Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Senin, 1 Juni 2026, ketika pasar kembali mencermati eskalasi militer di Lebanon Selatan. Perluasan operasi Israel di wilayah tersebut menambah kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah
Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Senin, 1 Juni 2026, ketika pasar kembali mencermati eskalasi militer di Lebanon Selatan. Perluasan operasi Israel di wilayah tersebut menambah kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan risiko pasokan energi global.
Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 07.45 WIB, harga minyak mentah Brent berada di level US$93,15 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI menguat ke posisi US$89,62 per barel.
Brent dan WTI merupakan dua acuan utama harga minyak dunia. Brent banyak digunakan sebagai rujukan pasar global, termasuk Asia dan Eropa, sedangkan WTI menjadi patokan utama minyak mentah Amerika Serikat. Pergerakan dua harga ini kerap menjadi sinyal awal bagi arah biaya energi dunia.
Kenaikan tersebut terjadi setelah harga minyak sempat tertekan pada perdagangan sebelumnya. Sentimen kemudian berbalik saat investor kembali memperhitungkan risiko geopolitik dari Timur Tengah.
Israel Dilaporkan Perluas Operasi di Lebanon Selatan
Sentimen pasar menguat setelah Israel dilaporkan memperluas operasi darat di Lebanon Selatan. Pemerintah Israel menyebut operasi itu ditujukan untuk menekan kekuatan Hizbullah, kelompok bersenjata yang berbasis di Lebanon dan memiliki hubungan dengan Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pasukannya bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon. Dalam bahan sumber, Israel juga disebut telah merebut Kastel Beaufort, benteng bersejarah yang berada di posisi strategis di Lebanon Selatan.
Pihak Israel mengklaim kawasan tersebut digunakan Hizbullah sebagai titik komando dan lokasi peluncuran serangan ke wilayah Israel utara. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dari bahan yang tersedia.
Di sisi lain, laporan dari Lebanon menyebut serangan Israel di wilayah selatan menimbulkan korban sipil. Kementerian Kesehatan Lebanon, sebagaimana dikutip dalam bahan sumber, menyebut delapan orang tewas dan belasan lainnya terluka dalam serangan di kawasan Deir Zahrani, Distrik Nabatieh.
Hizbullah juga disebut melakukan perlawanan terhadap pasukan Israel di sekitar Beaufort dan beberapa wilayah dekat Israel utara. Karena informasi berasal dari pihak-pihak yang terlibat konflik, perkembangan di lapangan perlu dibaca secara hati-hati.
Kastel Beaufort Jadi Sorotan
Kastel Beaufort menjadi perhatian karena memiliki nilai strategis dan historis. Benteng tersebut berada di Lebanon Selatan dan dikenal sebagai salah satu situs bersejarah di kawasan Levant.
Dalam bahan sumber disebutkan, Beaufort pernah berada di bawah kendali Israel sebelum penarikan pasukan pada tahun 2000. Perebutan kembali lokasi itu oleh militer Israel dinilai memiliki bobot simbolik dalam konflik Israel-Hizbullah.
Status sejarah situs tersebut juga memunculkan kekhawatiran. Bahan sumber menyebut UNESCO sebelumnya memasukkan Beaufort ke dalam daftar situs budaya Lebanon dengan perlindungan sementara tingkat tinggi. Jika situs bersejarah digunakan untuk kepentingan militer atau menjadi sasaran serangan, hal itu dapat memicu perdebatan hukum dan diplomatik.
Respons Internasional Menguat
Perluasan operasi Israel di Lebanon mendapat sorotan dari sejumlah negara. Qatar mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon serta hukum humaniter internasional.
Jerman menyampaikan kekhawatiran terhadap pergerakan militer Israel yang semakin jauh ke Lebanon Selatan. Pemerintah Jerman memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat memperburuk situasi dan memicu gelombang pengungsian baru.
Inggris juga menyerukan agar ruang diplomasi tidak semakin tertutup. Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper menyebut eskalasi militer di Lebanon telah menewaskan dan menggusur warga sipil serta merusak infrastruktur.
Namun, Inggris juga meminta Hizbullah menghentikan serangan terhadap Israel dan terlibat dalam negosiasi. Pernyataan itu menggambarkan dorongan sejumlah negara agar eskalasi tidak semakin melebar dan jalur diplomasi tetap terbuka.
Prancis disebut mendorong pembahasan darurat di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Presiden Emmanuel Macron menyatakan tidak ada alasan yang dapat membenarkan eskalasi yang berlangsung di Lebanon.
Mengapa Konflik Ini Mendorong Harga Minyak?
Harga minyak dunia sangat sensitif terhadap konflik di Timur Tengah. Kawasan ini merupakan salah satu pusat produksi, distribusi, dan jalur pelayaran energi global.
Di pasar komoditas, harga bisa bergerak hanya karena pelaku pasar memperhitungkan risiko pasokan, meski gangguan fisik belum terjadi. Ketika konflik meningkat, investor biasanya menilai kembali potensi gangguan produksi, pengiriman, dan keamanan jalur energi.
Selain konflik darat di Lebanon, pasar juga memperhatikan risiko keamanan di jalur maritim strategis seperti Selat Hormuz. Jalur ini disebut menjadi rute penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Jika keamanan pelayaran terganggu, biaya asuransi kapal, logistik, dan waktu pengiriman dapat meningkat. Tekanan semacam ini dapat ikut tercermin dalam harga minyak mentah dunia.
Dampaknya terhadap Indonesia
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia perlu dicermati karena dapat memengaruhi biaya energi, perdagangan, dan kebijakan harga bahan bakar minyak nonsubsidi. Meski begitu, perubahan harga minyak global tidak selalu langsung membuat harga BBM domestik naik pada hari yang sama.
Pemerintah dan badan usaha biasanya memperhitungkan sejumlah faktor, mulai dari harga minyak internasional, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya distribusi, pajak, hingga formula harga yang berlaku.
Pada 1 Juni 2026, PT Pertamina Patra Niaga menyesuaikan harga beberapa produk BBM nonsubsidi. Di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, Pertamax Turbo naik dari Rp19.900 menjadi Rp20.750 per liter.
Sementara itu, harga Dexlite turun dari Rp26.000 menjadi Rp23.000 per liter. Pertamina Dex juga turun dari Rp27.900 menjadi Rp24.800 per liter. Harga Pertamax, Pertamax Green, Pertalite, dan Biosolar tetap tidak berubah.
Bagi konsumen, kondisi ini menunjukkan bahwa harga BBM nonsubsidi dapat bergerak berbeda antarproduk. Bagi pelaku usaha, terutama sektor transportasi dan logistik, volatilitas harga energi perlu terus masuk dalam perhitungan biaya operasional.
Diplomasi Menjadi Penentu Arah Konflik
Perluasan konflik Israel-Lebanon berpotensi mempersulit upaya diplomasi di kawasan. Dalam bahan sumber disebutkan, perundingan yang dimediasi Washington sebelumnya belum menghasilkan kesepakatan akhir.
Posisi berbagai pihak juga belum bertemu. Israel menyatakan operasinya bertujuan menghadapi ancaman Hizbullah, sementara Lebanon dan sejumlah negara menilai perluasan serangan itu berisiko melanggar kedaulatan serta memperburuk krisis kemanusiaan.
Selama belum ada gencatan senjata yang dipatuhi semua pihak, pasar minyak kemungkinan masih akan sensitif terhadap kabar dari Timur Tengah. Risiko yang dicermati pasar bukan hanya harga energi, tetapi juga kemungkinan eskalasi yang dapat memperumit diplomasi regional.
Artikel ini disusun dari laporan pasar komoditas, pernyataan resmi pemerintah terkait, dan laporan kantor berita internasional.