KANO, NIGERIA — Seorang tokoh media sosial populer di Nigeria yang dikenal lewat kritik tajamnya terhadap pemerintah ditemukan tewas terbunuh di rumahnya di Kano, wilayah utara Nigeria. Kabar ini terungkap dari pernyataan resmi keluarga dan kelompok hak asasi manusia pada Rabu, sebagaimana dikutip AFP, Jumat (11/9/2026).

Ibrahim Khalil Dan Shagamu (57) ditemukan tewas dengan luka di kepala pada Selasa malam oleh teman dan tetangganya, yang memanjat pagar rumahnya setelah gagal membuka pintu sejak Senin. "Ia terbunuh dengan luka parah di kepala," kata Aisha Sharu Lawan, kakak perempuan Dan Shagamu. "Pemandangannya sangat mengerikan. Kedua ponselnya hilang," tambahnya.

Dikenal Lewat Kritik Blak-blakan di Media Sosial

Dan Shagamu memiliki ratusan ribu pengikut di Facebook dan TikTok, dikenal lewat video-video kritisnya dalam bahasa Hausa yang menyoroti isu politik dan sosial lokal. Sebelum aktif di media sosial, ia sempat berkarier sebagai reporter di sebuah stasiun radio lokal yang didanai negara.

Penting dicatat: belum ada kepastian apakah kematiannya terkait langsung dengan pandangan politiknya. Namun Lawan mengatakan keluarganya mencurigai adanya unsur kesengajaan. "Temannya mengatakan dia berselisih paham dengan beberapa orang yang mengancam akan membunuhnya," katanya, sembari menyerukan penyelidikan dan penuntutan terhadap pelaku.

Amnesty International turut mengecam pembunuhan ini, menyatakan Dan Shagamu "dibantai secara brutal setelah dikalahkan oleh para pembunuhnya."

Bertepatan dengan Musim Kampanye Pemilu

Kematian ini terjadi ketika musim kampanye pemilu di Nigeria — negara terpadat di Afrika — mulai berjalan, menjelang pemilihan presiden yang dijadwalkan pada 16 Januari 2027.

Amnesty International mencatat bahwa pemilu di Nigeria kerap diwarnai kekerasan, dengan praktik perekrutan preman politik untuk mengintimidasi lawan dan membungkam perbedaan pendapat, termasuk membuat kekacauan saat demonstrasi maupun di tempat pemungutan suara demi menguntungkan kandidat tertentu. "Menjelang pemilu, kami terus menerima laporan meresahkan mengenai ancaman terhadap kehidupan dan intimidasi yang berhubungan dengan politik," kata organisasi tersebut.