Pemimpin Tertinggi Iran Lantik Enam Komandan Militer Baru, Isi Kekosongan Akibat Serangan AS-Israel

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei resmi melantik enam komandan senior militer pada Senin (10/8), mengisi jabatan-jabatan yang kosong di jajaran Angkatan Bersenjata, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan pasukan paramiliter Basij. Perombakan ini menjadi bagian dari upaya Teheran membangun ulang struktur komando setelah berbulan-bulan diguncang serangan udara Amerika Serikat dan Israel.
Pengumuman itu disampaikan lewat kantor Khamenei dan disebarluaskan melalui media sosial. Enam nama yang dilantik adalah Ali Abdollahi sebagai kepala staf angkatan bersenjata, Kioumars Heydari sebagai wakilnya, Ahmad Vahidi sebagai panglima IRGC dengan pangkat mayor jenderal, Mostafa Izadi sebagai wakil panglima IRGC, Ali Azmaei sebagai komandan Angkatan Laut IRGC, dan Hossein Taeb sebagai komandan Basij.
Jabatan-jabatan ini kosong bukan tanpa sebab. Sebagian besar pejabat sebelumnya tewas dalam rangkaian serangan Amerika Serikat dan Israel yang memicu perang terbuka sejak 28 Februari 2026. Pada hari pertama serangan itu, tiga komandan senior — termasuk Kepala Staf Abdolrahim Mousavi, Panglima IRGC Mohammad Pakpour, dan Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh — tewas bersamaan. Ayatollah Ali Khamenei, yang menjabat Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989, turut tewas dalam serangan tersebut.
Mojtaba Khamenei kemudian ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi baru pada 8 Maret 2026, menggantikan ayahnya. Sepekan setelahnya, giliran Ali Larijani, saat itu Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dan Gholamreza Soleimani, komandan Basij, tewas dalam serangan pada 17 Maret. Posisi-posisi itulah yang kini mulai diisi kembali lewat dekret resmi.
Beberapa nama yang dilantik punya catatan yang selama ini jadi sorotan internasional. Ahmad Vahidi, yang kini memimpin IRGC, sudah bertahun-tahun berstatus buron lewat Interpol Red Notice yang diajukan pemerintah Argentina. Ia dituding terlibat dalam pengeboman pusat komunitas Yahudi AMIA di Buenos Aires pada 1994 yang menewaskan 85 orang dan melukai ratusan lainnya — saat itu Vahidi menjabat komandan pasukan Quds. Iran sendiri konsisten membantah keterlibatan dalam serangan tersebut, dan status red notice itu bukan perintah penangkapan internasional, melainkan semacam peringatan bagi negara-negara anggota Interpol.
Hossein Taeb, mantan kepala Organisasi Intelijen IRGC yang kini memimpin Basij, masuk daftar sanksi Departemen Keuangan Amerika Serikat sejak 2010 atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia berat, menyusul kerusuhan pascapemilihan presiden Iran 2009 yang kontroversial.
Kioumars Heydari, wakil kepala staf yang baru dilantik, disanksi Amerika Serikat pada 2022 setelah Departemen Keuangan menyebut ia secara terbuka mengakui keterlibatan pasukannya dalam penindasan protes November 2019 di Iran — aksi yang menewaskan ratusan pengunjuk rasa. Uni Eropa turut menjatuhkan sanksi serupa terhadapnya.
Dr. Omar Mohammed, direktur Antisemitism Research Initiative di Program on Extremism, George Washington University, menilai waktu dan cara pengumuman ini bukan kebetulan. Ia menyoroti fakta bahwa pengumuman itu dirilis dalam bahasa Inggris di platform X, bersamaan dengan proses negosiasi Iran dan Oman soal jalur pelayaran di Selat Hormuz.
"Secara strategis, ini adalah pengurutan yang disengaja. Teheran sedang menetapkan struktur komandonya sebagai fakta di lapangan sebelum menandatangani apa pun," kata Mohammed, seperti dikutip Fox News Digital.
Ia juga menyoroti bahasa dalam dekret pelantikan yang menyalahkan kematian para pendahulu pejabat baru itu pada apa yang disebut Iran sebagai "musuh Zionis-Amerika". Menurut Mohammed, frasa semacam itu dalam dokumen resmi negara berpotensi menempatkan Amerika Serikat sebagai pihak yang dianggap ikut berperang langsung oleh Iran.
Penting dicatat, ini merupakan analisis dari satu pengamat yang berbasis di lembaga riset Amerika Serikat, bukan pernyataan resmi dari otoritas Iran soal maksud di balik pelantikan tersebut. Belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran terkait interpretasi ini.
Mohammed menambahkan bahwa Vahidi diinstruksikan Pemimpin Tertinggi untuk menjaga kesiapan "operasi ofensif yang kuat terhadap musuh", sementara Abdollahi ditugaskan merampungkan integrasi Staf Umum ke dalam komando gabungan masa perang Khatam al-Anbiya. "Negara yang tengah keluar dari konflik biasanya membubarkan struktur komando masa perangnya. Tapi Iran justru sedang melembagakannya," ujar Mohammed.
Pelantikan ini muncul di tengah pertanyaan yang belum terjawab soal kondisi kesehatan dan ketidakhadiran publik Mojtaba Khamenei. Presiden Masoud Pezeshkian mengklaim Senin telah melakukan pertemuan hampir tujuh jam dengan Khamenei — hanya pertemuan kedua yang diungkap ke publik sejak Khamenei menjabat Pemimpin Tertinggi, menurut laporan Iran International.
Khamenei sendiri belum pernah tampil di depan publik sejak ditunjuk pada Maret, dan diyakini sempat terluka dalam serangan 28 Februari yang menewaskan ayahnya. Pezeshkian menyebut pertemuan itu membahas kondisi ekonomi, sanksi, dan tantangan domestik lain, dengan Khamenei menekankan pentingnya "persatuan dan kekompakan". Klaim soal isi pertemuan ini berasal dari pernyataan Pezeshkian sendiri dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Meski enam posisi militer sudah terisi, perombakan ini menurut Mohammed belum menyentuh bagian paling sensitif dari aparat keamanan Iran: dunia intelijen. Organisasi Intelijen IRGC beserta unit kontraintelijennya masih belum punya kepala definitif, dan Iran hingga kini tidak memiliki menteri pertahanan maupun menteri intelijen permanen.
"Penunjukan-penunjukan itu mengharuskan adanya pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan kontraintelijen yang memungkinkan serangan 'pemenggalan kepala' Februari lalu terjadi," kata Mohammed. "Siapa pun yang memenangkan pertarungan itu — lingkaran dalam Pemimpin Tertinggi atau kepemimpinan institusional Garda Revolusi — dialah yang sebenarnya memegang kendali."
Pernyataan ini menegaskan bahwa di balik pelantikan resmi yang tampak sebagai formalitas administratif, masih ada pertarungan pengaruh yang belum selesai di internal elite keamanan Iran — sesuatu yang kemungkinan baru akan terlihat jelas dalam beberapa bulan ke depan.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda