Limbah dan Puing dari Gaza Disebut Picu Krisis Kesehatan di Wilayah Israel

Kehancuran infrastruktur di Jalur Gaza akibat serangan militer Israel dilaporkan menimbulkan dampak balik yang serius bagi Israel sendiri. Limbah beracun, kotoran manusia, hingga puing-puing bangunan dari Gaza disebut telah menyebar luas dan memicu kekhawatiran krisis kesehatan masyarakat di wilayah Israel.

Limbah Cair Gaza Mengalir ke Perairan Israel

Mengutip Al Jazeera, Selasa (1/9/2026), rusaknya infrastruktur listrik dan sanitasi di Gaza dilaporkan menyebabkan lebih dari 100.000 meter kubik limbah mentah yang belum diolah tumpah ke Laut Mediterania setiap harinya. Krisis ini disebut mendorong Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama perwakilan Dewan Perdamaian untuk sepakat membentuk kelompok kerja khusus guna menanganinya.

Menurut laporan tersebut, arus laut yang bergerak ke utara membawa limbah itu langsung masuk ke perairan Israel. Kondisi ini bahkan disebut memaksa pabrik desalinasi Ashkelon di Israel selatan ditutup berkali-kali, akibat tingginya kontaminasi bakteri tinja serta munculnya alga beracun di area tersebut.

Penulis sekaligus manajer di Galilee Foundation, Dianne Woodward, menyoroti dampak limbah patogen ini terhadap kehidupan laut, baik di wilayah Israel maupun Palestina. Menurutnya, kontaminasi ini berpotensi memengaruhi hasil tangkapan ikan konsumsi para nelayan. Ia menjelaskan bahwa karena ikan bermigrasi melintasi batas maritim, makanan laut yang terkontaminasi berpotensi menimbulkan risiko kesehatan langsung, baik bagi konsumen di Palestina maupun Israel.

Puing Gaza Dipindahkan ke Lokasi Rahasia

Selain krisis limbah cair, otoritas Israel dilaporkan mulai memindahkan sebagian dari perkiraan 60 juta ton puing di Gaza ke sejumlah lokasi yang dirahasiakan, baik di dalam wilayah Israel maupun di Tepi Barat yang diduduki. Pemantau Euro-Med Monitor mencatat sekitar 100 truk Israel meninggalkan Jalur Gaza setiap harinya dengan membawa puing-puing yang terkontaminasi.

Menurut laporan tersebut, reruntuhan ini berisiko tinggi karena diduga mengandung logam berat, asbes, sisa bahan peledak yang belum meledak, hingga materi biologis dan patogen dari jasad manusia yang membusuk di area tersebut. Pemindahan puing lintas wilayah yang dinilai tidak mematuhi protokol lingkungan ini disebut berpotensi mengancam keselamatan personel lapangan maupun sekitar 700.000 pemukim di Tepi Barat.

Tudingan Upaya Menghilangkan Bukti

Sejumlah kelompok, sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut, turut menuding pemindahan puing ini sebagai upaya menghilangkan bukti dugaan kejahatan genosida di sejumlah lokasi yang diduga menjadi kuburan massal — tudingan yang hingga kini masih menjadi bagian dari perdebatan hukum internasional dan belum memiliki putusan final. Kelompok lingkungan seperti EcoPeace disebut telah lama memperingatkan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza pada akhirnya akan berdampak langsung pula terhadap Israel.

Woodward turut mencontohkan langkah mantan Wali Kota Yerusalem, Teddy Kollek, pada 1990 yang membangun saluran pembuangan untuk kawasan permukiman warga Arab, semata-mata untuk mencegah wabah kolera menyebar ke wilayah Yerusalem Barat. Ia menegaskan, apabila Israel tidak mengikuti protokol lingkungan secara ketat, penduduknya sendiri berisiko menanggung konsekuensi serupa dengan yang dialami warga Palestina, yang menurutnya kesejahteraannya selama ini diabaikan.

Catatan: Berita ini merangkum laporan Al Jazeera yang mengutip sejumlah kelompok lingkungan dan kemanusiaan. Sejumlah karakterisasi dan tudingan di dalamnya — termasuk istilah "genosida" — merupakan pandangan dari kelompok-kelompok tersebut dan masih menjadi bagian dari perdebatan hukum dan politik internasional yang belum final.