Minyak Rusia Pilih Jalur Es, Selat Hormuz Kian Ditinggalkan Kapal Tanker

Peta jalur perdagangan minyak dunia sedang bergeser, dan Arktik jadi salah satu pemenangnya. Rusia kini menggenjot pengiriman minyak mentah ke Asia lewat Jalur Laut Utara (Northern Sea Route/NSR) — rute yang melintasi perairan kutub utara — sementara di belahan dunia lain, lalu lintas kapal di Selat Hormuz justru anjlok drastis akibat konflik yang masih membara di Timur Tengah.
Sepanjang tahun ini, tercatat sedikitnya tujuh kapal tanker membawa sekitar 6 juta barel minyak mentah berlayar ke Asia lewat rute Arktik tersebut. NSR sendiri menghubungkan pelabuhan-pelabuhan Rusia di bagian barat dengan pasar Asia, tapi jalur ini punya keterbatasan alami: biasanya hanya bisa dilalui pada musim panas, kira-kira 1 Juli sampai 1 Oktober, saat lapisan es mencair cukup untuk pelayaran.
Yang membuat jalur ini makin menarik bagi Rusia bukan cuma faktor musim, melainkan faktor politik. Lewat NSR, Rusia bisa mengirim minyak ke China dan pasar Asia lain tanpa harus melewati rute yang berisiko diperiksa, ditahan, atau dibatasi otoritas Eropa terkait sanksi perang Ukraina. Ini yang mendorong angkanya melonjak: volume minyak lewat NSR tahun ini sudah mencapai sekitar 850 ribu ton — hampir separuh dari total sekitar 13 juta barel yang dikirim sepanjang musim pelayaran tahun lalu. Padahal, tahun 2025 pengiriman lewat jalur Arktik ini justru sempat turun 4%. Artinya, tren tahun ini menandai pembalikan arah yang cukup tajam.
China menjadi tujuan utama minyak Rusia lewat rute ini, dan pembeliannya berpotensi bertambah jika gangguan pasokan minyak Timur Tengah akibat konflik Iran terus berlanjut. Ada alasan praktis di baliknya: NSR bisa memangkas waktu tempuh ke China sekitar dua minggu dibandingkan rute konvensional lewat Terusan Suez. Ditambah lagi, kondisi es tahun ini relatif ringan sehingga navigasi jadi lebih mudah.
Seorang trader yang terlibat dalam pengiriman lewat NSR, sebagaimana dikutip Reuters, menyebut kombinasi es yang bersahabat dengan masalah logistik di Selat Hormuz dan Laut Hitam sama-sama mendorong pengiriman minyak Rusia ke China lewat Arktik.
Dari sisi armada, tujuh tanker yang saat ini menuju Asia lewat NSR terdiri dari enam kapal Aframax berkapasitas sekitar 750 ribu barel dan satu kapal Suezmax berkapasitas sekitar 1 juta barel. Tiga di antaranya berbendera Rusia, sisanya berbendera Oman dan Kamerun — sebuah detail yang menunjukkan jaringan pengiriman ini tidak sepenuhnya mengandalkan kapal Rusia sendiri.
Potensi jalur ini makin besar ke depan. Fase pertama proyek raksasa Vostok Oil milik Rosneft dijadwalkan mulai beroperasi September, dan diperkirakan bisa menambah volume minyak yang lewat NSR. Hanya saja, seberapa besar kontribusinya tahun ini masih belum jelas — bahan yang tersedia tidak menyebutkan angka pastinya.
Sementara Rusia memperbesar penggunaan jalur Arktik, cerita di Selat Hormuz berjalan berlawanan arah. Data Kpler mencatat jumlah kapal yang melintas di selat strategis ini turun menjadi hanya 8 kapal pada Selasa — angka terendah dalam sepekan, dan jauh di bawah rata-rata 10 hari terakhir yang sekitar 12 kapal. Dari jumlah itu, hanya satu kapal pengangkut batu bara yang keluar dari selat, sementara tujuh kapal lainnya masih dalam perjalanan masuk — dan seluruhnya tercatat memilih rute melalui wilayah Iran.
Ada catatan menarik di sini: data dari sumber lain, LSEG, menyebut angka yang sedikit berbeda — 11 transit kapal pada Selasa, turun dari 14 kapal sehari sebelumnya. Perbedaan angka antara Kpler dan LSEG ini wajar terjadi karena keduanya lembaga pemantau lalu lintas kapal yang independen dengan metode masing-masing, tapi tetap perlu dicatat agar pembaca tidak menganggap angka mana pun sebagai satu-satunya kebenaran.
Yang jelas, siapa pun sumbernya, angka-angka itu jauh dari kondisi normal. Sebelum Iran menutup jalur ini menyusul serangan AS-Israel yang dimulai 28 Februari, Selat Hormuz biasa dilintasi sekitar 130-140 kapal setiap hari. Bandingkan dengan angka satu digit hingga belasan kapal sekarang — penurunannya lebih dari sepuluh kali lipat.
Menariknya, saat Hormuz makin sepi, Selat Bab al-Mandab di pintu selatan Laut Merah justru makin ramai. Kpler mencatat 30 kapal melintasi jalur ini pada Selasa, lebih tinggi dari rata-rata 10 hari yang sekitar 25 kapal — indikasi bahwa sebagian kapal yang biasanya lewat Hormuz kini mengalihkan rute.
Semua perubahan ini menggambarkan satu hal: konflik di Timur Tengah tidak cuma berdampak pada kawasan itu sendiri, tapi ikut menggeser peta jalur energi global. Ketika kapal-kapal menghindari Hormuz, Rusia melihat celah di Arktik untuk mempertahankan ekspor minyaknya ke Asia — dan dengan proyek Vostok Oil yang akan beroperasi tak lama lagi, NSR berpotensi berubah dari sekadar rute musiman menjadi jalur strategis baru dalam perdagangan energi dunia.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda