Breaking
Memuat breaking news...

Pengamat: Reformasi Polri Perlu Dinilai dari Berbagai Indikator, Bukan Hanya Survei Persepsi

Qaplo
Qaplo
Selasa, 7 Juli 2026 - 12.24 PM WIB
Pengamat: Reformasi Polri Perlu Dinilai dari Berbagai Indikator, Bukan Hanya Survei Persepsi
ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA - Perdebatan mengenai tingkat kepercayaan publik terhadap Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) kembali mengemuka setelah hasil Police Corruption Perceptions Index yang dirilis IndexMundi Global Surveys pada awal Juli menempatkan tingkat persepsi ketidakpercayaan terhadap Polri pada skor 7,56. Menanggapi hasil tersebut, pengamat politik Boni Hargens menilai evaluasi terhadap reformasi dan transformasi Polri perlu dilakukan secara lebih menyeluruh dan tidak hanya bertumpu pada satu survei berbasis persepsi.

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa, Boni mengatakan reformasi Polri merupakan proses jangka panjang yang mencakup berbagai aspek kelembagaan, mulai dari pembenahan budaya organisasi, perbaikan sistem rekrutmen, peningkatan transparansi pengelolaan anggaran, hingga penguatan mekanisme pengawasan dan pengaduan masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan reformasi sebuah institusi penegak hukum tidak cukup diukur dari satu indikator tunggal. Penilaian yang lebih komprehensif diperlukan agar publik memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan yang terjadi di dalam institusi tersebut.

"Kepemimpinan yang berorientasi reformasi menjadi faktor kunci dalam mendorong perubahan yang nyata dan terukur," kata Boni.

Survei Persepsi Perlu Dibaca Secara Proporsional

Boni menjelaskan bahwa indeks yang dirilis IndexMundi mengukur persepsi masyarakat terhadap potensi korupsi pada lembaga publik dan aparat penegak hukum. Karena berbasis persepsi, hasil survei tersebut mencerminkan pandangan responden pada periode tertentu, bukan data pelanggaran hukum yang telah dibuktikan melalui proses hukum.

Menurut dia, persepsi publik dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pengalaman pribadi masyarakat, intensitas pemberitaan media, kondisi sosial, maupun tingkat kepercayaan historis terhadap suatu institusi.

Karena itu, hasil survei semacam ini tetap memiliki nilai sebagai bahan evaluasi, tetapi tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menilai kinerja maupun keberhasilan reformasi sebuah lembaga.

Ia juga menyoroti pentingnya keterbukaan metodologi dalam setiap penelitian. Informasi mengenai jumlah responden, teknik pengambilan sampel, sebaran wilayah responden, serta proses verifikasi data dinilai penting untuk membantu publik memahami tingkat representativitas sebuah survei.

"Ketidakjelasan ini membuka ruang bagi berbagai interpretasi, baik dari pihak yang menggunakan data tersebut sebagai kritik terhadap institusi maupun pihak yang menolaknya secara defensif," ujarnya.

Reformasi Polri Mencakup Lebih dari Sekadar Citra Publik

Boni menilai transformasi Polri tidak hanya berkaitan dengan persepsi masyarakat, tetapi juga menyangkut perubahan tata kelola kelembagaan dan kualitas pelayanan publik.

Beberapa aspek yang dapat digunakan untuk mengukur kemajuan reformasi antara lain peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat, efektivitas penegakan hukum, penguatan sistem pengawasan internal, transparansi kelembagaan, serta tingkat akuntabilitas dalam menjalankan tugas.

Menurutnya, indikator-indikator tersebut perlu dilihat secara bersamaan agar evaluasi terhadap Polri tidak hanya berfokus pada aspek citra, tetapi juga pada perubahan yang dapat diukur secara objektif.

Boni juga menyebut bahwa dalam beberapa tahun terakhir terdapat berbagai upaya pembenahan yang dilakukan Polri. Namun, ia menekankan bahwa reformasi institusi harus terus berjalan dan dievaluasi secara berkala untuk menjawab tuntutan masyarakat yang terus berkembang.

Mengapa Kepercayaan Publik Penting?

Kepercayaan publik merupakan salah satu modal utama bagi institusi penegak hukum. Tingkat kepercayaan masyarakat dapat memengaruhi efektivitas pelaksanaan tugas kepolisian, mulai dari penegakan hukum, penanganan laporan masyarakat, hingga kerja sama publik dalam menjaga keamanan.

Dalam kajian kebijakan publik, penilaian terhadap sebuah institusi umumnya menggunakan kombinasi data persepsi dan data faktual. Data persepsi berguna untuk melihat pandangan masyarakat, sedangkan data faktual digunakan untuk mengukur kinerja berdasarkan indikator yang dapat diverifikasi.

Karena itu, kedua pendekatan tersebut dinilai saling melengkapi dan dapat menjadi bahan evaluasi yang lebih seimbang.

Tantangan Reformasi ke Depan

Pembahasan mengenai reformasi Polri diperkirakan akan terus menjadi perhatian publik karena kepolisian memiliki peran strategis dalam menjaga keamanan, menegakkan hukum, dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Boni menilai tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan program reformasi yang telah berjalan, tetapi juga memastikan manfaat perubahan tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat melalui pelayanan yang lebih profesional, transparan, dan akuntabel.

Dengan demikian, evaluasi terhadap transformasi Polri dinilai perlu menggunakan berbagai indikator yang relevan dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga menghasilkan penilaian yang lebih utuh serta menghindari kesimpulan yang hanya bertumpu pada satu sumber data.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait