Israel memberikan tenggat waktu 30 hari kepada Inggris untuk menutup konsulatnya di Yerusalem Timur. Langkah ini menjadi balasan atas sanksi yang dijatuhkan London terhadap barang-barang dari permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki.

Sanksi Inggris, Prancis, dan Kanada terhadap Permukiman Israel

Sanksi tersebut diumumkan Inggris bersama Prancis dan Kanada pada Selasa (8/9/2026). Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyatakan kebijakan ini diperlukan untuk melawan ketidakadilan di Tepi Barat yang diduduki.

Di kawasan yang menjadi pusat sengketa ini, permukiman Israel telah meluas ke area yang selama ini diinginkan Palestina sebagai bagian dari negaranya kelak. Sejumlah pemilik bisnis di permukiman Israel mengatakan sanksi ini akan menekan pendapatan mereka — salah satu pengusaha bahkan menyebut kebijakan tersebut berpotensi memaksanya menutup perkebunan kurma miliknya.

Langkah bersama Inggris, Prancis, dan Kanada ini disebut sebagai salah satu tindakan kolektif paling keras yang pernah diambil negara-negara Barat terhadap Israel — negara yang sebelumnya memiliki hubungan dekat dengan banyak negara tersebut. Kebijakan ini dinilai menunjukkan semakin terisolasinya Israel di tengah perang di Gaza dan ekspansi permukiman di wilayah pendudukan.

Balasan Israel: Tutup Konsulat hingga Larangan bagi Politikus

Mengutip Reuters, dua pejabat Israel dan dua sumber lain yang mengetahui persoalan ini mengungkapkan bahwa London telah diberi waktu 30 hari untuk menutup konsulatnya di Yerusalem Timur — perwakilan Inggris yang selama ini menangani isu Palestina di Yerusalem, Tepi Barat, dan Gaza.

Selain itu, Israel juga melarang 12 politikus Inggris memasuki negaranya, serta meminta pejabat dan diplomat Inggris yang berada di Tepi Barat maupun sebuah pusat koordinasi Gaza di Israel untuk meninggalkan wilayah tersebut. Israel turut menyatakan Inggris tidak lagi diizinkan melatih pasukan keamanan Palestina di Tepi Barat.

Hingga kini, Israel belum mengambil tindakan serupa terhadap Prancis atau Kanada, meski keduanya sama-sama menghentikan perdagangan dengan permukiman Israel. Israel juga belum bertindak terhadap sembilan negara lain yang menyatakan dukungan terhadap sanksi Inggris tersebut.

Meski sanksi Inggris sebenarnya sudah banyak diperkirakan sebelumnya, pemimpin oposisi parlemen Israel, Yair Lapid, mengaku tidak ada yang menduga negara-negara lain akan turut mendukung kebijakan tersebut.

Pembelaan Burnham: "Berpihak pada yang Lemah"

Berbicara di hadapan Parlemen Inggris, Burnham menegaskan negaranya selama ini mendukung solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina, namun menurutnya dukungan tersebut harus disertai tindakan nyata. Ia menyatakan Inggris akan selalu berpihak pada pihak yang lebih lemah dan mengambil langkah apa pun yang mampu dilakukan untuk mendukung mereka.

Respons Terbatas dari AS, Tudingan Keras dari Duta Besar Huckabee

Sejauh ini, respons Amerika Serikat terhadap langkah Inggris relatif terbatas. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan Washington tidak ingin melihat sesuatu yang mengganggu stabilitas di Tepi Barat, namun menolak berkomentar secara spesifik mengenai sanksi Inggris tersebut.

Sikap yang jauh lebih keras datang dari Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, yang dikenal sebagai pendukung kuat Israel. Huckabee mengecam sanksi tersebut dan menuding pemerintah Inggris melakukan kebencian terhadap warga Yahudi — tudingan yang perlu dicatat sebagai karakterisasi sepihak dari Huckabee, bukan temuan yang terverifikasi. Presiden AS Donald Trump sendiri belum memberikan komentar apa pun mengenai keputusan Inggris ini.

Israel Sebut Sanksi "Terdistorsi Secara Moral"

Para pemimpin Israel menyebut sanksi Inggris, Prancis, dan Kanada sebagai tindakan yang terdistorsi secara moral. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa'ar, menuding Inggris melakukan campur tangan terang-terangan dalam urusan negara berdaulat beserta proses pemilihannya.

Sebagai catatan, Israel sendiri dijadwalkan menggelar pemilihan umum pada 27 Oktober mendatang.