Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam rasisme di masyarakat Prancis setelah seorang pria bersenjata melepaskan tembakan dari mobil di sebelah barat Paris pada Jumat, menewaskan satu orang dan melukai lima orang lainnya. Macron menyebut peristiwa itu sebagai serangan teroris rasis.
Macron mendatangi lokasi penembakan di Trappes pada Jumat malam. Ia mengatakan sangat berduka atas serangan yang disebutnya sudah direncanakan itu. Gadis berusia 12 tahun yang ditembak delapan kali dirawat di rumah sakit.
“Apa yang terjadi hari ini menandai titik balik bagi negara kita; apa yang terjadi hari ini adalah serangan teroris dan rasis,” kata Macron.
Menurut Macron, pelaku menargetkan orang-orang karena warna kulit mereka. Ia menilai rasisme kerap menjadi bagian dari wacana yang mengambang di Prancis dan menciptakan suasana tertentu. “Jangan biarkan serangan teroris ini memecah belah kita,” ujarnya, sembari menyerukan rasa hormat dan persatuan.
Korban dan Kronologi Penembakan
Wali Kota Trappes Ali Rabeh mengatakan pelaku berangkat dengan mobil pada Jumat pagi sambil menembak secara acak dan ingin menimbulkan pertumpahan darah, saat melintasi kota itu dan kota tetangga La Verrière. Rabeh menyebut serangan itu secara objektif merupakan serangan rasis, kemungkinan juga Islamofobia.
“Seorang gadis berusia 12 tahun berada di antara hidup dan mati setelah menjadi sasaran rentetan tembakan senjata otomatis di negara kita. Kejahatannya kemungkinan karena ia berkulit berwarna.” — Ali Rabeh, Wali Kota Trappes
Rabeh, yang keluarganya berakar dari Maroko, mengatakan orang-orang yang menjadi sasaran hari itu bisa saja ibunya, saudara-saudaranya, atau saudari iparnya. Ia menilai peristiwa ini kemungkinan merupakan salah satu upaya pertama kejahatan massal bernuansa Islamofobia dan rasisme.
Korban tewas diidentifikasi sebagai Pengo Bossio Wangi, seorang pemuda kulit hitam, lewat unggahan akademi bela diri campuran tempatnya berlatih. Akademi Atch mengenangnya sebagai sosok yang menjadi teladan, dengan senyum, energi, dan kemurahan hati yang akan selalu dikenang.
Penyiar publik Prancis melaporkan pelaku mula-mula menembak mati pemuda itu, lalu menargetkan seorang perempuan berhijab, sebelum menembak gadis 12 tahun tersebut. Di La Verrière, dua korban luka adalah petugas kebersihan keturunan Afrika yang sedang merapikan sekolah pada Jumat pagi, kata Wali Kota La Verrière Nicolas Dainville kepada kantor berita AFP.
Tersangka dan Penyelidikan
Tersangka berusia 39 tahun yang dihentikan polisi di dalam mobilnya diidentifikasi jaksa antiterorisme Prancis sebagai Kevin T. Ia melintasi Trappes dan La Verrière di wilayah Yvelines sekitar pukul 10.30 pagi. Selama 15 menit, ia berulang kali menembakkan senjata otomatis, pertama di sebuah stasiun bahan bakar, lalu di pusat medis, dan kemudian di taman bermain anak.
Saat dihentikan, polisi menemukan senjata mesin sten — senjata mesin ringan Inggris dari era Perang Dunia II — serta granat gas air mata di mobilnya. Pihak berwenang juga menyebut rumahnya dipasangi perangkap berupa tabung gas dan kabel listrik yang terhubung ke pewaktu, dan seorang anggota keluarganya ditangkap untuk dimintai keterangan.
Jaksa antiterorisme menyelidiki apakah pelaku menargetkan ras, etnis, kebangsaan, atau agama korban yang sebenarnya atau yang diasumsikan. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengatakan penyelidikan masih berjalan, tetapi jelas ini adalah kejahatan teroris yang sangat serius.
Prancis di Tengah Ketegangan
Penembakan ini terjadi di tengah ketegangan di Prancis. Pada Sabtu sebelumnya, kerusuhan menjadi salah satu hari kerusuhan paling keras dalam beberapa tahun terakhir: gedung publik dibakar, ratusan toko dirusak dan dijarah, dan sedikitnya 2.400 orang ditangkap di berbagai kota. Protes lanjutan atas kekurangan guru, gedung sekolah menengah yang rusak, dan tingginya biaya hidup diperkirakan berlangsung pada Sabtu berikutnya.
Pemimpin partai sayap kanan anti-imigrasi National Rally, Marine Le Pen, kini unggul dalam jajak pendapat menjelang pemilihan presiden musim semi mendatang, saat Macron mengakhiri masa jabatannya. Setelah serangan di Trappes, kandidat dari Partai Komunis Fabien Roussel menulis di media sosial bahwa kubu sayap kanan bertanggung jawab atas kebencian rasis di Prancis, sementara Le Pen mengecam apa yang disebutnya motif rasisme yang keji dari tindakan barbar itu.
Sumber: The Guardian


Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda