekitar Rp73 juta per ons. Turun 8% dibanding kuartal I, tapi masih melonjak 37% dibanding kuartal II tahun lalu. Koreksinya lebih terasa seperti konsolidasi setelah reli panjang.

WGC sendiri menilai investasi masih akan jadi penopang utama sampai akhir tahun.

"Permintaan investasi harusnya tetap konstruktif hingga akhir 2026," tulis laporan itu, dengan catatan arus ETF Barat akan tetap dipengaruhi imbal hasil riil, ekspektasi kebijakan moneter, dan kekuatan dolar.

Di luar OTC, permintaan investasi turun jadi 262 ton pada kuartal II setelah ETF emas fisik mencatat arus keluar bersih 45 ton. Penjualan meningkat pada Juni ketika investor merespons pelemahan harga, kenaikan yield obligasi, dan dolar yang menguat.

Tapi koreksi justru dipakai buat akumulasi.

"Investor terlihat lebih waspada menghadapi koreksi harga dan konsolidasi... Gelombang pembelian saat harga turun juga terlihat di kuartal ini, dan sebagian besar investor masih menilai emas sebagai aset yang strategis," kata analis WGC.

Amerika Utara jadi penyumbang terbesar arus keluar ETF, bahkan mencatat semester pertama terburuk sejak 2013. Beruntung, arus masuk dari Asia menopang sehingga portofolio ETF global masih tambah 18 ton sepanjang semester pertama.

Emas fisik juga stabil. Pembelian batangan dan koin global mencapai 307 ton di kuartal II, relatif sama dengan tahun lalu.

China kembali jadi pasar ritel terbesar. Permintaan batangan dan koin 107 ton di Q2 dan 314 ton sepanjang semester pertama — rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pemicunya imbal hasil obligasi domestik yang rendah, sektor properti yang lemah, dan ketidakpastian geopolitik. India naik 9% jadi 50 ton karena koreksi harga dianggap kesempatan beli murah.

Transaksi OTC yang sering tidak terlihat di data resmi justru sangat kuat: 327 ton di Q2 atau 571 ton sepanjang semester pertama. Sebagian besar diperkirakan berasal dari Asia.

Di sisi resmi, bank sentral kembali agresif setelah melambat di kuartal pertama.

WGC mencatat pembelian 289 ton emas pada kuartal II, lebih dari lima kali lipat dari kuartal sebelumnya yang hanya 57 ton. Ini pembelian kuartalan terbesar kedua sepanjang sejarah.

Polandia jadi pembeli terbesar dengan tambahan 51 ton, disusul China 33 ton — pembelian kuartalan terbesar China sejak akhir 2023.

Kenaikan harga ternyata tidak membuat bank sentral mundur. Justru memperkuat alasan diversifikasi cadangan.

Hasil Central Bank Gold Reserves Survey WGC menunjukkan 89% responden memperkirakan cadangan emas resmi akan naik dalam 12 bulan ke depan, sementara 45% berencana menambah kepemilikan.

"Yang terlihat dari paruh pertama adalah permintaan emas oleh bank sentral yang berlanjut meskipun tidak merata. Sentimen bank sentral terhadap emas tetap sangat kuat," ujar analis WGC.

Di tengah kuatnya investasi, perhiasan justru melemah.

Permintaan turun 17% jadi 278 ton, permintaan kuartalan terendah sejak pandemi. China anjlok 28%, India turun 15%. Konsumen menahan belanja karena harga tinggi.

Tapi nilainya tetap besar. Nilai permintaan perhiasan global mencapai US$40 miliar atau sekitar Rp722 triliun pada kuartal II dan US$85 miliar atau sekitar Rp1,5 kuadriliun sepanjang semester pertama.

Polanya berubah. Konsumen kini lebih pilih perhiasan ringan, kadar lebih rendah, dan memanfaatkan program tukar tambah. Di beberapa negara, batangan dan koin makin diminati karena spread lebih tipis dan ada keuntungan pajak.

Dari sisi pasokan, suplai global stabil di 1.269 ton. Produksi tambang naik 2% jadi rekor 966 ton pada kuartal II, sementara daur ulang turun 6% karena koreksi harga bikin orang enggan menjual perhiasan lama. WGC menilai ekspektasi harga yang masih tinggi dan belum adanya krisis keuangan global ikut menahan pasokan daur ulang.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait