Setelah menghilang dari ruang publik sejak perang Timur Tengah pecah pada akhir Februari lalu, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei akhirnya muncul. Melalui siaran televisi pemerintah pada Senin waktu setempat, ia melontarkan peringatan keras: Amerika Serikat akan terpaksa angkat kaki dari Timur Tengah setelah menderita pukulan telak yang menyakitkan. Mengutip Channel News Asia (CNA), Selasa (29/09/2026), pernyataan itu disampaikan di tengah memanasnya upaya menghidupkan kembali perundingan untuk mengakhiri pertempuran.

"Hari ini, setelah menderita pukulan menyakitkan di tangan para pejuang gagah berani dan penjaga Selat Hormuz, mereka (musuh) tidak berani melampaui Laut Arab," tegasnya dalam sebuah pernyataan tertulis tanpa menyebut AS secara eksplisit. "Kapan pun mereka menanggung risiko ini, mereka hanya membawa kerugian bagi diri mereka sendiri. Tidak lama lagi Laut Arab pun akan terbebas dari kehadiran mereka," ungkap Khamenei.

Laut Arab — yang membentang dari Semenanjung Arab menuju India di sebelah timur — merupakan koridor maritim vital yang mengarah ke pesisir Iran dan Selat Hormuz. Iran dan AS terus memperebutkan kendali atas Hormuz sejak perang pecah akibat serangan AS-Israel ke Iran pada Februari lalu. Sebelum perang, rute pelayaran strategis ini menopang sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas dunia. Namun Teheran langsung memberlakukan blokade di Hormuz usai perang dimulai, yang kemudian dibalas Washington dengan memblokade seluruh pelabuhan Iran.

Yang menarik: di saat pemimpin tertingginya melontarkan ancaman, diplomat Iran justru sibuk menawarkan jalan damai. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di New York pada Senin membeberkan bahwa negaranya telah memberi tahu AS dan komunitas internasional mengenai syarat-syarat yang ditetapkan pemimpin tertingginya untuk membuka kembali Selat Hormuz. Araghchi menyebut Iran telah membahas berbagai gagasan dengan mediator Qatar dan kini tengah menanti jawaban akhir Washington melalui Doha. "Jika pihak Amerika mengklaim mereka mencari kesepakatan atau solusi damai, kami telah menyajikan solusi tersebut," paparnya.

Namun pekan lalu, Presiden AS Donald Trump menolak mentah-mentah proposal Iran untuk gencatan senjata selama tujuh hari yang diikuti dengan pembukaan kembali Selat Hormuz. Inisiatif tersebut diangkat Iran di Sidang Majelis Umum PBB di New York melalui mediator Qatar. "Mereka ingin membuat kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz segera karena mereka kalah telak," ucap Trump sesaat sebelum berangkat ke Tennessee. "Kita menang luar biasa," kata Trump. Kendati demikian, ia tetap memperkirakan perundingan dengan Iran akan dilanjutkan pada minggu ini.

Para analis hingga kini masih skeptis manuver diplomatik terbaru ini akan menghasilkan terobosan instan, mengingat Washington dan Teheran masih terbelah tajam mengenai ketentuan perjanjian potensial apa pun. Analis strategis dari organisasi nirlaba Middle East Policy Council, Kamran Bokhari, menyoroti fakta bahwa dorongan diplomasi kali ini murni datang dari pihak Teheran. "Kali ini pihak Iran yang mengajukan proposal," tuturnya. "Dan itu tidak mengherankan, mereka pasti menderita secara ekonomi, yang memang sudah diduga mengingat adanya blokade," pungkas Bokhari.

Lebih lanjut, Bokhari menambahkan bahwa meskipun selalu ada ruang untuk kompromi, dari perspektif Washington tidak ada perubahan target pada tuntutan utama mereka: Iran harus berhenti memperkaya uranium dan berhenti mempersenjatai kelompok proksinya di kawasan tersebut.

Dua klaim kemenangan yang saling bertolak belakang — Teheran sesumbar musuh terpukul, Trump mengklaim menang luar biasa — dan di tengahnya Selat Hormuz tetap terkunci.