Microsoft Melejit, Meta Anjlok: Laporan Keuangan Dua Raksasa Ini Ungkap Jurang Baru di Bisnis AI

Dua raksasa teknologi merilis laporan keuangan kuartalan pada hari yang sama, Rabu malam waktu setempat. Hasilnya membelah pasar saham menjadi dua kubu yang nyaris berlawanan arah.
Microsoft melaporkan pendapatan 90 miliar dolar AS untuk kuartal keempat tahun fiskal 2026, jauh melampaui perkiraan analis di angka 87,6 miliar dolar AS. Laba per saham yang disesuaikan tercatat 4,74 dolar, mengalahkan konsensus 4,24 dolar. Yang membuat investor bersorak justru bisnis komputasi awan Azure, yang tumbuh 43 persen dibanding periode sama tahun lalu -- melampaui pertumbuhan 40 persen pada kuartal sebelumnya sekaligus mengalahkan ekspektasi pasar.
Sepanjang tahun fiskal 2026, pendapatan Azure menembus 100 miliar dolar AS untuk pertama kalinya. Microsoft 365 Copilot pun mencatat lebih dari 30 juta kursi berbayar, naik dari 20 juta pada kuartal sebelumnya. CFO Amy Hood menambahkan bahwa belanja modal (capex) diperkirakan terus naik pada tahun fiskal 2027, dengan alasan "sinyal permintaan di seluruh portofolio" perusahaan.
Cerita berbeda datang dari Meta. Pendapatan perusahaan induk Facebook dan Instagram itu memang naik 28 persen menjadi 60,8 miliar dolar AS, sedikit di atas perkiraan pasar. Tapi laba bersihnya justru anjlok 14 persen, dengan laba per saham 6,18 dolar -- jauh meleset dari konsensus yang berada di kisaran 7,1 hingga 7,2 dolar.
Sebagian penyebabnya adalah beban satu kali: 2,4 miliar dolar untuk urusan hukum dan 1,18 miliar dolar biaya pesangon terkait pemutusan hubungan kerja sekitar 8.000 karyawan pada Mei 2026. Namun bahkan tanpa kedua pos itu, total biaya operasional Meta tetap melonjak 55 persen menjadi 42 miliar dolar -- jauh di atas laju pertumbuhan pendapatannya.
Belanja modal Meta pada kuartal ini mencapai 31,1 miliar dolar, lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu. Perusahaan juga menaikkan batas bawah proyeksi capex tahun 2026 dari semula 125-145 miliar dolar menjadi 130-145 miliar dolar -- sinyal bahwa realisasi belanja kemungkinan mendekati batas atas kisaran tersebut.
Begitu bursa dibuka Kamis, perbedaan dua laporan itu langsung tercermin di harga saham. Saham Microsoft melonjak lebih dari 15 persen, mencatat kenaikan harian terbesar sejak 2008 dan menambah kapitalisasi pasar sekitar 450 miliar dolar AS dalam satu hari, menurut catatan Bloomberg. Sebaliknya, saham Meta justru merosot sekitar 8-9 persen karena investor mempertanyakan kapan investasi besar-besaran di laboratorium AI Meta akan benar-benar membuahkan hasil.
Efeknya menjalar ke bursa secara luas. Indeks Nasdaq Composite naik sekitar 2,6-2,8 persen, membalikkan tren pelemahan yang sempat membuat indeks Nasdaq-100 masuk zona koreksi -- yakni turun lebih dari 10 persen dari puncaknya -- hanya sehari sebelumnya. Saham-saham produsen chip ikut terangkat; ETF sektor semikonduktor iShares (SOXX) melonjak sekitar 8,5 persen, sementara Micron Technology dan Advanced Micro Devices masing-masing naik dua digit. Kenaikan ini sebagian besar menghapus kerugian yang terjadi sepanjang pekan akibat kekhawatiran soal membengkaknya belanja infrastruktur AI para raksasa teknologi tanpa kejelasan imbal hasil.
Reaksi pasar ini pada dasarnya menyampaikan satu pesan ke seluruh industri: investor kini menuntut bukti nyata bahwa belanja jumbo untuk pusat data dan chip AI benar-benar menghasilkan pendapatan -- bukan sekadar janji potensi di masa depan. Microsoft, lewat Azure yang tembus 100 miliar dolar dan Copilot yang terus menambah pelanggan berbayar, dianggap berhasil menunjukkan bukti itu. Meta, yang capex-nya melonjak drastis namun belum menunjukkan hasil sepadan di laporan laba rugi, justru mendapat hukuman pasar.
Gejolak ini terjadi tak lama setelah Bank Sentral AS (The Fed) memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5-3,75 persen pada Rabu, meski tiga pejabat -- Beth Hammack dari Fed Cleveland, Neel Kashkari dari Fed Minneapolis, dan Lorie Logan dari Fed Dallas -- justru mendukung kenaikan suku bunga.
Keputusan itu sempat memicu aksi jual besar di pasar obligasi, dengan imbal hasil obligasi negara bertenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007.
Bertepatan dengan itu, data inflasi pengeluaran konsumen pribadi (PCE) untuk Juni yang dirilis Kamis pagi menunjukkan pelonggaran. Inflasi PCE headline tercatat 3,7 persen secara tahunan, turun dari 4,1 persen pada Mei. PCE inti, yang mengeluarkan komponen makanan dan energi, berada di angka 3,3 persen.
Namun Ketua The Fed Kevin Warsh dikenal lebih memperhatikan ukuran lain yang disebut trimmed mean PCE -- metode yang dihitung Fed Dallas dengan membuang data-data ekstrem di kedua ujung sebelum dirata-rata, sehingga dianggap lebih mencerminkan tekanan inflasi yang benar-benar bertahan. Angka trimmed mean PCE untuk periode 12 bulan hingga Juni tercatat 2,2 persen, turun dari 2,4 persen pada Mei -- jauh lebih dekat ke target 2 persen The Fed dibanding angka inflasi inti biasa.
Perbedaan yang cukup lebar antara PCE inti (3,3 persen) dan trimmed mean (2,2 persen) ini penting untuk dipahami investor yang mengikuti isyarat Warsh: jika inflasi yang "benar-benar melekat" sebenarnya sudah mendekati target The Fed, ruang bagi bank sentral menahan suku bunga -- alih-alih menaikkannya lebih jauh -- bisa jadi lebih lebar dari yang selama ini diperkirakan pasar.
Sejumlah laporan keuangan besar lain masih menyusul pekan ini, termasuk dari Amazon dan Apple, yang akan menjadi ujian lanjutan apakah momentum pemulihan pasar AI hari ini bisa bertahan atau justru kembali terkoreksi.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda