Breaking
Memuat breaking news...

Pejabat AS dan Eropa: Rusia Bagikan Intelijen ke Iran Saat Perang dengan AS Terus Berlanjut

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 1 Agustus 2026 - 6.03 AM WIB
Pejabat AS dan Eropa: Rusia Bagikan Intelijen ke Iran Saat Perang dengan AS Terus Berlanjut
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Rusia diduga membagikan intelijen kepada Iran yang kemungkinan besar membantu Teheran melacak keberadaan pasukan Amerika Serikat dalam serangan udara, sekaligus mengganggu (jamming) senjata-senjata buatan AS. Begitu keterangan seorang pejabat Amerika Serikat dan seorang pejabat Eropa yang mengetahui langsung persoalan ini, sebagaimana dilaporkan NBC News.

Menurut keduanya, pengawasan satelit dan intelijen sinyal — yakni penyadapan komunikasi elektronik dan radar untuk mendeteksi pergerakan lawan — dari Rusia kemungkinan membuat Iran lebih mampu bertahan dari serangan udara AS. Bantuan itu juga disebut membantu Iran menyempurnakan serangan udaranya sendiri. Belum ada rincian resmi mengenai seberapa luas cakupan bantuan ini, atau mekanisme pasti pertukaran datanya.

Laporan ini muncul di tengah situasi yang oleh NBC News sendiri digambarkan sebagai "perang yang terus berlanjut" — mengisyaratkan bahwa konflik antara AS dan Iran, yang meletus sejak akhir Februari lalu, belum benar-benar usai meski sempat melewati beberapa jeda dan upaya gencatan senjata.

Dugaan keterlibatan Rusia ini sebetulnya bukan hal baru. Pada awal Maret lalu, Washington Post lebih dulu melaporkan — dan kemudian dikonfirmasi terpisah oleh CBS News dan CNN — bahwa Moskow memberikan Iran informasi soal lokasi kapal perang dan pesawat AS di kawasan Timur Tengah. Sebagian besar informasi itu disebut berasal dari citra satelit pengintai canggih milik Rusia.

CBS News saat itu menyebut kabar tersebut sebagai indikasi pertama yang diketahui publik bahwa Rusia, salah satu rival utama AS, turut membantu Iran secara tidak langsung dalam perang tersebut. CNN mencatat hal serupa, sekaligus menegaskan belum jelas apa yang didapat Rusia sebagai imbalan, dan belum ada satu pun serangan Iran yang bisa dipastikan terkait langsung dengan intelijen dari Rusia tersebut.

Kremlin sejauh ini belum pernah mengonfirmasi tudingan ini secara terbuka. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menolak berkomentar ketika dimintai tanggapan oleh Washington Post. CIA pun menyatakan tidak ingin berkomentar soal isu pembagian intelijen tersebut.

Yang menarik, isu ini sempat dibahas dalam forum resmi. Pada 18 Maret, Direktur CIA John Ratcliffe mengonfirmasi di hadapan Kongres bahwa Iran memang meminta bantuan intelijen dari Rusia — juga dari China dan negara-negara lain yang berseberangan dengan AS — meski ia tidak bersedia menyebutkan secara terbuka apakah permintaan itu benar-benar dipenuhi. "Itu sesuatu yang bisa kita bahas dalam sesi tertutup," katanya di hadapan Komite Intelijen Senat.

Ratcliffe pun menyampaikan sikap skeptis terhadap bantahan Presiden Rusia Vladimir Putin. Sebelumnya, utusan khusus AS Steve Witkoff mengatakan Putin membantah membagikan intelijen apa pun kepada Iran saat berbicara dengan Presiden Donald Trump lewat telepon, dan Witkoff menilai pernyataan itu bisa dipercaya. Namun Ratcliffe punya pandangan berbeda saat ditanya soal itu di sesi terbuka. "Tidak, saya tidak begitu saja mempercayai perkataan Vladimir Putin," ujarnya.

Konflik ini berawal dari operasi militer gabungan AS dan Israel bersandi "Operation Epic Fury", yang dilancarkan pada 28 Februari 2026. Serangan pembuka pada hari pertama menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan memicu balasan besar-besaran dari Iran berupa rudal dan drone ke berbagai sasaran di kawasan Teluk.

Fase pertempuran paling intens berlangsung sekitar sebulan lebih, sebelum Trump mengumumkan jeda pada awal Mei dengan alasan ada "kemajuan besar" menuju kesepakatan dengan Iran. Namun jeda itu tidak bertahan lama sebagai penyelesaian akhir. Perselisihan berlanjut seputar kendali atas Selat Hormuz — jalur pelayaran vital tempat Iran berulang kali memperingatkan, bahkan menembaki, kapal-kapal yang melintas tanpa mengikuti aturan yang mereka tetapkan sepihak, termasuk upaya memungut semacam biaya lintas dari kapal-kapal asing.

Ketegangan di Selat Hormuz itulah yang berulang kali memicu baku tembak baru antara kedua pihak sepanjang Juni dan Juli, jauh setelah operasi militer awal secara resmi dinyatakan usai. Dengan kata lain, meski sempat ada beberapa jeda dan pertemuan diplomatik, konflik ini pada dasarnya belum benar-benar berakhir hingga laporan terbaru soal keterlibatan Rusia ini muncul.

Kedekatan militer Rusia dan Iran bukan hal baru. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Iran diketahui memasok drone Shahed dalam jumlah besar kepada Rusia untuk menyerang kota-kota dan infrastruktur Ukraina, bahkan membantu Moskow membangun fasilitas produksi drone bergaya Iran di dalam negeri Rusia sendiri. Sebagai imbalannya, menurut laporan CNN, Iran disebut meminta bantuan Rusia untuk memperkuat program nuklirnya.

Pola hubungan timbal balik semacam itu membuat sejumlah analis menilai wajar jika Rusia kini membalas budi dengan berbagi intelijen, di tengah situasi Iran yang kemampuan pertahanannya sendiri banyak terkikis akibat gempuran AS dan Israel sejak akhir Februari.

Isu ini juga menambah rumit hubungan Washington dan Moskow, yang sedang berada dalam masa sensitif. AS tengah berupaya menjadi penengah dalam perundingan damai antara Rusia dan Ukraina, sementara Kremlin sampai sekarang belum menunjukkan tanda akan melunak soal isu wilayah dan sejumlah tuntutan lain.

Jika terbukti benar dan berkelanjutan, bantuan intelijen Rusia kepada Iran berpotensi menjadi titik gesekan baru yang bisa memengaruhi jalannya perundingan tersebut — meski sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah AS yang mengaitkan kedua isu tersebut secara langsung.

Bagi publik yang mengikuti perkembangan perang ini, laporan terbaru NBC News menegaskan satu hal: pola bantuan Rusia kepada Iran yang pertama kali terungkap Maret lalu tampaknya belum berhenti, bahkan ketika perang sudah memasuki bulan kelima lebih. Sampai artikel ini ditulis, belum ada konfirmasi independen mengenai skala pasti bantuan tersebut, dan Kremlin belum memberikan tanggapan resmi atas laporan terbaru ini.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait