Kemenangan 9-2 Indonesia atas Bangladesh sudah menyegel tiket final FIFA ASEAN Cup 2026. Tapi dramanya ternyata tidak berhenti saat wasit meniup peluit panjang. Berikut lima momen panas yang terjadi saat dan sesudah laga, dirangkum dari tayangan ulang dan sorotan media.
1. Ole Romeny murka, ternyata ada pemicunya
Di masa injury time, Ole Romeny terlibat keributan dengan pemain Bangladesh hingga beberapa pemain lain ikut berdatangan. Awalnya tak jelas apa pemicunya — sampai tayangan ulang mengungkap dugaan penyebabnya: pemain Bangladesh terlihat memegang area sensitif Romeny, yang langsung bereaksi. Momennya berlangsung sangat cepat dan tak tertangkap jelas di tayangan utama.
2. Gol kesembilan yang "aneh"
Gol penutup kemenangan — gol kelima sang striker malam itu — ramai dibicarakan karena tayangan ulang memperlihatkan bola dari umpan Romeny tampak mengenai area sensitif pencetak gol sebelum masuk ke gawang. Media sosial pun heboh dengan candaan, sampai muncul istilah bahwa Malaysia gagal ke final "gara-gara bagian tubuh" striker Indonesia.
3. Malaysia selebrasi terlalu dini, lalu menangis
Laga Malaysia kontra Singapura sudah lebih dulu berakhir 6-0. Para pemain Harimau Malaya pun merayakan kelolosan ke final — terlalu cepat. Saat mereka berpesta, Indonesia masih bermain dan mencetak dua gol di injury time (Kevin Diks menit 90+6 dan gol penutup 90+7). Ekspresi mereka berubah drastis: dari gembira menjadi terdiam dan kecewa hanya dalam hitungan menit.
Kekecewaan itu merembet ke tudingan. Winger Arif Aiman me-repost unggahan yang mempertanyakan perubahan injury time dari 2 menit menjadi 7 menit, bahkan muncul seruan memboikot turnamen. Padahal, perubahan itu punya penjelasan wajar: pertandingan beberapa kali terhenti karena pengecekan VAR dan insiden antar pemain.
4. Ragnar vs Hamzah Choudhury usai laga
Usai peluit panjang, Ragnar Oratmangoen bersama Shane Pattynama mendatangi area staf Bangladesh. Belum jelas pemicunya, namun tiba-tiba Hamzah Choudhury — mantan pemain Leicester City — terlihat mendorong Ragnar sambil menarik jersinya. Keduanya saling berhadapan sebelum dipisahkan rekan-rekannya.
Ironisnya, sebelum laga Choudhury justru menebar pujian untuk Indonesia. Gelandang 28 tahun itu menyebut duel kontra Garuda sebagai tolok ukur bagi Bangladesh — peringkat 182 FIFA melawan tim peringkat 117 yang diperkuat pemain-pemain liga top Eropa seperti Kevin Diks, Maarten Paes, dan Justin Hubner. Ia juga mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Indonesia.
5. Kevin Diks video call Jay Idzes
Momen hangat datang dari kapten timnas. Kevin Diks melakukan video call dengan Jay Idzes untuk ikut merayakan kelolosan ke final. Ia kemudian menyerahkan ponselnya kepada Ragnar dan Romeny — Ragnar langsung mengajak Jay bernyanyi bersama suporter yang memadati stadion.
Kritik dari seberang: Indonesia kehilangan efek kejutan
Di tengah euforia, pundit Malaysia Kish melontarkan kritik tajam. Menurutnya Indonesia sudah kehilangan efek kejutan sejak era Shin Tae-yong: permainan terlalu teratur, terlalu "Eropa", dan kaku. Pemain-pemain cepat penentu serangan balik seperti Yance Sayuri, Yakob Sayuri, dan Marselino Ferdinan dinilai tidak dimanfaatkan John Herdman — yang disebutnya sedang meracik tim untuk Piala Asia 2027. "Sepanjang pertandingan tadi malam, aku tidak merasa mereka menimbulkan ancaman apapun," ujarnya dari sudut pandang pendukung Malaysia.
Kritik boleh datang dari mana saja. Yang jelas, Garuda sudah di final dan akan menantang Thailand — selangkah lagi menuju trofi pertama dalam sejarah sepak bola Indonesia.


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda