Breaking
Memuat breaking news...

Nyamuk Pembawa DBD dan Chikungunya Meluas ke Eropa, Bukan Lagi Urusan Negara Tropis

Redaksi
Redaksi
Minggu, 2 Agustus 2026 - 5.22 PM WIB
Nyamuk Pembawa DBD dan Chikungunya Meluas ke Eropa, Bukan Lagi Urusan Negara Tropis
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Penyakit yang ditularkan nyamuk kini bukan lagi cerita khas negara tropis. Nyamuk pembawa virus sudah masuk ke wilayah-wilayah di Eropa, Asia, Amerika, sampai Australia yang dulu relatif aman.

Contoh paling dekat: dalam rentang Juni 2025 hingga April 2026, Aedes albopictus, nyamuk penular demam berdarah dengue dan chikungunya, tercatat menyebar ke area baru di Eropa, termasuk Portugal, Prancis, dan Yunani. Badan Keamanan Kesehatan Inggris bahkan mengeluarkan imbauan khusus untuk warga yang liburan musim panas ke luar negeri agar waspada terhadap penyakit bawaan nyamuk.

Data Organisasi Kesehatan Dunia menunjukkan malaria global pada 2024 diperkirakan mencapai 282 juta kasus, naik dari 273 juta pada tahun sebelumnya. Kematian akibat malaria sepanjang 2024 diperkirakan 610 ribu orang.

Tren ini patut digarisbawahi. Kasus malaria global sebenarnya sempat menurun, sebelum kembali merangkak naik sejak 2015. Sejumlah pihak mengaitkan kenaikan dengan dua hal yang saling berkaitan, kejadian iklim ekstrem dan meningkatnya konflik di negara-negara endemis, yang sama-sama membuat pengendalian di lapangan jadi lebih sulit.

Chikungunya menunjukkan pola serupa. Virus yang memicu demam dan nyeri sendi berkepanjangan ini dalam dua dekade terakhir sudah tercatat di lebih dari 100 negara. Dalam dua tahun terakhir, wabahnya muncul di China, Italia, dan Prancis.

Salah satu yang paling mematikan terjadi di Kuba, mulai Juli tahun lalu dan menyebabkan 46 kematian. Secara global, diperkirakan sekitar 14,4 juta orang terjangkit chikungunya setiap tahun, dengan konsentrasi kasus di Asia Selatan dan Amerika Latin.

Dengue mencatat rekornya sendiri. Sepanjang 2024, WHO mencatat lebih dari 14 juta kasus dengue dilaporkan di seluruh dunia, dengan hampir 12 ribu kematian. Salah satu tahun terburuk untuk penyakit ini.

Sebuah analisis yang terbit di jurnal Nature Communications akhir Oktober lalu mencoba memetakan bagaimana penyebarannya terjadi.

Peneliti menelusuri catatan sejarah sejak abad ke-15, ketika kapal-kapal pengangkut budak dari Afrika ke Amerika ikut membawa nyamuk seperti Aedes aegypti. Spesies yang sekarang kita kenal sebagai penular dengue, chikungunya, dan beberapa virus lain.

Hasilnya, sebanyak 45 spesies nyamuk pembawa penyakit tercatat pernah masuk ke wilayah baru di luar habitat aslinya sepanjang periode yang diteliti. Dari jumlah itu, 12 spesies baru mulai menyebar sejak tahun 2000.

Ahli biogeografi University of Lisbon yang menjadi salah satu penulis studi, César Capinha, menyebut temuan ini menunjukkan peningkatan yang sangat kuat dalam jumlah introduksi spesies baru ke wilayah yang sebelumnya tidak terdampak.

Totalnya hampir 50 spesies, atau sekitar 25 persen dari seluruh jenis nyamuk yang diketahui bisa menularkan patogen ke manusia, pernah terbawa ke wilayah baru. Banyak yang kemudian berhasil menetap dan membentuk populasi. Laju penyebarannya tidak konstan. Lonjakan tajam baru terjadi sejak dekade 1950-an.

Dalam satu abad terakhir, media yang paling sering mengangkut telur dan larva nyamuk lintas benua secara tidak sengaja adalah ban bekas dan tanaman hidup. Air yang menggenang di dalam ban bekas jadi tempat ideal untuk bertelur.

Nyamuk dewasa sendiri bisa ikut terbawa mobil, kereta, atau pesawat. Jarak ribuan kilometer bisa ditempuh dalam hitungan jam.

Capinha menjelaskan, perluasan besar-besaran jaringan perdagangan global menjadi pemicu utama mengapa banyak spesies bisa ikut berpindah. Dari semua spesies yang diteliti, Aedes aegypti jadi yang paling luas diperkenalkan, kini sudah ditemukan di sekitar 150 negara.

Faktor lain yang tidak kalah besar adalah iklim.

Aedes aegypti butuh kombinasi suhu hangat dan curah hujan tertentu untuk berkembang biak optimal. Sebelumnya, kondisi ideal seperti itu hanya berlangsung singkat setiap tahun di sejumlah wilayah Amerika Selatan, seperti selatan Brasil, Uruguay, dan sebagian Argentina serta Paraguay. Periode pendek membuat populasi tidak sempat membesar untuk menularkan penyakit secara masif.

Menurut pakar geografi kesehatan dari Oswaldo Cruz Foundation, Christovam Barcellos, di banyak negara suhu hangat kini muncul sejak November dan bertahan hingga Maret, April, bahkan Mei. Jendela penularan jadi lebih lebar.

Semakin panjang periode hangat, semakin banyak waktu bagi nyamuk untuk berkembang biak, membangun populasi baru, dan menularkan penyakit ke lebih banyak orang. Ini yang menjadi kekhawatiran utama peneliti kesehatan masyarakat.

Studi yang sama memperkirakan, jika tren penyebaran ini terus berlanjut tanpa intervensi berarti, miliaran orang tambahan berpotensi berisiko terpapar penyakit tular-nyamuk dalam beberapa dekade mendatang.

Bagi masyarakat di wilayah yang dulu dianggap aman dari nyamuk tropis, termasuk sebagian Eropa dan negara subtropis lain, ini jadi pengingat untuk memperluas kewaspadaan.

Bagi Indonesia yang memang sudah endemis dengue, ceritanya sedikit berbeda. Ancaman di sini tidak baru datang, tapi polanya bisa berubah. Musim penularan yang lebih panjang, pergerakan manusia dan barang yang makin cepat, serta adaptasi nyamuk di lingkungan perkotaan padat membuat pengendalian tidak bisa hanya mengandalkan fogging musiman.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait