Modus Baru Perekrutan Ekstremis Online: Berkedok Bantuan, Sasar Anak dan Kelompok Rentan

Pola perekrutan kelompok ekstremis di ruang digital berubah. Tidak lagi terang-terangan mengumbar kebencian dan ajakan kekerasan.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyebut kelompok itu kini memakai cara yang jauh lebih halus: menawarkan bantuan.
Pernyataan itu disampaikan Meutya di Jakarta, Rabu. Ia menggambarkan bagaimana pendekatan kemanusiaan dipakai sebagai pintu masuk.
"Kekerasan dimulai dengan uluran tangan — bantuan medis, pelunasan utang, dan dukungan personal — diikuti janji kesejahteraan," kata Meutya.
Begitu kepercayaan terbentuk, barulah doktrin ekstrem dimasukkan. "Setelah kepercayaan terbangun, mereka dibawa ke ideologi ekstrem," ujarnya.
Sasar anak dan janji sekolah gratis
Kelompok rentan menjadi target utama. Anak-anak dan komunitas dengan kesulitan ekonomi dibujuk dengan narasi bantuan sosial.
Modusnya beragam. Ada yang menjanjikan pendidikan gratis, bantuan kesehatan, sampai jaminan kesejahteraan. Faktanya tidak demikian.
"Mereka menjanjikan kesejahteraan, seperti sekolah gratis, hanya untuk korban yang datang dan dipaksa menikah dini," kata Meutya. Ia mengingatkan praktik itu berkaitan dengan pelanggaran HAM berat.
Perubahan perilaku korban biasanya tidak drastis. Perlahan. Itu yang membuat keluarga sering terlambat menyadari. Komunikasi dengan anak mulai renggang, baru kemudian terungkap ada paparan konten ekstrem.
Data yang disebut Meutya menguatkan kekhawatiran itu. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) belum lama ini menggagalkan upaya perekrutan online yang menyasar 112 anak di satu platform digital. Detail platform dan waktu kejadian belum diungkap resmi dalam pernyataan tersebut.
Angka itu sejalan dengan tren yang terjadi sebelumnya. Pada November 2025, Densus 88 Antiteror Polri bersama BNPT mengungkap penangkapan lima orang dewasa yang mengelola grup radikal di platform pesan terenkripsi dengan anggota anak-anak. Sekitar 110 anak usia 10-18 tahun dari berbagai provinsi teridentifikasi menjadi anggota.
Algoritma yang menciptakan echo chamber
Meutya menyoroti peran teknologi. Sistem rekomendasi berbasis algoritma membuat narasi ekstrem terus berputar di lingkaran yang sama.
Pengguna yang terpapar satu konten akan disodori konten serupa secara berulang. Lama-lama terbentuk ruang gema.
"Ketika narasi dan algoritma bertemu, mereka menciptakan ilusi di mana fakta dikalahkan oleh emosi atau keyakinan," ujar Meutya.
Pergeseran metode ini juga pernah disampaikan BNPT. Kepala BNPT Komjen Pol Eddy Hartono menyebut tren serangan terbuka memang menurun sejak 2018, bahkan tidak ada insiden teroris sepanjang 2023. Namun pendekatannya bergeser dari hard ke soft, dilakukan secara online dan menyasar perempuan serta anak.
Kontennya tersebar di Facebook, TikTok, YouTube, hingga WhatsApp.
Modus berkedok bantuan jauh lebih sulit dideteksi sistem maupun keluarga. Tawarannya tampak baik. Tidak ada ujaran kekerasan di awal.
Korban tidak merasa direkrut, melainkan ditolong. Di titik itu, relasi kuasa sudah timpang. Penolakan menjadi lebih sulit, apalagi jika sudah terikat utang budi, janji pendidikan, atau ikatan pernikahan.
Bagi orang tua, tanda yang perlu diwaspadai bukan hanya perubahan pandangan keagamaan yang ekstrem. Tapi juga perubahan kebiasaan digital: lebih tertutup, hanya berinteraksi di grup kecil yang sangat tertutup, dan mendapatkan tawaran bantuan dari orang asing yang belum pernah ditemui.
Pemerintah meminta keluarga dan institusi pendidikan meningkatkan kewaspadaan digital. Bukan dengan menjauhi teknologi, tapi dengan memahami cara kerja perekrutan baru ini.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda