Breaking
Memuat breaking news...

Lulusan Baru Matematika Bisa Digaji Rp16 Miliar Setahun, Ini Alasan di Balik Perang Talenta Wall Street vs AI

Redaksi
Redaksi
Jumat, 31 Juli 2026 - 6.54 AM WIB
Lulusan Baru Matematika Bisa Digaji Rp16 Miliar Setahun, Ini Alasan di Balik Perang Talenta Wall Street vs AI
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Belum lulus kuliah, sejumlah mahasiswa jurusan matematika dan ilmu komputer di kampus-kampus top dunia sudah mengantongi tawaran kerja senilai 1 juta dolar AS -- setara sekitar Rp18 miliar. Bukan untuk posisi eksekutif senior, melainkan untuk pekerjaan pertama mereka setelah wisuda.

Fenomena ini, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal akhir Juli lalu, dipicu oleh perang perebutan talenta antara firma trading kuantitatif Wall Street dan laboratorium kecerdasan buatan (AI) seperti OpenAI dan Anthropic. Kedua industri kini mengincar kelompok orang yang sama: lulusan dengan kemampuan matematika tingkat tinggi yang bisa mengolah machine learning dan large language model (LLM).

Selama bertahun-tahun, firma trading kuantitatif seperti Jane Street dan Optiver mengandalkan model matematika rumit untuk menghasilkan keuntungan dari pasar finansial. Namun belakangan, firma-firma ini mulai bergeser ke pendekatan berbasis machine learning dan LLM -- teknologi yang sama persis dengan yang dikembangkan laboratorium AI generatif. Pergeseran itulah yang membuat Wall Street tiba-tiba jadi pesaing langsung Silicon Valley dalam merekrut spesialis AI.

Matt Stabile, pendiri firma rekrutmen Stabile Search, menyebut ada titik pembeda yang jelas dalam sejarah gaji di sektor ini: sebelum dan sesudah kemunculan OpenAI. Menurutnya, itulah momen ketika persaingan gaji benar-benar meledak. Ia menambahkan bahwa dulu paket kompensasi tujuh digit untuk lulusan baru adalah hal langka, tapi kini angka semacam itu nyaris tak lagi mengejutkan siapa pun di industri ini.

Sebagai gambaran, paket standar di firma trading papan atas biasanya berkisar 350 ribu hingga 500 ribu dolar AS. Tapi angka itu bisa melonjak drastis dalam praktiknya. Kevin Cassata, pendiri firma pencarian eksekutif Karbon Agency, menceritakan bagaimana sejumlah portfolio manager bahkan melompati skema gaji standar demi mengunci mahasiswa magang terbaik sebelum mereka sempat melamar ke perusahaan lain -- kadang dengan tawaran kembali senilai 700 ribu dolar AS begitu masa magang usai.

Cassata bahkan pernah melihat tawaran untuk posisi level pemula menyentuh 1,5 juta dolar AS, sebuah situasi yang ia samakan dengan perang tawar-menawar pemain bebas di dunia olahraga profesional.

Angka-angka fantastis ini jadi lebih mudah dipahami begitu melihat skala keuntungan firma-firma trading kuantitatif. Jane Street, misalnya, membukukan laba 10,3 miliar dolar AS hanya dalam kuartal pertama 2026 -- hampir dua kali lipat gabungan laba Goldman Sachs dan Morgan Stanley pada periode yang sama, meski jumlah karyawannya jauh lebih sedikit dibanding dua bank raksasa itu.

Dengan keuntungan sebesar itu, tak heran bila firma-firma semacam ini sanggup bersaing gaji dengan perusahaan teknologi raksasa yang selama ini dikenal royal terhadap talenta AI.

Untuk mengunci talenta sedini mungkin, firma-firma ini pun mulai mendekati calon karyawan jauh sebelum mereka lulus kuliah. Optiver, salah satu firma market-making terkemuka, diketahui mensponsori sejumlah grandmaster catur, menggelar berbagai acara di kampus, hingga menerbangkan mahasiswa untuk berkunjung langsung ke kantornya.

Saat ini, 70 persen posisi lulusan baru di Optiver diisi lewat jalur program magang, dan perusahaan berencana suatu saat merekrut seluruh karyawan level pemula lewat jalur yang sama.

Charlie Whitmer, chief operating officer Optiver untuk wilayah AS, menyebut tekanan kompetitif terhadap gaji ini sebagai konsekuensi wajar ketika permintaan terhadap orang-orang berbakat semakin tinggi dari yang pernah terjadi sebelumnya.

Selain soal uang, kecepatan melihat hasil kerja juga jadi daya tarik tersendiri. Andrew Lai, yang menyelesaikan program doktor ilmu komputer di Massachusetts Institute of Technology (MIT) sebelum bergabung penuh waktu di Optiver, mengatakan ia lebih memilih jalur ini karena bisa segera melihat dampak nyata dari hasil risetnya -- dibanding riset akademik yang prosesnya jauh lebih panjang.

Menurutnya, sekitar sepertiga rekan satu labnya semasa program doktoral memilih masuk ke dunia keuangan kuantitatif, dan porsi yang sama beralih ke industri teknologi.

Daniel Wu, lulusan ilmu komputer Stanford yang bergabung dengan sebuah firma kuantitatif pada 2021, mengakui besaran kompensasi menjadi pertimbangan besar baginya kala itu, mengingat firma-firma kuantitatif memberikan tawaran finansial paling kompetitif dibanding pilihan lain yang tersedia.

Pergeseran preferensi ini mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan akademisi. Di Mathematical Institute, Universitas Oxford, magang musim panas dengan bayaran lebih dari 30 ribu dolar AS per bulan kerap membuat mahasiswa program doktoral membatalkan rencana berkarier di jalur akademik.

Lulusan yang masuk ke industri finansial umumnya mendapat paket antara 300 ribu hingga 1 juta dolar AS, dengan mereka yang berspesialisasi dalam large language modeling biasanya mendapat angka di ujung atas kisaran tersebut.

Alvaro Cartea, profesor matematika Oxford sekaligus direktur Oxford-Man Institute, menyebut begitu mahasiswa merasakan langsung besarnya penghasilan yang bisa mereka dapat di industri, mayoritas dari mereka akan lebih memilih jalur itu ketimbang akademik. Ia menegaskan godaan semacam ini sangatlah kuat untuk ditolak.

Belum ada data resmi yang mengukur secara pasti berapa banyak talenta matematika dan sains komputer terbaik dunia yang akhirnya benar-benar meninggalkan jalur riset akademik akibat tren ini. Namun dari pola yang tergambar di dua kampus elite seperti MIT dan Oxford, arah pergeserannya sudah cukup jelas: uang besar dari Wall Street dan laboratorium AI kini menjadi magnet yang sulit ditandingi ruang kuliah maupun laboratorium riset kampus.

Tambahkan QAPLO sebagai sumber utama Google Discovery
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait