Breaking
Memuat breaking news...

Laporan Reuters: Iran Diduga Kirim Personel IRGC dan Perlengkapan Militer ke Yaman

Qaplo
Qaplo
Sabtu, 25 Juli 2026 - 8.42 AM WIB
Laporan Reuters: Iran Diduga Kirim Personel IRGC dan Perlengkapan Militer ke Yaman
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

QAPLO - Laporan terbaru menyebut Iran diduga mengirim personel elite Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC), penasihat militer, serta perlengkapan yang berkaitan dengan rudal dan drone ke Yaman pada pertengahan Juli 2026. Informasi tersebut muncul ketika ketegangan di kawasan Laut Merah kembali meningkat dan jalur pelayaran internasional menghadapi ancaman baru.

Laporan yang dikutip dari Reuters itu mengacu pada keterangan empat sumber berbeda, yakni dua sumber dari Iran, Menteri Informasi pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, serta seorang analis keamanan regional. Hingga kini, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, sementara Iran dan kelompok Houthi telah membantah tuduhan tersebut.

Menurut sumber Reuters, sebuah pesawat milik Mahan Air berangkat dari Teheran menuju Yaman pada 13 Juli 2026. Dua sumber Iran menyebut penerbangan itu membawa sekitar 10 hingga 21 personel IRGC, termasuk sejumlah komandan senior.

Pesawat semula dijadwalkan mendarat di Bandara Sanaa yang berada di bawah kendali Houthi. Namun, rute penerbangan berubah menuju pelabuhan Hodeidah setelah Bandara Sanaa dilaporkan menjadi sasaran serangan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.

Salah satu sumber menyatakan personel tersebut dikirim untuk mendukung operasi Houthi sekaligus memberikan pelatihan terkait sistem rudal baru. Sumber yang sama juga mengklaim pesawat membawa emas yang disebut akan digunakan untuk mendanai aktivitas kelompok tersebut. Klaim ini belum mendapat konfirmasi dari pihak independen.

Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan tanggapan resmi terhadap laporan Reuters tersebut. Namun, Teheran selama ini berulang kali membantah memasok sistem rudal maupun mengirim personel militer guna memperkuat Houthi.

Di sisi lain, pejabat media Houthi, Abdel Rahman al-Ahnomi, yang mengaku berada di dalam penerbangan tersebut, menolak seluruh tuduhan. Ia menyebut laporan mengenai keberadaan ahli militer Iran sebagai informasi yang tidak benar dan menegaskan seluruh penumpang merupakan warga sipil.

Kelompok Houthi juga kembali menegaskan bahwa mereka bukan kelompok proksi Iran serta mengklaim mengembangkan kemampuan persenjataannya secara mandiri.

Laporan tersebut muncul ketika situasi keamanan di Laut Merah kembali memburuk. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Iran disebut meminta Houthi bersiap menutup jalur ekspor minyak di Laut Merah apabila Amerika Serikat menyerang infrastruktur energi Iran.

Beberapa hari kemudian, Houthi mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi sebagai respons atas serangan terhadap Bandara Sanaa yang mereka tuduhkan dilakukan Riyadh. Kelompok itu juga mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Saudi.

Apabila situasi terus meningkat, jalur pelayaran di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab berpotensi menghadapi gangguan. Kawasan tersebut merupakan salah satu rute perdagangan internasional yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa.

Menteri Informasi pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, Moammar al-Iryani, mengatakan informasi mengenai kedatangan personel IRGC diperoleh dari data intelijen.

Menurutnya, keberadaan personel tersebut bertujuan memperkuat kemampuan militer Houthi sekaligus meningkatkan kapasitas kelompok itu dalam mengancam keamanan pelayaran internasional di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.

Analis keamanan regional Mzahem Alsaloum juga menyampaikan penilaian serupa. Ia mengklaim pesawat tersebut membawa komponen rudal jarak pendek, rudal jarak menengah, serta drone yang disebut memiliki karakteristik serupa dengan sistem persenjataan yang pernah digunakan dalam serangan terhadap Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Namun, klaim tersebut juga belum memperoleh konfirmasi independen maupun tanggapan resmi dari Iran.

Sebelumnya, Houthi mengumumkan pembukaan penerbangan langsung antara Sanaa dan Teheran. Kelompok itu menyatakan layanan tersebut bertujuan mempermudah mobilitas warga Yaman sekaligus mengurangi dampak pembatasan transportasi udara yang mereka tuduhkan diberlakukan Arab Saudi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan penerbangan pada 13 Juli digunakan untuk memulangkan delegasi Houthi yang menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, serta sejumlah warga Yaman yang sebelumnya menjalani perawatan medis di Iran.

Menurut Reuters, keempat sumber yang diwawancarai menyebut penerbangan tersebut memang membawa kembali anggota delegasi Houthi. Namun, mereka juga mengklaim terdapat personel IRGC dan penasihat militer di dalam pesawat yang sama. Informasi tersebut masih menjadi bagian dari laporan Reuters dan belum dapat dipastikan secara independen.

Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait