Breaking
Memuat breaking news...

Ketidakpastian Jelang Data Inflasi AS Menekan Pergerakan Rupiah

Qaplo
Qaplo
Selasa, 14 Juli 2026 - 10.58 AM WIB
Ketidakpastian Jelang Data Inflasi AS Menekan Pergerakan Rupiah
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Qaplo+Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada Selasa pagi melemah 6 poin atau 0,03 persen menjadi Rp18.115 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di Rp18.109 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan rupiah melemah karena pasar masih menunggu data inflasi AS.

“Saya memperkirakan rupiah bergerak terbatas di kisaran Rp18.060–Rp18.170 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp18.100–Rp18.120 per dolar AS. Biasanya masih cenderung lemah dan terbatas, bukan karena sentimen domestik sepenuhnya buruk, tetapi karena pasar masih menunggu data inflasi AS dan pernyataan ketua bank sentral AS pada 14 Juli,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Jika inflasi AS lebih rendah dari perkiraan dan nada bank sentral AS tidak terlalu ketat, lanjut dia, rupiah berpeluang menguat kembali ke kisaran Rp18.030–Rp18.080 per dolar AS. Namun, jika inflasi inti AS tetap tinggi atau pernyataan bank sentral AS terdengar lebih ketat, rupiah bisa menguji Rp18.180–Rp18.220 per dolar AS.

Pasar memperkirakan inflasi AS pada Juni melambat menjadi 3,9 persen secara tahunan, tetapi inflasi inti masih bertahan di 2,9 persen. Selain itu, pasar juga menantikan pernyataan Ketua Bank Sentral AS pada 14 Juli.

“Ini penting karena jika inflasi inti tetap membandel, ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi dan lebih lama akan menguat, dolar AS kembali diminati, dan rupiah kembali tertekan,” kata Kepala Ekonom Permata Bank.

Harga minyak juga menjadi tekanan penting seiring Brent naik 3,43 persen dalam sehari menjadi 78,6 dolar AS per barel dan sudah naik 29,2 persen sejak awal tahun. Biasanya, kenaikan harga minyak berdampak negatif bagi rupiah karena Indonesia masih merupakan pengimpor minyak mentah.

Apabila harga minyak bertahan tinggi, pasar akan menghitung risiko tambahan terkait impor energi, subsidi, inflasi, neraca transaksi berjalan, serta cadangan devisa.

Dari sisi domestik, ada sentimen positif dari S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat Indonesia di BBB dengan prospek stabil.

S&P menilai pelemahan fiskal dan eksternal Indonesia bersifat sementara, serta masih dapat ditopang oleh pemulihan penerimaan negara, ekspor komoditas, dan komitmen pemerintah untuk menjaga defisit di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun, S&P juga menyoroti bahwa rupiah sudah melemah sekitar 7 persen pada semester I dan tekanan fiskal serta eksternal masih perlu diwaspadai.

“Jadi, keputusan S&P membantu menahan tekanan, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah secara besar-besaran,” ungkap Josua. (ant)

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait