Ribuan mahasiswa turun ke jalan secara serentak di berbagai kota pada Selasa (20/10/2026). Mereka menyampaikan kritik terhadap dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Salah satu titik konsentrasi massa ada di Yogyakarta, selain aksi yang juga digelar di Jakarta.
Di Yogyakarta, mahasiswa mulai berkumpul sejak siang hari di kawasan bekas tempat parkir Abu Bakar Ali, tidak jauh dari Jalan Malioboro. Dari titik kumpul itu, massa bergerak long march menuju kawasan Titik Nol kilometer, tepatnya di depan Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta. Mereka berasal dari berbagai kampus, baik organisasi BEM maupun elemen kemahasiswaan lainnya.
Sempat Berdialog dengan Pimpinan DPRD DIY
Sebelum beranjak ke Titik Nol, sebagian massa sempat berdialog dengan pimpinan DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta. Pertemuan itu tidak berjalan mulus. Sempat terjadi ketegangan karena sebagian tuntutan yang disampaikan mahasiswa dinilai di luar kewenangan pimpinan DPRD DIY, hingga akhirnya rombongan pimpinan dewan meninggalkan lokasi. Situasi kemudian kembali kondusif dan massa bersiap melanjutkan long march.
Aparat kepolisian menutup arus lalu lintas di kawasan Jalan Malioboro selama aksi berlangsung. Warga yang hendak melintasi kawasan tersebut diminta mencari jalur alternatif. Polisi juga menerapkan pengalihan arus secara situasional.
Tuntutan: MBG hingga Karhutla
Sejumlah tuntutan disuarakan massa. Di antaranya permintaan evaluasi terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan program Koperasi Desa Merah Putih. Mahasiswa juga menolak kebijakan efisiensi anggaran yang menyasar sektor pendidikan dan kesehatan, dua bidang yang menurut mereka justru harus menjadi prioritas pemerintah.
Isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), antara lain yang terjadi di Kalimantan, turut menjadi pemicu orasi. Massa menilai penanganan karhutla yang tak kunjung tuntas menjadi bukti kegagalan pemerintah dalam menjaga lingkungan.
Aksi di Jakarta: Demo dan Spanduk Greenpeace
Di Jakarta, mahasiswa menggelar demonstrasi di kawasan Tugu Proklamasi dan bergabung dengan koalisi masyarakat sipil. Pada saat yang sama, Greenpeace Indonesia membentangkan dua spanduk raksasa dari atas Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia.
Dua spanduk berlatar kuning itu bertuliskan "Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup" serta "Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?". Salah satunya dibentangkan menghadap ke arah Istana Merdeka. Enam aktivis Greenpeace yang memanjat monumen kemudian dievakuasi dan dibawa ke Klinik Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Metro Jaya untuk pemeriksaan.
Kami mengutamakan keselamatan jiwa raga kepada saudara-saudara kita yang sedang mengekspresikan pendapatnya di atas Patung Selamat Datang.
Kombes Pol Reynold E.P. Hutagalung, Kapolres Metro Jakarta Pusat
Reynold menjelaskan keenam aktivis terdiri atas dua perempuan dan empat laki-laki. Kepolisian menyiapkan enam unit ambulans untuk mendukung proses evakuasi dan penanganan medis. Salah satu aktivis perempuan terlihat lemas saat turun dari monumen.
Sumber: KompasTV


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda