Partai Amanat Nasional (PAN) meragukan akurasi survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang mencatat elektabilitas Presiden Prabowo Subianto merosot hingga 9,8 persen pada Oktober 2026.

Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi menyatakan survei SMRC terhadap PAN tidak pernah tepat sejak Pemilu 2009 hingga Pemilu 2024. Menurut dia, SMRC konsisten memprediksi PAN tidak akan lolos ambang batas parlemen, namun kenyataannya partai tersebut selalu berhasil melenggang ke Senayan.

"Pertanyaannya, apakah survei itu dilakukan sesuai prinsip nilai kebenaran, kejujuran, atau akademisi?" ujar Viva Yoga Mauladi, Wakil Ketua Umum PAN.

Viva Yoga juga menegaskan PAN telah menyatakan dukungan kepada Prabowo untuk maju pada pemilihan presiden 2029 sejak Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2025. Keputusan itu, kata dia, didasari kesamaan nilai perjuangan, bukan pragmatisme politik.

Elektabilitas Prabowo 9,8 Persen Versi SMRC

Survei bertajuk "Elektabilitas Presiden Prabowo" itu mencatat elektabilitas Prabowo pada simulasi semi-terbuka turun dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi 9,8 persen pada Oktober 2026.

Pada simulasi dengan 24 nama tokoh, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menempati posisi teratas dengan 35,5 persen, disusul Anies Baswedan 10,3 persen, Prabowo Subianto 9,8 persen, dan Gibran Rakabuming Raka 8,4 persen. Nama lain berada di bawah 6 persen, sedangkan 13,9 persen responden belum menentukan pilihan.

Tren penurunannya terlihat jelas: pada November 2025 Prabowo masih 34,9 persen berbanding Dedi Mulyadi 19,7 persen; Februari-Maret 2026 Prabowo 33,3 persen; Juli 2026 Prabowo 14,5 persen; dan pada Oktober 2026 Prabowo 9,8 persen berbanding Dedi 35,5 persen.

Pada simulasi dua nama, Dedi Mulyadi meraih 69,3 persen berbanding Prabowo 18,8 persen, dengan 12 persen responden belum menentukan pilihan.

Dukungan pemilih partai terhadap Prabowo juga tercatat rendah. Hanya 20 persen pemilih Gerindra yang memilih Prabowo, sementara 74 persen memilih calon lain. Golkar 17 persen, NasDem 11 persen, PAN 8 persen, Demokrat 6 persen, PDIP 6 persen, PKB 4 persen, dan PKS 2 persen.

Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menilai penurunan elektabilitas berkaitan dengan persepsi publik atas kinerja pemerintahan Prabowo, mulai dari kondisi makro ekonomi-politik, penegakan hukum, hingga penilaian negatif terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kartu Desa Mandiri Pangan (KDMP).

Survei dilaksanakan pada 1-10 Oktober 2026 terhadap 1.213 responden pemilih Indonesia berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Sebanyak 1.013 pemilik ponsel diwawancarai melalui telepon dengan metode double sampling, sementara 200 responden tanpa ponsel diwawancarai secara tatap muka. Margin of error survei sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Sumber: Tempo.co