Master Copy Film Nicolas Cage Raib dari Kantor Netflix, Sang Produser Gugat Rp1,9 Triliun

Sebuah film yang belum pernah tayang ke publik kini justru mencuat lewat ruang sidang, bukan lewat layar bioskop. Produser sekaligus penulis skenario Simon Afram menggugat Netflix senilai setidaknya 105 juta dolar AS -- sekitar Rp1,9 triliun -- setelah master copy film perang dunia kedua garapannya, "Fortitude," dilaporkan hilang dicuri dari kantor Netflix di Los Angeles.
Gugatan yang diajukan Rabu di pengadilan federal California ini diajukan atas nama Afram dan perusahaannya, Op-Fortitude. Menurut sejumlah laporan media hiburan seperti Variety, The Hollywood Reporter, dan TheWrap, Afram -- pengusaha asal Swiss yang juga menulis naskah film ini -- disebut telah menghabiskan lebih dari 45 juta dolar AS dan tujuh tahun waktunya untuk merampungkan proyek tersebut.
Berdasarkan isi gugatan, semuanya bermula pada 15 Juni lalu. Associate producer film ini, Daniel Haido, mengantarkan digital cinema package (DCP) -- format file standar industri untuk pemutaran film di bioskop -- ke kantor Netflix. Tujuannya sederhana: memberi kesempatan bagi Netflix untuk menonton dan mempertimbangkan pembelian hak distribusinya. Salinan yang diserahkan itu tidak dienkripsi, dan pihak produser sudah meminta agar filenya dihapus begitu proses penayangan internal selesai.
Masalah muncul ketika tim produksi mencoba mengambil kembali salinan tersebut. Netflix disebut tidak merespons permintaan itu selama lebih dari seminggu. Barulah setelah berkali-kali dihubungi, pihak Netflix mengakui lewat surel bahwa filenya telah dicuri. Sean Berney, direktur original film Netflix, dalam surel itu menyebut kejadian tersebut sebagai hal yang belum pernah terjadi sebelumnya di perusahaan, dan menjelaskan bahwa sejumlah hard drive turut raib dari meja kantor pekan itu. Ia menduga insiden ini murni pencurian perangkat keras untuk dijual sebagai barang bekas, bukan upaya membajak konten film.
Sejauh ini, menurut sumber di lingkungan Netflix, belum ada indikasi film tersebut bocor atau beredar di situs pembajakan.
Netflix membantah bertanggung jawab
Netflix, dalam pernyataan resminya, menyangkal bahwa pihaknya menanggung risiko kerugian atas film yang diserahkan tanpa pengamanan sesuai standar industri. Perusahaan menjelaskan bahwa praktik umum yang berlaku adalah membagikan salinan film yang belum rilis lewat tautan berpassword, atau lewat DCP terenkripsi yang hanya bisa dibuka menggunakan semacam kunci digital khusus.
Gugatan Afram membantah bingkai tersebut. Tim kuasa hukumnya berargumen bahwa instruksi tertulis dari Netflix sendiri hanya meminta agar kunci enkripsi dibuka jika filenya memang terenkripsi -- sementara kenyataannya, tim produksi sudah menginformasikan sejak awal bahwa DCP yang mereka antarkan tidak dienkripsi. Menurut gugatan itu, tanggung jawab menyimpan file secara aman ada di tangan Netflix, bukan dibiarkan begitu saja di atas meja kantor yang bisa diakses siapa pun.
Poin sentral dalam gugatan ini bukan cuma soal file yang hilang, melainkan dampaknya terhadap nilai jual film itu sendiri. Eksklusivitas adalah salah satu nilai jual utama sebuah film yang belum tayang. Begitu ada kabar bahwa salinannya sempat dicuri, calon distributor mana pun wajib diberi tahu soal insiden ini sebelum bernegosiasi -- sesuatu yang berpotensi memengaruhi harga akuisisi, cakupan asuransi, hingga strategi pemasaran dan kampanye penghargaan film tersebut.
Ini bukan kali pertama "Fortitude" tersandung masalah hukum. Pada 2023, Afram sempat menggugat sutradara ternama Martin Scorsese, dengan tuduhan bahwa Scorsese menerima bayaran 500 ribu dolar AS untuk menjadi executive producer namun tidak melakukan apa pun untuk membantu proyek ini benar-benar terwujud. Tim hukum Scorsese membalas dengan gugatan balik, berdalih Afram adalah pendatang baru di industri film dengan ekspektasi yang tidak realistis. Kedua pihak akhirnya berdamai di luar pengadilan pada tahun berikutnya.
Film yang akhirnya rampung ini disutradarai Simon West -- yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan Cage lewat film aksi "Con Air" (1997) -- dan mengangkat kisah Dusko Popov, mata-mata ganda sungguhan pada masa Perang Dunia II yang disebut-sebut turut menginspirasi karakter James Bond ciptaan Ian Fleming. Selain Nicolas Cage, jajaran pemerannya mencakup Ben Kingsley dan Ron Perlman.
Dalam pernyataannya, Netflix juga menuding pengacara Afram bersikap tidak kooperatif, dengan menyebut permintaan kompensasi awal sempat mencapai 165 juta dolar AS sebelum akhirnya diajukan resmi di angka 105 juta dolar AS lewat gugatan ini.
Netflix menyebut hal itu sebagai sikap yang lebih mengarah pada upaya menekan perusahaan ketimbang menyelesaikan masalah secara kooperatif. Di sisi lain, Netflix menyatakan tetap mengambil langkah untuk membantu pihak pembuat film, termasuk memantau situs-situs pembajakan yang dikenal untuk mengantisipasi peredaran tidak sah atas materi film tersebut.
Belum ada keterangan resmi soal kapan proses persidangan ini akan berlanjut, atau apakah polisi sudah dilibatkan dalam penyelidikan pencurian tersebut. Gugatan Afram sendiri menyoroti bahwa Netflix sejauh ini enggan membagikan detail hasil investigasi internalnya kepada pihak produser.
Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda