Pemerintah Klaim Krisis Pasokan Batu Bara PLTU Teratasi, PLN Perkuat Keandalan ListrikPemerintah Klaim Krisis Pasokan Batu Bara PLTU Teratasi, PLN Perkuat Keandalan Listrik

JAKARTA – Pemerintah menyatakan persoalan pasokan batu bara berkalori menengah yang menjadi bahan bakar utama pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) telah berhasil diatasi. Kondisi tersebut diharapkan memperkuat keandalan pasokan listrik nasional setelah sebelumnya sempat terjadi gangguan akibat keterbatasan distribusi batu bara.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pasokan batu bara untuk kebutuhan pembangkit kini kembali berjalan normal.
> "Sekarang semuanya sudah berjalan, tidak ada lagi masalah terkait batu bara," kata Bahlil usai meresmikan pabrik mini LNG PT Sumber Aneka Gas di Tuban, Jawa Timur, Kamis.
Menurut Bahlil, pemerintah terus memperkuat infrastruktur energi sekaligus memastikan rantai pasok bahan bakar pembangkit tetap terjaga agar kebutuhan listrik masyarakat maupun sektor industri tidak terganggu.
Batu Bara Kalori Menengah Jadi Kebutuhan Utama PLTU
Batu bara yang dimaksud memiliki nilai kalor sekitar 5.200 kilokalori per kilogram (GAR/Gross As Received). Jenis batu bara ini menjadi spesifikasi utama yang digunakan PT PLN (Persero) untuk mengoperasikan PLTU sebagai penyedia listrik beban dasar (baseload).
Baseload merupakan pasokan listrik yang harus tersedia secara terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama 24 jam. Karena itu, ketersediaan batu bara dengan spesifikasi yang sesuai menjadi faktor penting dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional.
Sebelumnya, keterbatasan pasokan batu bara sempat memengaruhi operasional sejumlah pembangkit dan menyebabkan gangguan layanan listrik di beberapa daerah. Situasi tersebut mendorong pemerintah memperkuat koordinasi antara PLN, perusahaan tambang, dan pelaku distribusi batu bara.
Pemerintah Bentuk Satgas Pengawasan
Sebagai langkah antisipasi, Kementerian ESDM sebelumnya membentuk satuan tugas (satgas) yang bertugas mengawasi pengadaan batu bara untuk PLN.
Langkah tersebut diambil agar persoalan serupa tidak kembali terjadi, mengingat Indonesia pernah mengalami tekanan pasokan batu bara, termasuk pada periode krisis energi tahun 2022.
Bahlil menilai pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting sehingga pengawasan distribusi dan koordinasi antar-pemangku kepentingan harus diperkuat demi menjaga ketahanan energi nasional.
Harga Batu Bara untuk PLN Berpeluang Dikaji
Selain memastikan pasokan kembali normal, pemerintah juga membuka peluang mengevaluasi harga batu bara yang dipasok kepada PLN.
Wacana tersebut muncul karena produsen menghadapi kenaikan biaya produksi, sementara pasokan batu bara berkalori menengah dinilai semakin menantang untuk dipenuhi secara konsisten.
Kajian tersebut berkaitan dengan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO), yaitu kewajiban produsen batu bara memasok sebagian produksinya untuk kebutuhan dalam negeri. Dalam skema yang berlaku saat ini, harga batu bara untuk PLN dibatasi maksimal US$70 per ton guna menjaga tarif listrik tetap terjangkau bagi masyarakat.
PLN Pastikan Distribusi Batu Bara Berjalan Lancar
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan distribusi batu bara dengan spesifikasi yang dibutuhkan PLTU telah berjalan lancar dalam beberapa pekan terakhir, terutama untuk sistem kelistrikan di Jawa dan Sumatra.
"Pasokan energi primer berupa batu bara yang memenuhi spesifikasi pembangkit berjalan dengan lancar," ujar Darmawan.
Ia menambahkan, sistem pemantauan logistik menunjukkan distribusi batu bara berada dalam kondisi stabil. Dengan dukungan pasokan yang lebih baik, upaya peningkatan keandalan sistem kelistrikan di Pulau Jawa maupun wilayah lain dapat dilakukan secara bertahap.
Ke depan, PLN menyatakan akan terus memperbaiki tata kelola rantai pasok batu bara serta meningkatkan keandalan pembangkit listrik agar sistem kelistrikan nasional semakin tangguh dalam menghadapi lonjakan kebutuhan energi.

Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda