Mantan Presiden Kosovo Hashim Thaci divonis 25 tahun penjara oleh Kosovo Specialist Chambers di Den Haag, Belanda, Rabu (16/9/2026), setelah dinyatakan bersalah atas sejumlah kejahatan perang — termasuk pembunuhan, penyiksaan, dan penahanan ilegal. Putusan ini langsung memicu bentrokan antara ratusan pendukung Thaci dengan aparat kepolisian di Pristina, Kosovo.
Kronologi Putusan dan Reaksi Massa
Bertepatan dengan pembacaan putusan terhadap Thaci dan sejumlah mantan anggota Tentara Pembebasan Kosovo (KLA) di persidangan Den Haag, ratusan pendukungnya berkumpul di Pristina — sebagian di antaranya terlihat membawa suar asap. Polisi dikerahkan dalam jumlah besar untuk mengamankan aksi tersebut.
Situasi memanas ketika sejumlah massa terlibat aksi saling dorong dengan aparat. Untuk mengurai dan membubarkan kerumunan, polisi menurunkan mobil water cannon di lokasi demonstrasi.
Sikap Thaci di Persidangan
Saat hakim membacakan vonis, Thaci dilaporkan berdiri diam. Ia sebelumnya telah membantah seluruh tuduhan yang diajukan terhadapnya, dan hingga kini masih memiliki hak untuk mengajukan banding atas putusan tersebut — artinya, proses hukum terhadap Thaci belum sepenuhnya berakhir.
Latar Belakang: Komandan KLA di Konflik Kosovo-Serbia
Thaci dinyatakan bersalah melakukan kejahatan tersebut saat menjabat sebagai komandan tertinggi Tentara Pembebasan Kosovo (KLA) — kelompok bersenjata etnis Albania — selama konflik Kosovo melawan Serbia pada 1990-an.
Perlu dipahami konteks sensitif di balik kasus ini: Thaci tetap dihormati oleh banyak warga etnis Albania Kosovo, sementara pengadilan kejahatan perang yang memvonisnya ini justru tidak populer di kalangan masyarakat Kosovo secara umum. Perbedaan pandangan inilah yang turut menjelaskan mengapa vonis ini memicu reaksi keras dari para pendukungnya.
Putusan ini pun mendapat perhatian luas, baik di Kosovo maupun Serbia. Konflik bersenjata pada 1998-1999 serta deklarasi kemerdekaan Kosovo pada 2008 hingga kini masih menjadi sumber ketegangan yang belum sepenuhnya reda antara warga etnis Albania Kosovo dan etnis Serbia.
Vonis terhadap Hashim Thaci menandai babak penting dalam upaya pertanggungjawaban hukum atas kejahatan perang era konflik Kosovo-Serbia — namun sekaligus menegaskan betapa dalamnya perpecahan pandangan di antara masyarakat Kosovo sendiri soal legitimasi pengadilan yang memvonisnya. Dengan proses banding yang masih terbuka, babak berikutnya dari kasus ini masih akan terus berlanjut dan layak dipantau.
Catatan: Bahan foto asli untuk artikel ini merupakan galeri foto dengan keterangan gambar yang berulang beberapa kali secara identik. Tulisan ulang ini telah merapikan pengulangan tersebut menjadi satu narasi utuh tanpa duplikasi, sambil tetap mempertahankan seluruh informasi faktual yang termuat di dalamnya.


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda