Jakarta — Dunia dipastikan gagal menahan laju pemanasan global pada angka 1,5 derajat Celcius. Laporan tahunan Program Lingkungan PBB (UNEP) yang terbit Rabu (21/10/2026) menyatakan bahwa melampaui ambang batas suhu tersebut kini tak terhindarkan dalam waktu dekat.
Dokumen bertajuk Emissions Gap Report itu memproyeksikan suhu rata-rata global akan naik 2,8 derajat Celcius di atas level pra-industri pada akhir abad ini bila kebijakan iklim berjalan seperti sekarang. Kalaupun seluruh janji iklim baru negara-negara dipenuhi, pemanasan tetap diprediksi mencapai 2,6 derajat Celcius — dua skenario yang sama-sama menjerumuskan dunia ke periode cuaca ekstrem yang katastrofik.
Laporan ini mencerminkan jurang antara janji dan tindakan pemerintah. Sebanyak 167 negara telah menyerahkan rencana aksi iklim ke PBB yang mencakup 83 persen emisi gas rumah kaca global, tetapi komitmen pemangkasan emisi itu jauh dari cukup untuk menahan laju pemanasan.
Di antara para pencemar terbesar, Indonesia, China, dan Amerika Serikat justru mencatatkan kenaikan emisi pada 2025 berdasarkan estimasi awal. Lonjakan di AS jauh melampaui semua negara lain, didorong kebangkitan batu bara — sumber energi fosil terkotor — serta melonjaknya kebutuhan listrik yang sebagian dipicu ekspansi besar-besaran pusat data kecerdasan buatan.
Prospek iklim memburuk salah satunya akibat mundurnya Presiden AS Donald Trump dari Perjanjian Paris, kesepakatan iklim bersejarah yang disepakati dunia pada 2015. AS merupakan pencemar tahunan terbesar kedua di dunia. Sejak kembali ke Gedung Putih untuk periode kedua, pemerintahan Trump memangkas habis regulasi lingkungan dan memperluas produksi minyak dan gas.
Pesan utamanya sederhana, kata Bill Hare, CEO lembaga sains dan kebijakan global Climate Analytics, menanggapi laporan tersebut: pemerintah harus segera memberlakukan kebijakan yang memangkas penggunaan bahan bakar fosil secepat mungkin.
Apa Artinya Melampaui 1,5 Derajat?
Melampaui 1,5 derajat Celcius, meski sementara, menempatkan umat manusia pada lintasan berbahaya. Risikonya termasuk terpicunya titik kritis yang berpotensi tak bisa dipulihkan — seperti punahnya terumbu karang, surutnya lapisan es dalam jangka panjang, dan berubahnya Hutan Hujan Amazon menjadi padang rumput.
Ketika ekosistem lenyap dan permukaan laut naik, perubahan itu bisa memicu reaksi berantai yang mematikan: melepaskan lebih banyak gas rumah kaca dan mempercepat pemanasan, sehingga peluang cuaca ekstrem yang mematikan melonjak drastis.
Musim panas tahun ini saja, Eropa mencatat lebih dari 32.000 kematian berlebih akibat gelombang panas, sementara hampir 1.500 orang tewas dalam banjir bandang di Nepal dan Tibet setelah perubahan iklim menciptakan kondisi runtuhnya gletser.
Namun para ilmuwan menegaskan 1,5 derajat Celcius bukanlah angka ajaib — setiap pecahan derajat pemanasan membawa risiko yang kian besar. Untuk menekan risiko kerusakan di masa depan, negara-negara tetap harus fokus beralih cepat dari bahan bakar fosil, penyumbang terbesar perubahan iklim, menuju energi terbarukan seperti surya dan angin.
Overshoot is not surrender. We can still keep it as small and as short as possible — and bring temperatures back below 1.5 degrees before the end of the century.
— Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres
Kini skenario terbaik adalah melampaui 1,5 derajat Celcius untuk waktu yang singkat sebelum menurunkannya kembali dengan cepat.
Masih Ada Jalan Keluar
UNEP memaparkan skenario di mana pemanasan memuncak di kisaran 1,7 hingga 1,8 derajat Celcius sekitar pertengahan abad, lalu turun kembali ke 1,5 derajat pada 2100. Untuk sampai ke sana dibutuhkan pemangkasan emisi yang curam — 69 persen pada 2040 dibandingkan level 2025.
Selain itu dunia perlu menyerap 330 miliar metrik ton karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya di dalam tanah. Namun sejumlah studi terbaru meragukan kelayakan dan biaya teknologi itu, serta kemampuan industri penyerap karbon yang masih baru untuk berkembang secepat yang dibutuhkan.
PBB memperingatkan setiap penundaan akan memperberat tantangan: setiap lima tahun emisi bertahan di level saat ini menambah sekitar 0,1 derajat Celcius pada proyeksi puncak pemanasan.
We must pull out all the stops to minimize peak warming and return to 1.5 Celsius by the end of the century. This is possible.
— Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen
Kebijakan Iklim Terbukti Manjur
Meski begitu, kebijakan iklim terbukti efektif menekan emisi. Laporan UNEP merujuk lebih dari 200 studi yang menganalisis cara kerja berbagai kebijakan seperti pajak karbon, target iklim pemerintah, aturan bangunan, dan subsidi teknologi rendah karbon.
Skema penetapan harga karbon menjadi yang paling banyak diteliti. Skema percontohan di China menekan emisi sekitar 11 persen, sedangkan sistem perdagangan emisi Uni Eropa memangkas 8 persen dibandingkan proyeksi tanpa kebijakan tersebut.
Ada lebih banyak peluang dari sebelumnya untuk mempercepat aksi, tulis laporan itu, menunjuk pada ledakan energi terbarukan sejak Perjanjian Paris diadopsi satu dekade lalu.
Kapasitas listrik terbarukan global tumbuh tiga kali lebih cepat dari perkiraan, dan pembangunan tenaga surya tumbuh tujuh kali lebih cepat. Pada 2024, lebih dari 90 persen proyek terbarukan lebih murah dibandingkan alternatif bahan bakar fosil.
Meski total pasokan energi dari batu bara, minyak, dan gas terus naik, lajunya lebih lambat dari proyeksi 2015. Penggunaan batu bara pun diperkirakan mencapai puncak dan menurun sebelum akhir dekade ini.
Kami punya banyak kisah sukses yang menunjukkan emisi bisa dipangkas dengan cepat, kata Andersen. Kini terserah negara-negara untuk segera menerapkan kebijakan yang memicu pengurangan emisi yang cepat, dalam, dan berkelanjutan, serta menempatkan dunia pada jalur menuju iklim dan ekonomi yang lebih stabil.
Sumber: DW News


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda