Peretas Serang Sistem Air Minum di Tujuh Negara Bagian AS, FBI dan EPA Keluarkan Peringatan Nasional

Biro Investigasi Federal (FBI) dan Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) mengeluarkan peringatan nasional pada Kamis (30/7), setelah peretas menyerang sistem pengolahan air minum di setidaknya tujuh negara bagian Amerika Serikat sepanjang pekan ini.
Sejumlah perusahaan utilitas air dan air limbah melaporkan insiden tersebut kepada FBI, dan sebagian aktivitas jahat itu disebut sempat mengganggu operasional pengolahan air. Pengumuman resmi kedua lembaga itu tidak menyebutkan nama negara bagian mana saja yang terdampak.
Peringatan ini muncul tak lama setelah lebih dari 30 fasilitas air minum milik pemerintah daerah di Minnesota diretas, dengan pola serangan yang menurut seorang pejabat penegak hukum memiliki ciri khas campur tangan Iran. Kasus Minnesota itu sendiri masih dalam penyelidikan, dan belum ada kesimpulan resmi soal siapa dalangnya.
Juru bicara badan layanan teknologi informasi Minnesota menegaskan Kamis lalu bahwa tidak ada indikasi peretasan tersebut sampai mencemari pasokan air minum warga. Namun Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS (CISA), lewat peringatan terpisah, menyebut sejumlah serangan yang lebih besar terhadap infrastruktur air di lokasi lain — yang tidak disebutkan namanya — sempat memicu imbauan merebus air (boil water notice) dan memaksa operator beralih ke mode operasi manual.
Baik pejabat Minnesota maupun pemerintah federal AS sampai saat ini belum secara resmi menuding pihak tertentu sebagai pelaku di balik insiden di negara bagian itu. FBI dan EPA pun tidak mengidentifikasi pelaku di enam negara bagian lain yang turut terdampak.
Meski begitu, sejumlah penyidik federal — sebagaimana dilaporkan CBS News secara terpisah — disebut cenderung meyakini kelompok peretas yang terafiliasi Iran sebagai pihak yang paling mungkin bertanggung jawab. Keyakinan itu didasarkan pada dua hal: waktu kejadian yang berdekatan dengan pembaruan peringatan CISA sebelumnya soal target siber Iran terhadap sistem kendali industri, serta pola operasi yang mirip teknik kelompok peretas yang sebelumnya dikaitkan dengan Iran.
Sampai berita ini ditulis, belum ada dakwaan yang diajukan dan belum ada satu negara pun yang secara resmi dituding sebagai pelaku. Sebagian penyidik disebut bahkan tengah mendalami kemungkinan lain: bahwa serangan ini sengaja dirancang meniru gaya peretas terkait Iran, untuk mengalihkan kecurigaan. Ini baru dugaan yang masih diselidiki, bukan kesimpulan.
Isu ini dengan cepat berubah jadi perdebatan politik. Presiden Donald Trump, saat berbicara kepada wartawan di Camp David, Jumat (31/7), justru mengarahkan kritik ke pemerintah Minnesota dan gubernurnya, Tim Walz — yang pada Pilpres 2024 menjadi calon wakil presiden dari Partai Demokrat.
"Saya rasa saya menyalahkan Minnesota karena mereka sangat tidak becus," kata Trump. "Saya akan menyalahkan Minnesota dan gubernurnya, gubernur Minnesota yang korup itu. Mereka suka bilang, 'Oh, ini Iran.' Iran harusnya seberuntung itu. Iran punya masalah yang lebih besar ketimbang mengurusi Minnesota."
Walz membalas lewat pernyataan tertulis. "Trump tahu persis siapa yang bertanggung jawab atas serangan ini, dan dia juga tahu negara bagian lain turut terkena dampaknya. Inilah wajah perang modern, dan ini makin menunjukkan tidak ada rencana untuk memenangkan perang melawan Iran," ujarnya.
Perlu dicatat, pernyataan semacam ini adalah klaim politik dari masing-masing pihak, bukan fakta yang sudah terverifikasi oleh penyelidikan resmi. FBI dan EPA sendiri, dalam advisori mereka, memilih tidak berfokus pada soal siapa pelakunya, melainkan lebih menyoroti cara kerja serangan tersebut dan langkah mitigasi yang perlu diambil operator.
Menurut penjelasan FBI dan EPA, para pelaku — yang mereka sebut sebagai malicious cyber actors atau MCA — menyasar merek-merek tertentu dari sistem kendali yang lazim dipakai utilitas air kota. Meski demikian, kedua lembaga mendesak seluruh operator sistem air, apa pun mereknya, untuk tetap meningkatkan kewaspadaan.
Secara teknis, peretas dilaporkan mengakses perangkat yang terhubung ke internet dari jarak jauh, lalu mengubah alamat IP dan kata sandi perangkat tersebut. Akibatnya, sejumlah utilitas kehilangan kemampuan memonitor dan mengendalikan sistem mereka sendiri. Salah satu risiko paling serius dari gangguan semacam ini adalah turunnya tekanan air dalam pipa distribusi.
Ini penting dipahami: jaringan pipa air minum normalnya dijaga bertekanan positif, biasanya berkisar 40 hingga 80 psi, agar air mengalir searah dari instalasi pengolahan menuju rumah-rumah warga. Kalau tekanan itu anjlok — misalnya akibat sabotase siber — ada risiko air tanah yang belum diolah justru meresap masuk ke pipa lewat celah-celah kecil, sebuah fenomena yang dikenal sebagai backsiphonage. Itulah sebabnya turunnya tekanan air dianggap berbahaya, bukan sekadar gangguan teknis biasa.
Untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, advisori federal merekomendasikan operator sistem air menarik programmable logic controller atau PLC — perangkat pengendali otomatis yang mengatur peralatan seperti pompa dan katup — agar tidak lagi terhubung langsung ke internet.
Perangkat itu sebaiknya ditempatkan di balik gateway aman dan firewall, memakai kata sandi yang kuat, serta membatasi komunikasi antarperangkat kendali hanya pada daftar yang sudah diotorisasi.
Awal pekan ini, Departemen Sumber Daya Alam Wisconsin (DNR) mengirimkan buletin kepada kontak-kontak utilitas air di negara bagian itu. Isinya, pejabat intelijen menilai sistem-sistem di Wisconsin berpotensi rentan terhadap koneksi dari pelaku siber jahat.
"Ini membuat kami meyakini ancaman siber ini masih berlangsung di Wisconsin dan memerlukan tindakan segera untuk mencegah dampak serius terhadap sistem kami," demikian bunyi buletin tersebut.
Juru bicara DNR Wisconsin kemudian menegaskan bahwa pejabat intelijen negara bagian itu "belum mengonfirmasi adanya koneksi mencurigakan pada sistem di Wisconsin, tetapi khawatir sistem tersebut mungkin rentan terhadap koneksi dari pelaku siber jahat." Dengan kata lain, ancaman terhadap Wisconsin sifatnya masih berupa kewaspadaan, bukan insiden yang sudah terkonfirmasi.
Dalam buletin itu pula, Wisconsin menyebut Minnesota telah melaporkan bahwa peretas berhasil menurunkan tekanan sejumlah sistem air, yang dalam beberapa kejadian memicu alarm dan mendatangkan respons dari aparat penegak hukum. Namun klaim ini langsung dibantah oleh pihak Minnesota.
Emily Zimmer, juru bicara badan layanan teknologi informasi Minnesota, menyatakan lewat surel bahwa uraian Wisconsin tersebut tidak akurat. "Minnesota tidak pernah melaporkan bahwa pelaku ancaman menurunkan tekanan di berbagai sistem air, atau bahwa perubahan tekanan itu memicu respons penegak hukum," kata Zimmer.
Zimmer juga menekankan bahwa proses menentukan siapa pelaku sesungguhnya bukan perkara sederhana. "Atribusi memerlukan analisis cermat terhadap bukti teknis, digabungkan dengan intelijen ancaman yang lebih luas baik dari dalam maupun luar negeri, dan mitra federal kamilah yang paling tepat memimpin pekerjaan itu," ujarnya.
Peretasan di Minnesota terjadi hanya beberapa hari setelah pejabat AS secara terbuka memperingatkan bahwa peretas yang didukung Iran tengah menyasar infrastruktur vital negara itu, di tengah eskalasi konflik militer antara Washington dan Teheran yang sudah berjalan berbulan-bulan.
Dalam advisori publik tertanggal 22 Juli, CISA bersama FBI dan sejumlah lembaga federal lain mendesak perusahaan-perusahaan meningkatkan pertahanan siber mereka, karena peretas yang terkait Teheran disebut mencoba membobol perangkat otomatis berbasis internet yang dipakai untuk mengelola sistem infrastruktur.
Pola semacam ini juga bukan hal asing. Badan-badan intelijen AS sebelumnya pernah memperingatkan bahwa Iran memiliki kemampuan dan kemauan yang makin besar untuk melancarkan operasi siber agresif, dan pernah mencoba menyasar sistem air AS pada 2023 — saat itu, aktor yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memanfaatkan kontroler yang terhubung internet namun masih memakai kata sandi bawaan pabrik.
Bryson Bort, pendiri perusahaan keamanan siber Scythe dan pakar keamanan sistem kendali industri, menilai terbukanya kasus ini ke publik seharusnya menjadi pengingat penting. Menurutnya, insiden semacam ini menunjukkan ada pihak yang benar-benar berniat merugikan Amerika Serikat, bukan sekadar ancaman teoretis.
"Kita perlu bersiap," kata Bort. "Serangan semacam ini menggambarkan bahwa hari ini ada pihak-pihak yang memang berniat mencelakai Amerika Serikat."
Bagi pembaca di luar Amerika Serikat, kasus ini punya relevansi yang lebih luas: ia memperlihatkan betapa rentannya infrastruktur dasar seperti sistem air minum ketika bergantung pada perangkat kendali yang terhubung internet tanpa pengamanan berlapis — sebuah persoalan yang juga dihadapi banyak negara lain, termasuk Indonesia, seiring makin banyaknya fasilitas publik yang mengadopsi sistem kendali jarak jauh.
Sampai artikel ini disusun, penyelidikan atas siapa dalang sesungguhnya di balik rentetan serangan ini masih berlangsung. Belum ada kepastian resmi soal keterlibatan Iran, dan pihak berwenang menegaskan proses atribusi semacam ini membutuhkan waktu serta bukti teknis yang matang sebelum bisa disimpulkan.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda