Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan bahwa Teheran akan menyasar kepentingan ekonomi Amerika Serikat secara menyeluruh apabila blokade maritim terhadap negaranya terus berlanjut. Pernyataan ini disampaikan di tengah ketegangan yang belum reda antara Iran dan AS terkait Selat Hormuz.

Klaim Iran soal Ekspor Minyak yang Kembali Normal

Menurut laporan stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, pada Kamis, Rezaei menegaskan pihaknya akan bertindak dengan intensitas dan kekuatan penuh terhadap kepentingan ekonomi AS jika blokade tidak dihentikan. Ia mengklaim Iran telah berhasil "mematahkan blokade maritim" selama masa gencatan senjata berlangsung, dengan mengekspor antara 70 juta hingga 80 juta barel minyak.

Rezaei juga mengklaim penjualan minyak Iran telah kembali ke tingkat sebelum sanksi diberlakukan. Selain mengosongkan stok minyak yang sebelumnya tertahan di kapal-kapal tanker, menurutnya Iran turut membuka jalur-jalur ekspor baru yang terus diperluas secara bertahap.

Peringatan soal Lebanon

Di luar isu blokade maritim, Rezaei turut menyinggung perkembangan situasi di Lebanon. Ia menyebut Beirut beserta wilayah pinggiran selatannya sebagai "garis merah" bagi Iran, menegaskan tidak ada pihak mana pun yang berhak bergerak mendekati kawasan tersebut. Menurutnya, Iran memantau situasi di sana dengan sangat serius.

Rezaei juga mengklaim Israel pada akhirnya akan terpaksa menarik diri dari wilayah-wilayah yang saat ini didudukinya di Lebanon.

Versi AS dan Latar Belakang Nota Kesepahaman

Klaim Iran ini berbeda dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump sebelumnya. Dalam pernyataan di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz dalam kondisi terbuka dan berada di bawah kendali AS, yang menurutnya juga tengah menjalankan blokade di wilayah tersebut.

Ketegangan ini berakar dari nota kesepahaman 14 poin yang ditandatangani Iran dan AS di Islamabad pada pertengahan Juni lalu, dengan mediasi Pakistan dan Qatar. Nota kesepahaman tersebut mencakup sejumlah ketentuan, di antaranya penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade laut oleh AS, serta dimulainya proses negosiasi lanjutan selama 60 hari.

Pihak Teheran menuding AS gagal memenuhi sejumlah ketentuan penting dalam nota kesepahaman tersebut, dan menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka sepenuhnya sampai Washington memenuhi komitmennya.

Catatan: Klaim-klaim dalam berita ini, baik dari pihak Iran maupun pernyataan Presiden AS Donald Trump, merupakan pernyataan resmi masing-masing pihak yang belum dapat diverifikasi secara independen oleh sumber pihak ketiga.

Sumber: Anadolu