Breaking
Memuat breaking news...

Klarifikasi Wamentan Sudaryono Pasca-Kericuhan Diskusi di UGM: Kami Hadir untuk Dialog Demokratis

Qaplo
Qaplo
Selasa, 16 Juni 2026 - 2.09 PM WIB
Klarifikasi Wamentan Sudaryono Pasca-Kericuhan Diskusi di UGM: Kami Hadir untuk Dialog Demokratis
Reading Comfort
adjust the font size

Qaplo.com (Yogyakarta) - Acara diskusi ilmiah di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta berakhir ricuh setelah sejumlah mahasiswa menggelar aksi protes keras. Menanggapi insiden tersebut, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono angkat bicara dan menegaskan bahwa kehadirannya bersama sejumlah pejabat negara lain murni untuk membuka ruang dialog yang demokratis.

Diskusi tersebut juga dihadiri oleh Menteri ATR/BPN Nusron Wahid serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Namun, situasi yang semula kondusif berubah tegang ketika massa mahasiswa merangsek masuk dan menuntut acara dihentikan.

Kronologi Kericuhan dan Pemicu Ketegangan

Menurut informasi yang dihimpun, diskusi sebenarnya sempat berjalan lancar selama sekitar 30 hingga 40 menit. Ketegangan mulai tersulut saat Budiman Sudjatmiko membahas mengenai mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, dengan melontarkan pernyataan agar tidak ada pihak yang mengganggu Tiyo.

Pernyataan tersebut memicu reaksi spontan dari mahasiswa yang hadir. Sejumlah mahasiswa langsung naik ke atas panggung sambil membentangkan spanduk bernada kritik tajam, seperti "UGM Menolak Pengkhianat Reformasi" dan "UGM Menolak Penjilat Rezim". Teriakan bernada protes juga terus menggema di dalam ruangan, disertai pelemparan gelas air mineral ke arah panggung.

Bantahan Melarikan Diri dan Klaim Tindakan Fisik

Akibat situasi yang dinilai tidak lagi kondusif, pihak keamanan memutuskan untuk mengevakuasi para pejabat tersebut keluar dari gedung. Namun, langkah evakuasi tidak berjalan mudah karena ratusan mahasiswa telah mengepung dan menghadang mobil dinas yang akan membawa mereka pergi.

Sudaryono membantah keras tudingan bahwa dirinya dan Nusron Wahid melarikan diri dari kejaran mahasiswa. Sebaliknya, ia menyatakan bahwa mereka justru turun dari mobil untuk menemui mahasiswa secara langsung di jalanan.

"Kalau ada yang mengatakan kami kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," ujar Sudaryono dalam keterangan tertulisnya.

Meski demikian, Sudaryono menyayangkan adanya tindakan anarkis dalam aksi tersebut. Ia mengaku sempat mengalami tindakan fisik dan pelemparan air sebelum akhirnya dievakuasi demi alasan keamanan.

Tanggapan Pemerintah Terhadap Kritik Mahasiswa

Dalam dialog darurat yang sempat berlangsung di atas aspal, perwakilan mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan dan kritik, khususnya terkait isu agraria dan dugaan penggusuran lahan. Menanggapi hal tersebut, Sudaryono menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti laporan mahasiswa secara langsung.

Ia bahkan menawarkan diri untuk meninjau langsung lokasi konflik agraria yang dikeluhkan mahasiswa, bahkan jika harus menggunakan dana pribadi. Langkah ini disebutnya sebagai bentuk komitmen pemerintah yang tidak antikritik.

"Kami siap berdialog dengan siapa pun atas dasar kecintaan pada negara. Kritik adalah bagian dari demokrasi, asalkan disampaikan dengan tetap saling menghormati," tambahnya.

Sudaryono juga menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa lain yang hadir dengan niat baik untuk menyerap ilmu namun terganggu oleh kericuhan tersebut. Ia menegaskan pihak pemerintah tetap terbuka untuk diundang kembali dalam forum diskusi mendatang, baik di Yogyakarta maupun Jakarta.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait